← Beranda
Work from Café bagi Generasi Z Selain Memberikan Kenyamanan juga Menggerakkan Ekonomi Lokal
Mega AmeliaJumat, 5 September 2025 | 20.19 WIB
Ilustrasi: Kerja dari kafe atau work from cafe (WFC) kini sudah menjadi gaya hidup bagi generasi Z untuk bekerja. (freepik)

JawaPos.com Pemandangan di kafe semakin beragam sejak beragam tahun belakangan. Kafe Tidak hanya dipenuhi pengunjung yang nongkrong, kini semakin banyak generasi muda yang membuka laptop, memasang earphone, dan larut dalam pekerjaan. Mereka umumnya sedang bekerja alias work from café (WFC). 

Dengan marakknya WFC ini, kafe yang dulunya identik dengan nongkrong atau sekadar tempat ngopi, kini berubah menjadi ruang kerja alternatif yang nyaman dan estetik. Perubahan ini tidak lepas dari budaya kerja pasca-pandemi. Konsep remote dan hybrid work, yaitu model kerja fleksibel yang menggabungkan antara kerja di kantor maupun kerja dari jarak jauh mendorong banyak orang, khususnya generasi muda, mencari suasana baru di luar rumah.  

Penelitian terbaru dari Swinburne University of Technology bersama Third-Place.org menemukan bahwa hampir setengah dari pekerja jarak jauh menghabiskan waktu di kafe setiap minggu. Tren ini sangat dominan di kalangan Generasi Z. Sebanyak 10 persen dari mereka menyatakan tempat seperti itu kini menjadi lokasi kerja favorit. 

Baca Juga: 3 Cafe Nyaman di Surabaya yang Cocok untuk WFC alias 'Work From Cafe': Ada yang Vibes-nya ala Korea, Super Cozy!

Menurut FastCompany.com, anak muda cenderung lebih produktif di ruang yang nyaman, estetik, dan mendukung kreativitas. Oleh karena itu, kafe pun menjadi pilihan karena menawarkan atmosfer berbeda dibanding kantor maupun rumah. 

Dari sisi ekonomi, Forbes melaporkan bahwa kafe mendapat keuntungan lebih besar dari pelanggan yang bekerja, karena biasanya mereka duduk lebih lama dan memesan berkali-kali. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan kafe, tapi juga membuka lebih banyak lapangan kerja mulai dari barista hingga staf event ketika kafe dipakai untuk acara komunitas. 

Di samping peluangnya yang begitu besar, fenomena ini juga menghadirkan tantangan terlebih bagi para pemilik kafe. Banyak pelanggan memanfaatkan fasilitas dan suasana kafe untuk bekerja berjam-jam, tetapi kontribusi finansialnya minim karena hanya melakukan satu kali pembelian. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa berisiko menekan margin keuntungan. 

Baca Juga: Sang Oportunis Sejati! Intip 8 Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Suka Work from Cafe, Menurut Psikologi

Namun jangan khawatir, berikut adalah sejumlah strategi yang bisa dilakukan oleh pemilik usaha kafe agar bisa terus beradaptasi di tengah kondisi tersebut: 

Optimalisasi Ruang dengan Area Khusus

Café dapat mendesain ulang sebagian ruangan menjadi area kerja khusus atau ruang rapat kecil. Model ini tidak hanya menambah kenyamanan pelanggan, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan baru melalui skema penyewaan jangka pendek. 

Investasi dalam Infrastruktur Teknologi

Pekerja remote membutuhkan akses internet cepat, colokan listrik yang memadai, serta lingkungan yang mendukung produktivitas. Menyediakan fasilitas ini akan meningkatkan loyalitas pelanggan dan memperkuat reputasi café sebagai tempat kerja alternatif yang recommended. 

Paket Langganan dan Membership

Sistem berlangganan, seperti paket kopi harian, mingguan, atau bulanan dengan akses Wi-Fi premium, dapat menciptakan aliran pendapatan yang lebih stabil. Skema ini juga memberikan insentif bagi pelanggan untuk kembali secara rutin. 

Diversifikasi Menu dengan Harga Terjangkau

Pekerja yang menetap dalam waktu lama membutuhkan lebih dari sekadar kopi. Dengan menambahkan menu sehat, paket makan siang, atau camilan bergizi, café dapat mendorong pembelian tambahan yang meningkatkan omzet. Tapi jangan lupakan faktor harga. Usahakan agar menu yang dijual masih terjangkau sehingga pelanggan tidak perlu berpikir 1000x sebelum memesan. 

Baca Juga: 5 Rekomendasi Kafe yang Cozy di Jakarta Selatan, Bisa Tingkatkan Literasi dan Cocok untuk WFC!

Kolaborasi dengan Komunitas

Mengadakan acara seperti diskusi, lokakarya, atau pertemuan bisnis kecil dapat memperkuat posisi café sebagai pusat interaksi sosial sekaligus memperluas jaringan pelanggan. Hal ini juga mendukung ekosistem ekonomi kreatif di sekitar kafe. 

Intinya, dengan menormalisasikan bekerja secara hybrid menjadi semakin normal, kafe berubah menjadi salah satu tempat alternatif ruang kerja yang menyenangkan, produktif, dan menyehatkan secara mental tentunya dengan syarat suasana mendukung dan fasilitas yang memadai. 

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, kafe dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Alih-alih merasa terbebani oleh pelanggan yang hanya “menumpang kerja”, kafe justru bisa memposisikan diri sebagai mitra produktivitas generasi muda sekaligus aktor penting dalam perputaran ekonomi lokal.

EDITOR: Ilham Safutra