← Beranda
4 Pola Pikir Destruktif yang Sering Terjadi saat Overthinking dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Aria Maulana SatriyoKamis, 21 Agustus 2025 | 17.27 WIB
Ilustrasi orang overthinking (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Overthinking adalah kondisi ketika pikiran terus berputar tanpa henti, membuat kita membayangkan skenario terburuk atau menyesali masa lalu berulang kali.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa cemas, tetapi juga bisa berdampak serius pada kesehatan mental.

Dilansir dari Verywell Mind, salah satu alasan mengapa overthinking begitu melelahkan adalah adanya pola pikir destruktif.

Pola pikir ini sering kali membuat seseorang sulit berpikir jernih dan terjebak dalam lingkaran kekhawatiran yang tak berujung.

Penasaran apa saja bentuk pola pikir destruktif? Berikut beberapa jenis yang umum terjadi saat overthinking, serta cara mengenalinya.

1. Catastrophizing

Ketika pikiran terus berputar di kepala, otak kita cenderung tidak bisa berpikir rasional. Kondisi ini sering kali memicu catastrophizing, yaitu melebih-lebihkan suatu masalah seakan-akan itu adalah akhir dari segalanya.

Masalah yang tadinya kecil terlihat jauh lebih besar dari seharusnya, membuat kita kesulitan mencari solusi.

Jika tidak diatasi, pola pikir ini bisa menjadi pemicu gangguan mental seperti kecemasan dan insomnia.

2. All or Nothing

Pola pikir all or nothing mengkategorikan semua skenario, interaksi dan masalah dalam hitam dan putih, benar dan salah.

Pemikiran seperti "Jika saya bukan karyawan terbaik bulan ini maka saya bukanlah karyawan yang baik" adalah salah satu contoh dari pemikiran all or nothing.

Pola pikir ini membuat seseorang rentan terhadap overthinking, padahal hampir semua hal memiliki area abu-abu dengan banyak alasan dan faktor pendukung di baliknya.

3. Overgeneralizing

Pernah mengalami satu kejadian buruk dan langsung merasa hal serupa akan selalu terjadi? Itulah overgeneralizing.

Pola pikir ini muncul saat seseorang menarik kesimpulan luas hanya dari satu pengalaman negatif, lalu menerapkannya ke situasi lain yang tidak berhubungan.

Misalnya, sekali gagal dalam suatu kesempatan, seseorang dengan pola pikir ini akan merasa akan selalu gagal di setiap kesempatan yang datang.

Otak kita membentuk pola pikir ini sebagai mekanisme pertahanan, tetapi justru bisa menimbulkan ketakutan berlebihan dan membuat kita lebih rentan terhadap overthinking.

4. Discounting the Positive

Mirip dengan catastrophizing, pola pikir ini membuat seseorang terlalu fokus pada masalah hingga mengabaikan hal-hal positif yang sebenarnya ada.

Akibatnya, setiap pencapaian atau pengalaman baik terasa tidak berarti. Inilah yang membuat overthinking terasa semakin berat dan sulit diatasi.

Salah satu teknik yang bisa membantu menjauhkan pikiran negatif adalah cognitive reframing. Meskipun terdengar rumit, intinya adalah mengubah cara pandang Anda terhadap sebuah kejadian menjadi perspektif yang lebih positif.

Dengan mengenali bentuk-bentuk pola pikir destruktif ini, Anda bisa mulai menjauhi kritik negatif terhadap diri sendiri.

Namun, jika Anda merasa pikiran negatif terlalu sulit untuk dihadapi sendirian, sangat disarankan untuk mencari bantuan dari psikolog profesional.

EDITOR: Candra Mega Sari