← Beranda
8 Cara Mengejar Kebahagiaan yang Justru Mendorong Hidup Menjadi Semakin Sengsara, Simak!
Aunur RahmanRabu, 22 Oktober 2025 | 16.55 WIB
Ilustrasi seseorang terlihat kelelahan dan sedih di tengah tumpukan barang yang ia anggap sebagai sumber kebahagiaan. (Freepik)

 

JawaPos.com - Mengejar kebahagiaan sering dianggap sebagai tujuan akhir hidup yang harus dicapai oleh setiap orang dengan berbagai cara.

Namun terkadang, upaya kita untuk meraih sukacita justru membawa kita ke jalan yang secara tidak sadar hanya membuat perasaan menjadi semakin buruk.

Ironisnya, banyak orang tidak menyadari bahwa cara mereka mencari kebahagiaan itu dapat berbalik dan menyerang mental mereka sendiri.

Mengenali pola umum dalam mengejar kebahagiaan ini bisa menjadi hal penting dan mengubah cara pandang Anda, sebagaimana dilansir dari Global English Editing.

Baca Juga: Rezekinya Semakin Menyala! 6 Weton Ini Dikenal Punya Energi Kaya Raya yang Tak Pernah Padam

1. Mengejar Kepemilikan Harta Benda

Kekayaan dan harta benda seringkali terlihat sebagai tujuan utama banyak orang dalam hidup dan dianggap sebagai kunci kebahagiaan yang sejati. Pemikiran sederhana bahwa lebih banyak barang berarti lebih banyak kebahagiaan ternyata tidak selalu benar. Fokus berlebihan untuk terus membeli barang baru justru dapat meningkatkan stres dan ketidakpuasan dalam hidup. Kita terperangkap dalam " hedonic treadmill " (roda hedonis) yang membuat kita terus mencari lebih banyak hal untuk memenuhi harapan yang selalu meningkat.

2. Menempatkan Kebahagiaan di Atas Segalanya

Beberapa orang memperlakukan kebahagiaan seperti piala yang harus dimenangkan setelah melewati berbagai perjuangan dan pengorbanan harian. Mengejar kebahagiaan seolah-olah itu adalah tujuan akhir dapat menjadi jebakan yang justru membuat Anda merasa kecewa setelahnya. Kebahagiaan yang dirasakan setelah mencapai target tertentu ternyata hanya bersifat sesaat saja, lalu target berikutnya sudah muncul kembali. Fokus yang terlalu besar pada upaya mengejar kebahagiaan membuat banyak orang lupa untuk menghargai momen sukacita yang muncul di keseharian.

3. Mengabaikan Hubungan Baik

Dalam upaya meraih kebahagiaan, kita sering memprioritaskan ambisi dan pencapaian pribadi, terkadang sampai mengorbankan hubungan penting dalam hidup. Padahal, sebuah studi Harvard yang berlangsung lebih dari 80 tahun menemukan bahwa hubungan dekat satu di antara kunci utama yang menjaga kebahagiaan seumur hidup. Memiliki orang yang dapat diandalkan ternyata membantu sistem saraf menjadi lebih rileks dan membuat otak tetap sehat dalam jangka waktu panjang. Oleh sebab itu, penting untuk memelihara dan menghargai hubungan yang dimiliki dan jangan menomor duakan orang-orang terpenting.

4. Menghindari Ketidaknyamanan

Banyak orang berupaya menghindari ketidaknyamanan dengan segala cara, seperti menghindari tantangan, percakapan sulit, hingga bersembunyi dari rasa takut di dalam diri. Padahal, ketidaknyamanan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan yang kita jalani. Justru melalui keberanian menghadapi rasa takut dan keluar dari zona nyaman, kita akan mendapatkan peluang untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Menghindari rasa tidak nyaman dapat menyebabkan stagnasi, lalu merampas kesempatan untuk belajar, dan akhirnya menghalangi jalan menuju kebahagiaan yang lebih besar.

5. Mencoba Mengendalikan Segalanya

Anda mungkin pernah terobsesi pada hal-hal yang berada di luar kendali Anda sendiri dalam hidup ini, padahal itu adalah jebakan umum yang sering terjadi. Kita percaya bahwa jika kita dapat mengendalikan setiap aspek kehidupan, maka kita akan meraih kebahagiaan yang diidamkan. Sayangnya, kehidupan ini penuh dengan ketidakpastian dan akan selalu ada hal-hal di luar kendali kita, tidak peduli seberapa banyak kita berencana. Mencoba mengendalikan segalanya hanya menyiapkan diri untuk merasa frustrasi dan kecewa saat kenyataan tidak berjalan sesuai harapan.

6. Mengabaikan Perawatan Diri

Berusaha keras tanpa henti dan mengorbankan waktu istirahat, makan, hingga tidur demi meraih kesuksesan adalah jalan pasti untuk merusak kebahagiaan sendiri. Anggapan bahwa dengan mendorong diri lebih keras maka kebahagiaan akan tercapai justru membuat diri semakin stres, kelelahan, dan sengsara. Tubuh dan pikiran kita bukanlah mesin, keduanya membutuhkan istirahat, nutrisi, dan perawatan agar dapat berfungsi secara optimal. Dalam mengejar kebahagiaan, jangan sampai lupa mengurus diri sendiri sebab Anda tidak dapat memberi dari sebuah cangkir yang kosong.

7. Hidup Terlalu Berlebihan di Masa Depan

Terlalu fokus pada proyeksi masa depan sering membuat kita berkata, "Saya akan bahagia jika..." lalu diikuti dengan pencapaian tertentu, seperti lulus, mendapat pekerjaan, atau pensiun. Meskipun memiliki cita-cita dan tujuan itu baik, namun hidup terlalu banyak di masa depan akan merampas sukacita yang ada di momen sekarang. Terus menerus melihat ke depan menciptakan celah kebahagiaan yang membuat kita tidak pernah benar-benar puas dengan keadaan saat ini. Sebaliknya, berlatih mindfulness dan bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini dapat secara signifikan meningkatkan perasaan bahagia yang sesungguhnya.

8. Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Di tengah dunia yang didominasi oleh media sosial, mudah sekali bagi kita jatuh ke dalam perangkap membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain. Perlu diingat, bahwa membandingkan adalah pencuri sukacita yang membuat Anda tidak pernah merasa cukup dan bahagia atas apa yang telah dimiliki. Kita seringkali membandingkan kehidupan nyata yang penuh kekurangan dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna dan telah dikurasi dengan sangat hati-hati. Fokuslah pada perjalanan Anda sendiri, karena kunci kebahagiaan bukanlah menjadi lebih baik dari orang lain, melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Pencarian kebahagiaan adalah naluri yang mendalam dalam diri setiap manusia, namun beberapa cara kita mengejarnya justru dapat membawa kita pada lebih banyak kesengsaraan. Penting untuk diingat bahwa konsep kebahagiaan bukanlah konsep yang berlaku untuk semua orang, sebab apa yang menyenangkan satu di antara individu mungkin tidak akan sama dengan yang lain. Keseimbangan sangat penting antara ambisi dan kepuasan, antara merencanakan masa depan dan hidup di masa kini, serta antara hubungan sosial dan kesendirian. Keseimbangan ini yang memungkinkan kita menghadapi pasang surut kehidupan sambil mempertahankan kedamaian dan rasa puas batin.

EDITOR: Novia Tri Astuti