← Beranda
Orang dengan Empati Tinggi Lebih Disukai, Ini Alasan Ilmiahnya Menurut Psikologi Sosial dan Neurosains
Lavinia Tiara MalikaSabtu, 23 Agustus 2025 | 01.44 WIB
Empati yang kuat terbukti meningkatkan daya tarik sosial karena membuat hubungan lebih tulus dan mendalam

JawaPos.com – Pernah nggak kamu merasa nyaman banget sama seseorang, padahal baru kenal? Bisa jadi orang tersebut punya empati tinggi.

Dalam psikologi, empati disebut sebagai kemampuan memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Menariknya, empati ternyata bisa jadi “magnet sosial” yang bikin seseorang lebih disukai banyak orang.

Baca Juga: Terlihat Cuek Padahal Peduli Nya Lebih Besar Daripada yang Anda Kira, 6 Zodiak yang Ternyata Memiliki Rasa Empati Begitu Besar

Menurut penelitian dalam Journal of Neuroscience (2024), empati mampu memperkuat ikatan sosial, bahkan sampai level biologis.

Otak manusia ternyata punya mekanisme khusus untuk merespons emosi orang lain. Saat kita ikut merasakan perasaan orang di sekitar, otak mengeluarkan hormon oksitosin yang erat hubungannya dengan rasa percaya dan kedekatan.

Hal ini diperkuat oleh studi dari Harvard Social Connection Blog (2022), yang menyebut empati dapat meningkatkan kualitas hubungan sosial, baik di ranah keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan.

Orang yang punya empati tinggi biasanya dianggap lebih tulus, hangat, dan bisa jadi tempat aman bagi orang lain untuk berbagi cerita.

Baca Juga: Sulit Dapat Dukungan Emosional dari Orang Terdekat? Kenali Penyebab Kurang Empati dan Cara Mengatasinya

Empati dan Daya Tarik Sosial

Empati bukan hanya membuat hubungan interpersonal lebih erat, tapi juga meningkatkan daya tarik sosial. Penelitian ResearchGate (2021) menemukan bahwa individu dengan empati tinggi cenderung lebih disukai di lingkungan sosial karena mampu menciptakan interaksi yang menyenangkan. Mereka bisa membaca situasi, memahami bahasa tubuh, dan memberikan respons yang tepat.

“Orang yang punya empati cenderung bisa menempatkan diri di posisi orang lain, sehingga lebih mudah diterima dalam kelompok sosial,” tulis penelitian dari Universitas Hasanuddin (2022).

Selain itu, empati juga sering dianggap sebagai “soft skill” penting dalam dunia kerja. Karyawan atau pemimpin dengan empati tinggi dinilai lebih efektif dalam membangun kerja sama tim. Mereka tidak hanya fokus pada target, tapi juga memperhatikan kesejahteraan emosional rekan kerja.

Mengapa Empati Jadi Penting di Era Modern?

Di era digital, banyak interaksi dilakukan lewat media sosial. Namun, ironi muncul karena justru banyak orang merasa kesepian meski selalu terhubung secara online. Di sinilah empati memainkan peran besar.

Menurut artikel dari PMC (2022), empati yang kuat bisa melindungi individu dari dampak negatif media sosial, seperti perasaan terisolasi atau rendah diri. Dengan empati, seseorang bisa menjaga hubungan sosial tetap sehat meski berada di dunia maya.

Bahkan, studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Cognitive Neuroscience (2024) menyebutkan bahwa musik dan aktivitas bersama bisa meningkatkan empati. Saat orang bergerak atau bernyanyi bersama, muncul sinkronisasi otak yang memperkuat perasaan terhubung. Ini menjelaskan kenapa konser musik atau kegiatan sosial bisa membuat orang merasa dekat meski sebelumnya asing.

Cara Melatih Empati

Empati memang bisa jadi bakat alami, tapi juga bisa dilatih. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Aktif mendengarkan. Jangan hanya mendengar, tapi juga pahami maksud dan emosi di balik kata-kata lawan bicara.

  2. Belajar membaca bahasa tubuh. Emosi sering kali ditunjukkan lewat ekspresi wajah, gestur, atau intonasi suara.

  3. Membuka perspektif baru. Cobalah menempatkan diri di posisi orang lain sebelum memberikan penilaian.

  4. Kurangi distraksi digital. Saat berinteraksi, fokus pada lawan bicara tanpa sibuk mengecek ponsel.

  5. Berlatih mindfulness. Dengan kesadaran penuh, kita bisa lebih peka terhadap diri sendiri sekaligus orang lain.

Menurut penelitian Atlantis Press (2020), melatih empati sejak usia muda juga terbukti meningkatkan keterampilan sosial jangka panjang. Itulah mengapa banyak sekolah kini memasukkan program literasi emosi dalam kurikulumnya.

Empati kuat bukan hanya membuat kita jadi pribadi yang lebih hangat, tapi juga bisa menjadi daya tarik sosial yang memperkuat hubungan, baik di ranah personal maupun profesional. Di era yang serba cepat ini, punya empati adalah kunci untuk menjaga koneksi manusia tetap bermakna.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho