← Beranda
Job Hugging: Tren Kerja Baru yang Bikin Gen Z dan Milenial Tak Mau Lepas dari Kantor!
Aulia Nur IsfahaniRabu, 3 September 2025 | 06.36 WIB
Ilustrasi gen z dan milenial senang melakukan job hugging (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Pernah dengar istilah job hugging? Kalau belum, kamu tidak sendirian. 

Tren kerja ini sedang ramai dibicarakan oleh Gen Z dan Milenial karena bikin banyak orang betah berlama-lama di kantor.

Bukan sekadar bekerja, tapi ada rasa keterikatan emosional yang unik dengan pekerjaan mereka.

Fenomena ini jadi viral karena job hugging bukan hanya tentang jam kerja panjang, tapi bagaimana pekerjaan menjadi bagian dari lifestyle.

Banyak Gen Z dan Milenial merasa kantor seperti “second home”, tempat mereka mengekspresikan diri sekaligus mencari kepuasan personal. 

Dari kafe kantor yang nyaman hingga rutinitas kerja fleksibel, semua mendukung tren ini.

Baca Juga: Roti atau Nasi di Malam Hari? Temukan Pilihan Tepat Agar Tidur Lebih Cepat dan Berkualitas

Apa Itu Job Hugging dan Mengapa Gen Z Menyukainya

Melansir dari laman ypulse.com, “Job hugging” atau tetap bertahan di pekerjaan yang sama, dikabarkan menjadi tren kerja terbaru di kalangan Gen Z.

Alih-alih sering berpindah-pindah pekerjaan seperti yang mereka lakukan selama Great Resignation, kini banyak pekerja muda justru memilih untuk mempertahankan posisi mereka saat ini.

Para ahli menyebut perubahan ini terkait dengan masuknya AI di posisi entry-level, ketidakpastian pasar, dan pemutusan hubungan kerja yang meluas, sehingga posisi yang mereka pegang sekarang menjadi lebih bernilai.

Beberapa perekrut mengatakan bahwa dengan peluang kerja yang lebih terbatas ke depan, banyak karyawan Gen Z berencana tetap di tempat mereka sekarang, hanya akan berpindah jika merasa sangat tidak puas atau mendapat tawaran gaji yang jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Jangan Dibuang! Ini 6 Cara 'Jenius' Manfaatkan Air Rebusan Nasi yang Harus Kamu Coba

Meski begitu, data dari YPulse sebelumnya menunjukkan bahwa tren kerja viral Gen Z, seperti “rage applying” atau “quiet quitting,” tidak selalu sepopuler yang diberitakan, sehingga “job hugging” mungkin lebih merupakan istilah baru.

Tanda-Tanda Perilaku Job Hugging

Menurut laman The Daily Jagran, banyak Gen Z dan Milenial kini terjebak dalam tren job hugging. Berikut tiga tanda perilaku job hugging:

  1. Selalu Mengatakan Ya untuk Tugas Tambahan

Jika kamu termasuk seorang job hugger, kemungkinan besar kamu cenderung menerima lebih banyak pekerjaan daripada yang mampu ditangani.

Hal ini biasanya terjadi karena takut menolak permintaan. 

Banyak yang merasa satu-satunya cara untuk membuktikan nilai diri adalah dengan mengambil lebih banyak tanggung jawab meski hal itu menimbulkan stres. 

  1. Menghindari Proyek atau Peran Baru 

Saat kesempatan baru muncul, job hugger sering menolaknya karena berada di luar zona nyaman mereka.

Mereka cenderung menghindari perubahan yang terasa berisiko dan memilih tetap melakukan hal-hal yang sudah familiar dan terasa aman. 

  1. Memilih Keamanan Kerja Daripada Pertumbuhan Karier

Banyak orang lebih mengutamakan rasa aman ketimbang mengambil peluang yang bisa meningkatkan keterampilan atau jenjang karier.

Mereka takut mencoba hal baru dan khawatir tidak bisa mendapatkan peluang lain jika meninggalkan posisi sekarang. 

Belakangan ini, tren job hugging semakin populer di kalangan Gen Z dan Milenial. 

Fenomena ini meningkat tajam karena beberapa kelemahan yang dirasakan di dunia korporat.

Jika kamu merasa termasuk job hugger, cobalah perhatikan apakah tanda-tanda di atas juga berlaku pada dirimu.

Menjadi seorang job hugger memang wajar, apalagi di tengah ketidakpastian dunia kerja saat ini.

Namun, penting juga untuk menyadari kapan rasa nyaman dan keamanan mulai membatasi pertumbuhan dan peluang baru.

Dengan mengenali tanda-tanda job hugging, kamu bisa lebih bijak memilih kapan harus bertahan dan kapan berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Ingat, menjaga keseimbangan antara keamanan dan perkembangan karier adalah kunci agar pekerjaan tetap menyenangkan tanpa mengorbankan masa depan.

EDITOR: Hanny Suwindari