JawaPos.com - Pernahkah kamu melihat benjolan kecil berwarna putih di area wajah yang terlihat seperti jerawat tapi tidak bisa dipencet? Kondisi ini mungkin lebih umum dari yang kamu bayangkan dan sering dialami oleh banyak orang dari berbagai kelompok usia. Meskipun tampak mengganggu penampilan, benjolan kecil ini sebenarnya tidak berbahaya bagi kesehatan. Namun, memahami kondisi ini dengan baik dapat membantu mengatasi dan mencegahnya dengan lebih efektif.
Banyak orang yang masih keliru membedakan antara jerawat biasa dengan kondisi kulit lainnya yang memiliki tampilan serupa. Benjolan putih kecil di wajah ini seringkali membuat seseorang merasa tidak percaya diri, terutama jika muncul di area yang mudah terlihat seperti pipi atau dahi. Berbeda dengan jerawat yang disebabkan oleh penyumbatan pori-pori dan bakteri, kondisi ini memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda. Mengenali perbedaan ini sangat penting agar kamu bisa memberikan perawatan yang tepat.
Milia adalah benjolan kecil berwarna putih atau kekuningan yang muncul di permukaan kulit, biasanya di area wajah. Benjolan ini terbentuk ketika keratin, yaitu protein alami yang ditemukan di kulit, terperangkap di bawah permukaan kulit dan membentuk kista kecil yang keras.
Ukuran milia biasanya sangat kecil, sekitar 1-2 milimeter, dan memiliki tekstur yang keras serta tidak menimbulkan rasa sakit. Berbeda dengan komedo atau jerawat, milia tidak memiliki lubang di bagian atasnya sehingga tidak bisa dipencet atau dikeluarkan isinya dengan mudah.
Kondisi ini dapat muncul pada siapa saja, mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang dewasa. Milia paling sering ditemukan di area sekitar mata, pipi, hidung, dan dahi, meskipun dapat juga muncul di bagian tubuh lainnya. Meskipun terlihat seperti jerawat putih kecil, milia tidak berhubungan dengan kondisi jerawat atau masalah kulit berminyak. Kehadirannya murni karena penumpukan keratin yang terperangkap di bawah lapisan kulit terluar.
Memahami penyebab milia sangat penting untuk mencegah kemunculannya di masa mendatang. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan terbentuknya kista keratin kecil ini di bawah permukaan kulit. Beberapa penyebab umum termasuk proses regenerasi kulit yang tidak sempurna, penggunaan produk perawatan kulit yang terlalu berat, atau bahkan faktor genetik. Pada bayi baru lahir, milia terjadi secara alami karena kelenjar kulit mereka yang belum berkembang sempurna.
Kerusakan kulit juga menjadi salah satu pemicu utama munculnya milia, terutama setelah kulit mengalami trauma seperti luka bakar, iritasi, atau paparan sinar matahari berlebihan. Penggunaan produk skincare yang terlalu tebal atau berminyak dapat menyumbat pori-pori dan menghambat proses pengelupasan sel kulit mati secara alami.
Selain itu, kurangnya eksfoliasi rutin membuat sel-sel kulit mati menumpuk di permukaan dan menjebak keratin di bawah lapisan kulit. Faktor usia juga berperan, karena seiring bertambahnya usia, proses regenerasi kulit cenderung melambat sehingga meningkatkan risiko terbentuknya milia.
Dilansir dari Cleveland Clinic, milia ternyata memiliki beberapa jenis yang berbeda berdasarkan penyebab dan karakteristiknya. Memahami jenis-jenis milia ini penting untuk menentukan pendekatan perawatan yang paling sesuai.
- Milia Neonatal
Jenis milia ini menyerang bayi baru lahir dan menyebabkan kista putih terbentuk pada kulit bayi, paling sering di area hidung atau sekitarnya. Milia neonatal sudah ada sejak bayi dilahirkan dan biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu tanpa memerlukan perawatan khusus.
- Milia Primer
Milia primer adalah kista kecil yang umum ditemukan di kelopak mata, dahi, pipi, atau area genital. Jenis ini dapat menyerang baik anak-anak maupun orang dewasa dan merupakan jenis milia yang paling sering ditemui.
- Milia Sekunder (Milia Traumatik)
Milia sekunder adalah kista kecil yang muncul setelah kulit mengalami kerusakan, baik akibat luka bakar, ruam, lepuhan, atau paparan sinar matahari berlebihan. Jenis ini juga dapat terbentuk sebagai reaksi terhadap penggunaan krim atau salep kulit yang terlalu berat.
- Milia Juvenil
Milia juvenil adalah kista yang merupakan gejala dari kondisi bawaan atau turunan. Jenis ini bisa sudah ada sejak lahir atau baru muncul di kemudian hari sebagai bagian dari kondisi genetik tertentu.
- Milia En Plaque
Jenis milia yang langka ini sering menyerang wanita berusia antara 40 hingga 60 tahun. Milia jenis ini mengelompok bersama membentuk bercak kulit yang menonjol, biasanya di belakang telinga, kelopak mata, pipi, atau rahang.
- Milia Eruptif Multipel
Kondisi langka ini menyebabkan kelompok kista terbentuk dalam periode beberapa minggu hingga bulan di area wajah, lengan atas, dan perut bagian atas. Kista dari jenis milia ini dapat menimbulkan rasa gatal yang mengganggu.
Cara Mengatasi dan Mencegah Milia
Meskipun milia umumnya tidak berbahaya, banyak orang yang ingin menghilangkannya karena alasan estetika. Oleh karena itu, Halodoc menyoroti beberapa cara efektif yang bisa kamu lakukan di rumah untuk mengatasi dan mencegah milia.
1. Menggunakan Krim Retinoid
Krim retinoid bekerja dengan meningkatkan pergantian sel kulit dan mencegah penyumbatan pori-pori yang dapat menyebabkan terbentuknya milia. Produk ini membantu mempercepat proses eksfoliasi alami kulit sehingga keratin yang terperangkap dapat terangkat ke permukaan. Retinoid juga dapat membantu mencegah pembentukan milia baru dengan menjaga pori-pori tetap bersih dan tidak tersumbat. Namun, penggunaan retinoid harus dilakukan secara bertahap dan sebaiknya dimulai dengan konsentrasi rendah untuk menghindari iritasi.
2. Rutin Membersihkan Area Milia
Membersihkan wajah secara teratur dengan pembersih yang lembut sangat penting untuk mencegah penumpukan kotoran dan minyak yang dapat memperburuk milia. Gunakan pembersih wajah yang sesuai dengan jenis kulitmu, idealnya dua kali sehari pada pagi dan malam hari. Pastikan untuk membersihkan wajah dengan gerakan memutar yang lembut tanpa menggosok terlalu keras agar tidak menyebabkan iritasi. Setelah membersihkan, tepuk-tepuk wajah dengan handuk bersih hingga kering, jangan menggosoknya.
3. Melakukan Penguapan
Teknik penguapan wajah dapat membantu membuka pori-pori dan melunakkan keratin yang terperangkap di bawah kulit. Kamu bisa melakukan steam facial dengan menempatkan wajah di atas mangkuk berisi air panas selama 5-10 menit. Uap air panas akan membantu melonggarkan pori-pori dan memudahkan pengeluaran sel kulit mati serta kotoran yang menyumbat. Lakukan penguapan ini secara rutin, sekitar 1-2 kali seminggu, untuk hasil yang optimal.
4. Lakukan Eksfoliasi secara Teratur
Eksfoliasi membantu mengangkat sel-sel kulit mati yang menumpuk di permukaan kulit dan dapat menyebabkan milia. Gunakan produk eksfoliasi yang mengandung AHA (Alpha Hydroxy Acid) atau BHA (Beta Hydroxy Acid) yang lebih lembut untuk kulit wajah. Lakukan eksfoliasi 2-3 kali seminggu, jangan terlalu sering karena dapat menyebabkan iritasi dan membuat kulit menjadi lebih sensitif. Pilih scrub dengan butiran yang halus atau eksfoliator kimia untuk hasil yang lebih aman dan efektif.
5. Selalu Menggunakan Tabir Surya
Paparan sinar matahari berlebihan dapat merusak kulit dan meningkatkan risiko terbentuknya milia, terutama milia sekunder. Menggunakan tabir surya dengan SPF minimal 30 setiap hari dapat melindungi kulitmu dari kerusakan akibat sinar UV. Tabir surya juga membantu menjaga kesehatan kulit secara keseluruhan dan mencegah penuaan dini yang dapat memicu berbagai masalah kulit termasuk milia. Aplikasikan tabir surya sekitar 15-20 menit sebelum keluar rumah dan ulangi setiap 2-3 jam sekali jika kamu beraktivitas di luar ruangan.
Namun, jika milia yang kamu alami tidak kunjung hilang dengan perawatan rumahan atau justru semakin banyak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kulit. Prosedur medis seperti laser ablation dapat membantu menghilangkan milia dengan cara menghancurkan kista keratin menggunakan energi laser yang terfokus.
Pilihan lain adalah chemical peeling yang menggunakan larutan kimia khusus untuk mengangkat lapisan kulit terluar sehingga membantu mengeluarkan keratin yang terperangkap. Dokter kulit juga dapat melakukan ekstraksi manual dengan alat steril yang aman dan efektif, memastikan milia dihilangkan tanpa meninggalkan bekas atau menyebabkan infeksi. Dengan penanganan yang tepat dari profesional, kulitmu dapat kembali bersih dan sehat tanpa gangguan milia yang membandel.