← Beranda
Attachment Style dalam Hubungan: Panduan Lengkap Mengenali Tipe dan Dampaknya pada Kehidupan​
Rediva Ananda PutriSelasa, 23 September 2025 | 22.39 WIB
Ilustrasi avoidant attachment, salah satu tipe dari attachment style dalam hubungan (Dok. Pinterest Simply Psychology)

JawaPos.com - Dalam menjalin hubungan, setiap orang membawa pola keterikatan emosional yang berbeda, yang dikenal dengan istilah attachment style atau gaya keterikatan. Attachment style ini terbentuk sejak masa kecil, khususnya melalui hubungan dengan orang tua atau pengasuh, dan kemudian memengaruhi cara seseorang membangun hubungan romantis, persahabatan, maupun interaksi sosial.

Attachment style membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa nyaman dalam hubungan, sementara yang lain mudah cemas atau bahkan menghindar ketika dekat dengan pasangan. Menurut Hello Sehat, pemahaman tentang gaya keterikatan ini penting untuk membangun relasi yang sehat dan stabil, karena bisa memengaruhi cara seseorang mengekspresikan kasih sayang, menghadapi konflik, hingga mengelola emosi.

Terdapat beberapa jenis attachment style yang umum dibahas dalam psikologi hubungan. Setiap jenis memiliki ciri khas tertentu yang memengaruhi dinamika cinta dan komunikasi antar pasangan. Dengan mengetahui tipe masing-masing, seseorang dapat lebih sadar akan pola pikir serta perilaku yang dijalani dalam relasi sehari-hari.

4 Tipe Attachment Style dalam Hubungan

1. Secure Attachment (Gaya Keterikatan Aman)

Individu dengan secure attachment cenderung merasa nyaman untuk dekat dengan orang lain dan mampu membangun kepercayaan dalam hubungan. Mereka biasanya memiliki kepercayaan diri yang baik dan bisa mengelola emosi dengan stabil, sehingga membuat hubungan lebih sehat dan tahan lama.

2. Anxious Attachment (Gaya Keterikatan Cemas)

Mereka yang memiliki gaya keterikatan ini sering merasa tidak cukup dicintai dan terus-menerus membutuhkan validasi dari pasangan. Hal ini membuat mereka lebih rentan mengalami kecemasan berlebihan, takut ditinggalkan, dan sulit merasa tenang dalam relasi.

3. Avoidant Attachment (Gaya Keterikatan Menghindar)

Orang dengan avoidant attachment cenderung menjaga jarak dalam hubungan dan merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang terlalu intens. Individu dengan gaya ini biasanya lebih mandiri, tetapi kesulitan untuk membuka diri secara emosional kepada pasangan.

4. Disorganized Attachment (Gaya Keterikatan Tidak Teratur)

Jenis keterikatan ini merupakan kombinasi dari anxious dan avoidant, di mana seseorang bisa merasakan keinginan untuk dekat, tetapi juga takut sekaligus tidak percaya dengan pasangan. Gaya keterikatan ini sering muncul pada individu yang memiliki pengalaman traumatis di masa lalu.

Attachment style bukanlah sesuatu yang bersifat permanen dan masih bisa berubah seiring waktu. Dengan refleksi diri, terapi, serta dukungan pasangan, seseorang bisa belajar untuk membangun gaya keterikatan yang lebih sehat demi menjaga keharmonisan hubungan.

Selain itu, memahami attachment style pasangan juga sangat membantu dalam menjalin komunikasi yang lebih baik. Dengan saling mengenali kebutuhan emosional masing-masing, konflik bisa diminimalisir dan hubungan menjadi lebih harmonis.

Tak hanya berpengaruh pada hubungan romantis, attachment style juga dapat memengaruhi pertemanan, hubungan kerja, bahkan pola pengasuhan saat menjadi orang tua. Pola keterikatan yang sehat dapat menciptakan lingkungan emosional yang aman bagi semua pihak.

Oleh karena itu, mengenali dan memahami attachment style adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mental dan kualitas hubungan. Seperti yang dituliskan Halodoc pada lamannya, dengan memahami attachment style bisa membantu meningkatkan kualitas hubungan dan mengurangi risiko kesalahpahaman.

Attachment style bisa menjadi kunci dalam membangun hubungan yang tahan lama dan penuh pengertian. Dengan kesadaran, komunikasi, serta usaha bersama, setiap pasangan dapat menciptakan relasi yang lebih stabil dan bahagia.

EDITOR: Candra Mega Sari