← Beranda
Mengapa Seseorang Melakukan Breadcrumbing? Kenali Tanda dan Akar Emosi di Baliknya​
Rediva Ananda PutriJumat, 14 November 2025 | 22.30 WIB
Ilustrasi breadcrumbing (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dalam hubungan modern baik romantis maupun pertemanan sering muncul dinamika yang membingungkan ketika seseorang memberi perhatian, muncul, lalu menghilang, hanya untuk muncul kembali tanpa kejelasan. Fenomena inilah yang dikenal sebagai breadcrumbing.

Melansir dari laman Hello Sehat, breadcrumbing adalah perilaku memberi sinyal minat secara tidak konsisten, pelaku menjaga agar korbannya tertarik meskipun tak bermaksud membangun hubungan yang nyata.

Sedangkan menurut Alodokter, breadcrumbing termasuk bentuk pelecehan emosional yang memanipulasi seseorang dimana pelaku memberi harapan palsu, untuk kemudian menggantung atau mencabut kehadirannya tanpa penjelasan.

Karena sifatnya yang samar namun berdampak emosional kuat, memahami pengertian dan penyebab breadcrumbing menjadi penting agar seseorang bisa mengenali ketika dirinya sedang mengalami fenomena ini dan bukan hanya salah tafsir atau terus bertahan dalam ketidakjelasan.

Berikut adalah 6 penyebab seseorang melakukan breadcrumbing:

1. Ketidakmampuan atau Keengganan untuk Berkomitmen

Salah satu akar utama breadcrumbing adalah pelaku yang sebenarnya tidak siap atau tidak tertarik dengan komitmen, mereka mungkin menikmati perhatian dan interaksi tanpa ingin tanggung jawab yang lebih. 

2. Tak Ingin Melepaskan atau Mengakhiri Suatu Hubungan

Meski sudah tak bersama atau sudah ada hubungan lain, pelaku tetap melakukan breadcrumbing sebagai cara "mengamankan" opsi atau tetap merasakan kehadiran emosional seseorang tanpa kejelasan. 

3. Kebutuhan Akan Validasi dan Perhatian yang Mudah Didapatkan

Beberapa orang melakukan breadcrumbing karena mereka kekurangan koneksi emosional sehat atau merasa kesepian, mereka terus memberi "potongan perhatian" agar tetap merasa diinginkan tanpa harus benar-benar terlibat. 

4. Manipulasi dan Kontrol Emosional dalam Hubungan

Breadcrumbing bisa menjadi bagian dari rangkaian manipulasi emosional, pelaku memberi harapan sesaat, membuat korban merasa terikat, padahal tujuan utamanya adalah kontrol dan bukan membangun kedekatan asli.

5. Pola Komunikasi Digital yang Tak Konsisten

Dengan kemudahan media sosial dan aplikasi chat, breadcrumbing semakin sering terjadi melalui pesan singkat, tanda suka, komentar yang semuanya memberi kesan "ada" tapi tanpa tindakan konkret atau pertemuan nyata. 

6. Perbedaan Visi dan Ekspektasi yang Tidak Diungkapkan

Seringkali korban breadcrumbing mengalami rasa kebingungan karena mereka berharap hubungan itu akan berkembang, sementara pelaku tidak pernah mengungkapkan niat atau visi yang jelas yang membiarkan harapan tumbuh tanpa pondasi. 

Mengenali bahwa anda mungkin menjadi korban breadcrumbing adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan emosional anda. Breadcrumbing bisa menyebabkan perasaan bingung, frustasi, bahkan keraguan terhadap diri sendiri.

Ketika perilaku ini terus berlangsung, anda tidak sedang berurusan hanya dengan "salah pemahaman" melainkan dengan pola manipulatif yang bisa berdampak negatif pada kepercayaan diri dan kesejahteraan mental.

Jika anda merasa sering berada dalam hubungan atau interaksi yang memberi kepingan perhatian tanpa kepastian, ingatlah bahwa anda berhak mendapatkan kejelasan dan penghargaan yang utuh. Menyadari bahwa anda tidak sendiri dan bahwa fenomena ini punya nama adalah awal dari putaran baru yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih menghargai diri anda sendiri.

EDITOR: Candra Mega Sari