JawaPos.com – Tidak semua hubungan berjalan harmonis. Ada kalanya seseorang terjebak dalam ikatan yang justru merugikan, baik secara emosional maupun psikologis. Fenomena ini dikenal dengan istilah toxic relationship. Meski sering diabaikan, dampak hubungan toxic bisa menghancurkan kesehatan mental seseorang jika tidak segera ditangani.
Menurut Prime Behavioral Health (2023), hubungan toxic ditandai oleh pola interaksi yang penuh manipulasi, dominasi, dan kurangnya penghargaan. Individu dalam hubungan semacam ini biasanya merasa tertekan, cemas, hingga kehilangan rasa percaya diri.
Mengapa Hubungan Toxic Terjadi?
Hubungan toxic bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik antara pasangan, keluarga, maupun pertemanan. Faktor pemicunya beragam. Jurnal Psikologi Pubmedia (2023) menjelaskan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah pola komunikasi yang tidak sehat, seperti seringnya kritik, menyalahkan, atau meremehkan pasangan.
Selain itu, pengalaman masa kecil juga berperan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik atau pengabaian emosional cenderung terbiasa dengan pola hubungan tidak sehat. Akibatnya, ketika dewasa, mereka lebih mudah menerima perlakuan toxic sebagai sesuatu yang normal.
Apa Dampaknya pada Kesehatan Mental?
Hubungan toxic bukan sekadar membuat seseorang sedih. Dampaknya lebih dalam dan serius. Penelitian Universitas Airlangga (2022) menegaskan bahwa individu yang bertahan dalam hubungan tidak sehat rentan mengalami:
-
Stres kronis akibat tekanan emosional yang terus-menerus.
-
Kecemasan berlebih karena selalu takut salah atau disalahkan.
-
Penurunan harga diri karena merasa tidak pernah cukup baik.
-
Trauma psikologis yang bisa terbawa hingga hubungan berikutnya.
Jurnal Psikoneo Universitas Mulawarman (2022) bahkan mencatat, beberapa korban hubungan toxic menunjukkan gejala depresi ringan hingga sedang. Perasaan terjebak tanpa jalan keluar membuat mereka sulit berpikir jernih.
Siapa yang Paling Rentan?
Tidak ada batasan siapa saja yang bisa terjebak dalam hubungan toxic. Namun, mereka dengan kepribadian people pleaser, yakni orang yang sulit mengatakan “tidak”—lebih rentan dimanfaatkan.
Menurut penelitian Nalanda Journal (2023), individu yang memiliki trauma masa lalu, seperti pernah mengalami kekerasan atau penolakan, juga cenderung lebih mudah bertahan dalam hubungan yang merugikan karena takut ditinggalkan.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Psikolog menekankan bahwa langkah pertama adalah menyadari pola toxic dalam hubungan. Tanpa kesadaran ini, seseorang akan terus berputar dalam lingkaran yang sama.
Prime Behavioral Health menyarankan beberapa langkah berikut:
-
Kenali tanda-tandanya. Misalnya sering dimanipulasi, selalu disalahkan, atau merasa tidak berharga.
-
Bangun batasan sehat. Berani mengatakan “tidak” pada permintaan yang tidak masuk akal.
-
Cari dukungan. Ceritakan kondisi pada orang terpercaya atau konselor profesional.
-
Pertimbangkan keluar. Jika hubungan tidak berubah meski sudah diusahakan, meninggalkan mungkin pilihan terbaik demi kesehatan mental.
Menurut Proceeding Unesa (2023), terapi psikologis juga bisa membantu korban memulihkan diri dari trauma. Dengan pendampingan profesional, individu dapat belajar kembali membangun harga diri, melatih komunikasi yang asertif, dan memutus pola relasi yang merugikan.
Mengapa Penting untuk Segera Bertindak?
Semakin lama seseorang bertahan dalam hubungan toxic, semakin besar risiko dampak jangka panjang. Trauma emosional bisa mengganggu produktivitas, kualitas hubungan sosial, bahkan kesehatan fisik.
Psikolog dari Universitas Airlangga menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental harus menjadi prioritas. “Meninggalkan hubungan toxic bukan bentuk kegagalan, melainkan langkah berani untuk menyelamatkan diri,” tulis penelitian mereka.
Hubungan sehat adalah ruang untuk bertumbuh bersama, bukan saling meruntuhkan. Jika hubungan terasa penuh racun, langkah terbaik adalah berani berkata cukup. Dengan melepaskan yang toxic, Anda sedang membuka jalan menuju kebahagiaan dan kesehatan mental yang lebih utuh.