JawaPos.Com - Ada sesuatu yang unik ketika kita membicarakan masa sekolah zaman dulu, khususnya di era 70-an.
Suasananya begitu berbeda dengan sekolah masa kini, mulai dari aturan yang keras, kebiasaan yang dianggap wajar padahal cukup berisiko, hingga cara guru mendisiplinkan murid yang mungkin sekarang sudah dianggap berlebihan.
Saat itu, anak-anak sekolah hidup di dunia yang penuh tantangan tetapi juga sarat cerita lucu dan pengalaman tak terlupakan.
Banyak hal yang dulu terlihat biasa, kini rasanya tidak masuk akal jika dipraktikkan lagi di sekolah modern.
Dari asap rokok yang bebas mengepul di lorong hingga hukuman fisik yang dijadikan alat mendidik, semuanya menjadi potongan sejarah pendidikan yang hanya bisa dikenang, bukan diulang.
Dilansir dari Geediting, inilah sepuluh momen sekolah tahun 70-an yang saat itu terasa normal, tetapi sekarang mustahil untuk ditemui lagi.
1. Lorong Sekolah Penuh Asap Rokok
Dulu, asap rokok bukan hal asing di sekolah. Bahkan beberapa guru dan staf merokok dengan santai di lorong, seakan itu hal yang wajar. Siswa pun melihatnya tanpa banyak protes.
Kini, bayangan tentang sekolah yang penuh asap rokok justru dianggap melanggar kesehatan dan peraturan keras.
2. Hukuman Fisik Jadi Alat Disiplin
Hukuman fisik, seperti berdiri berjam-jam, dijewer, atau bahkan dipukul dengan penggaris, pernah dianggap cara mendidik. Murid belajar untuk takut dan menurut.
Namun, di masa sekarang, pendekatan ini dianggap melanggar hak anak.
Cara mendisiplinkan murid sudah berubah menjadi lebih psikologis dan komunikatif.
3. Bus Sekolah Tanpa Sabuk Pengaman dan Penumpang Berdiri
Bayangkan naik bus sekolah tanpa sabuk pengaman, bahkan dengan murid berdiri berdesakan di dalamnya.
Hal ini dulu lumrah, karena keselamatan belum diprioritaskan seketat sekarang.
Kini, kondisi itu dianggap pelanggaran serius dan membahayakan keselamatan siswa.
4. Dipermalukan di Depan Umum sebagai Pelajaran
Murid yang tidak bisa menjawab atau melakukan kesalahan sering dipermalukan di depan kelas.
Entah disuruh berdiri, menulis di papan sampai berkali-kali, atau diejek secara halus.
Saat itu dianggap metode mendidik, tetapi sekarang praktik seperti itu dinilai merusak kepercayaan diri anak.
5. Selai Kacang Ada di Mana-Mana Tanpa Peduli Alergi
Zaman dulu, selai kacang ada di hampir semua kotak bekal sekolah. Tidak ada yang khawatir tentang alergi kacang atau makanan tertentu.
Kini, sekolah sangat ketat dalam aturan makanan, bahkan ada kebijakan “bebas kacang” untuk melindungi siswa dengan alergi.
6. Aturan Berpakaian Kaku dan Membatasi Gender
Anak laki-laki dan perempuan punya aturan berpakaian yang sangat berbeda dan ketat.
Laki-laki tidak boleh gondrong, perempuan harus memakai rok panjang tertentu, semua harus seragam sesuai aturan.
Di masa sekarang, sekolah lebih fleksibel dan sensitif terhadap keberagaman identitas serta kenyamanan murid.
7. Kunjungan Lapangan Tanpa Persiapan Panjang
Dulu, guru bisa tiba-tiba mengumumkan kunjungan lapangan besok tanpa banyak persiapan atau izin khusus dari orang tua. Murid tinggal ikut saja, seakan semuanya sederhana.
Kini, aturan izin orang tua, administrasi, dan prosedur keselamatan sangat detail dan tidak bisa dilakukan spontan.
8. Kelas Sains yang Jadi “Zona Eksperimen Berbahaya”
Pelajaran sains dulu sering dilakukan dengan bahan-bahan nyata yang sebenarnya cukup berisiko.
Murid bisa saja bermain dengan api, bahan kimia, atau peralatan tajam di laboratorium tanpa pengawasan seketat sekarang. Itu membuat pelajaran terasa seru, tapi jelas berbahaya.
9. Pelatih Olahraga yang Melarang Istirahat Minum Air
Pelatih olahraga di masa lalu sering percaya bahwa murid harus “tangguh”, bahkan sampai melarang mereka minum air saat latihan.
Sekarang, hal itu dianggap membahayakan kesehatan. Anak-anak didorong untuk menjaga hidrasi agar tubuh tetap sehat.
10. Kampus Sekolah Terbuka untuk Anak-Anak Kecil
Dulu, sekolah punya area yang lebih terbuka. Anak-anak bisa keluar-masuk dengan mudah tanpa pagar tinggi atau penjagaan ketat.
Saat ini, hampir semua sekolah menerapkan sistem keamanan ekstra, dari gerbang terkunci hingga petugas keamanan, demi melindungi murid.
***