JawaPos.com – Mengapa beberapa orang sulit belajar saat malam hari?
Hal ini menjadi pertanyaan yang sering muncul, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa yang terbiasa begadang demi mengejar materi.
Banyak yang mengira otak bisa bekerja maksimal kapan saja selama kita memaksakannya, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Beberapa orang justru merasa buntu, sulit fokus, bahkan lebih mudah lelah saat mencoba belajar di malam hari.
Riset dari Estevan dkk. (2021) memberikan gambaran jelas tentang dampak belajar larut malam.
Hampir 60% mahasiswa di Amerika pernah melakukan all-nighter alias belajar semalaman penuh.
Namun, hasilnya justru kontraproduktif. mereka yang tidur cukup 8 jam sebelum ujian memiliki tingkat jawaban benar sebesar 77,1%, sedangkan yang begadang hanya mencapai rata-rata 52,3%.
Lebih menarik lagi, setiap tambahan 1 jam tidur sebelum tes meningkatkan peluang jawaban benar hingga 15%.
Artinya, otak kita memang tidak dirancang untuk bekerja optimal tanpa istirahat yang cukup.
Fenomena ini menguatkan satu hal belajar di malam hari bukan hanya soal kebiasaan, melainkan juga erat kaitannya dengan ritme biologis dan cara otak memproses informasi.
Lalu, apa saja faktor yang membuat sebagian orang kesulitan belajar di malam hari? Simak Penjelasan berikut yang dilansir dari studi oleh Perez dkk. (2024), Hershner dkk. (2023) dan Stanford Medicine.
Hubungan Antara Tidur dan Kemampuan Belajar
Kalau berbicara tentang mengapa sebagian orang sulit belajar di malam hari, kuncinya tidak bisa dilepaskan dari hubungan erat antara tidur dan fungsi otak.
Sejumlah penelitian, termasuk yang dilakukan oleh Fotuhi dan Carskadon, menunjukkan bahwa tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga fungsi kognitif sepanjang hidup.
Menariknya, beberapa studi bahkan menemukan bahwa perubahan pola tidur bisa muncul lebih dulu sebelum tanda-tanda gangguan kognitif seperti Alzheimer terlihat.
Artinya, tidur bukan sekadar waktu istirahat, tapi juga “fondasi” bagi kesehatan otak jangka panjang.
Fungsi tidur sendiri masih terus diperdebatkan, namun para ilmuwan sepakat bahwa tidur punya peran besar dalam menjaga energi, mengatur suhu otak, membersihkan racun metabolik, serta memperbaiki jaringan tubuh.
Lebih dari itu, tidur juga diyakini memberi kesempatan bagi otak untuk melakukan plasticity—yakni kemampuan beradaptasi dan membentuk koneksi baru—yang sangat penting untuk proses belajar dan memori.
Saat kita belajar, memori terbentuk melalui dua tahap utama: encoding dan consolidation. Di tahap encoding, otak—khususnya hippocampus—merekam informasi baru.
Namun ingatan ini masih rapuh dan mudah terganggu. Baru setelah masuk ke tahap konsolidasi, jejak memori itu dipindahkan ke neokorteks dan menjadi lebih permanen.
Hal yang menarik, proses konsolidasi ini sebagian besar justru terjadi saat kita tidur, khususnya pada fase slow-wave sleep (tidur gelombang lambat).
Di sinilah otak seperti “mengulang pelajaran”, mengaktifkan kembali memori yang baru terbentuk, lalu menyimpannya ke gudang jangka panjang.
Bukti eksperimen pun mendukung.
Misalnya, penelitian yang melibatkan mahasiswa dalam permainan koordinasi bimanual menunjukkan bahwa performa motorik mereka membaik setelah tidur semalaman, tetapi tidak ada peningkatan setelah periode terjaga.
Studi lain menggunakan permainan video first-person shooting menemukan hal serupa yaitu kinerja memburuk setelah 12 jam tanpa tidur, tetapi kembali stabil setelah tidur malam.
Mengapa Sulit Belajar di Malam Hari? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Banyak orang merasa lebih fokus saat malam, terutama ketika suasana sudah tenang.
Namun, jika diteliti lebih jauh, belajar di malam hari justru menyimpan tantangan besar dari sisi biologis otak dan pola tidur.
Berikut beberapa alasan ilmiah mengapa otak kita tidak selalu “bersahabat” dengan belajar di malam hari.
1. Efek Kurang Tidur pada Daya Ingat
Begadang demi belajar sering dianggap strategi jitu sebelum ujian. Faktanya, kurang tidur justru mengganggu kemampuan otak dalam menyimpan informasi baru.
Saat tidur tidak tercukupi, aktivitas hippocampus—bagian otak yang bertugas memproses memori—menurun drastis.
Akibatnya, informasi yang sudah dipelajari jadi lebih cepat terlupakan.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur bisa kehilangan sekitar 10% kemampuan mengingat dibanding mereka yang cukup tidur.
Bayangkan, Anda sudah mengulang materi berjam-jam, tapi hasilnya jauh dari maksimal hanya karena tubuh dipaksa tetap terjaga.
2. Ritme Sirkadian yang Tidak Sejalan
Tubuh manusia memiliki jam biologis alami yang disebut ritme sirkadian. Ritme ini mengatur kapan tubuh merasa segar dan kapan waktunya beristirahat.
Secara alami, otak didesain lebih waspada di siang hari dan cenderung melambat di malam hari.
Itulah sebabnya, semakin larut Anda belajar, semakin sulit otak mempertahankan fokus.
Rasa kantuk dan menurunnya kewaspadaan bukan tanda lemah semata, melainkan sinyal biologis bahwa tubuh sedang meminta waktu istirahat.
3. Gangguan pada Siklus Tidur Penting
Belajar bukan hanya soal membaca atau menghafal, tapi juga bagaimana otak memproses dan menyimpan informasi saat tidur.
Dua fase tidur yang berperan besar adalah REM dan slow-wave sleep (SWS).
Pada fase inilah otak memperkuat koneksi memori, baik yang sifatnya keterampilan (procedural) maupun fakta (declarative).
Sayangnya, belajar sampai larut biasanya memangkas waktu tidur, sehingga fase tidur penting ini terganggu. Akibatnya, memori baru yang semestinya tersimpan justru mudah hilang.
4. Dampak pada Kesehatan Mental
Menjadi “night owl” atau terbiasa begadang tidak hanya mengganggu fisik, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan mental.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tidur larut berkaitan dengan risiko lebih tinggi mengalami kecemasan dan depresi.
Kondisi mental yang terganggu membuat motivasi belajar menurun dan daya konsentrasi ikut terpengaruh.
Jadi, meskipun malam terasa lebih tenang, konsekuensi jangka panjangnya bisa justru merugikan kesehatan psikologis.
5. Penurunan Fungsi Kognitif
Selain memori, kurang tidur juga memengaruhi bagian otak lain yang disebut prefrontal cortex.
Bagian ini berperan penting dalam fungsi eksekutif, seperti perhatian, pemecahan masalah, hingga pengendalian diri.
Tanpa tidur cukup, kemampuan otak dalam mengatur strategi belajar, memahami konsep sulit, atau mengingat detail penting akan melemah.
Itulah sebabnya, banyak mahasiswa yang merasa nge-blank saat ujian setelah semalaman belajar. Tentunya karena otak mereka tidak lagi berada dalam kapasitas optimal.
Akhir Kata
Belajar di malam hari memang kerap dianggap sebagai jalan pintas untuk mengejar materi, apalagi saat ujian sudah di depan mata.
Namun, sains menunjukkan bahwa otak justru bekerja lebih optimal saat mendapat cukup tidur dan beristirahat sesuai ritme alami tubuh.
Jika dipaksakan begadang, risiko yang muncul bukan hanya ingatan yang cepat hilang, tetapi juga penurunan konsentrasi, kesehatan mental, hingga performa akademik secara keseluruhan.
Dengan memahami keterkaitan antara tidur dan proses belajar, kita bisa mengambil pilihan yang lebih bijak.