JawaPos.com – Setiap insan tentu memiliki pola pikir dan cara berfikir yang berbeda-beda. Dari masa anak-anak hingga dewasa tentu setiap orang telah diajarkan agar bisa menjadi seseorang dengan memiliki pemikiran yang kritis.
Dengan begitu diharapkan mampu menyeimbangkan hingga membatasi sebuah sesuatu mana yang benar atau tidak. Namun, kerap kali sebagai manusia suka berfikiran yang berlebihan. Dalam artian suka takut akan kejadian yang belum terjadi.
Berikut lima perbedaan seseorang yang memiliki pemikiran kritis dengan orang yang suka berfikiran berlebihan seperti dikutip pada Hack Spirit.
1. Tujuan
Berpikir kritis: Memiliki tujuan yang jelas
Menurut para peneliti, pemikir kritis menggunakan beberapa teknik untuk memilih tindakan:
· Memahami hubungan antar ide
· Menentukan relevansi ide
· Mengidentifikasi kesalahan dalam penalaran
· Membenarkan asumsi, nilai, dan keyakinan
· Mengakui keterbatasan pribadi
· Menggunakan bukti untuk membuat keputusan
· Mendengarkan secara aktif
Berpikir berlebihan: Tidak memiliki tujuan jelas
Namun, jika terlalu banyak berpikir takutnya akan keluar dari jalur produktif dan terjebak dalam lingkaran pikiran negatif. Serta akan terus-menerus berada dalam siklus kekhawatiran, berjuang untuk memahami situasi.
Proses berpikir yang seperti itu menjadi sangat kacau, yang menunjukkan satu hal dimana telah kehilangan tujuan hidup yang sebenarnya. Dan ketika itu terjadi maka akan juga kehilangan fokus.
2. Fokus
Berpikir kritis: Selalu dapat fokus
Berpikir kritis lebih terstruktur. Meskipun juga melibatkan berbagai jalur dan tidak selalu linier, berpikir kritis memiliki satu tujuan tunggal – untuk menemukan jawaban atau memecahkan masalah – dan itu membantu Anda tetap fokus. Tidak akan untuk membuang-buang waktu.
Berpikir berlebihan: Tidak dapat fokus dengan baik
Orang yang selalu memiliki pemikiran yang berlebihan sebagai jalinan pikiran dan emosi yang tidak terkendali. Anda mulai memikirkan suatu situasi, lalu menyimpang ke hal-hal yang tidak penting, beberapa di antaranya mungkin tidak berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi!
Yang Anda lakukan hanyalah melompat dari satu pikiran ke pikiran lain seperti seekor monyet yang berayun dari satu dahan ke dahan lainnya
3. Dalam segi emosi
Berpikir kritis: Didorong oleh logika
Pemikir kritis berusaha untuk tetap objektif. Mereka menjauhkan diri dari emosi dan mengevaluasi masalah berdasarkan fakta dan bukti.
Berpikir berlebihan: Selalu didorong oleh emosi
Orang yang selalu banyak berpikir dihinggapi kecemasan atau ketakutan. Mereka akhirnya memiliki pikiran yang tidak rasional (yang sebagian besar negatif) dan membuat keputusan yang tidak masuk akal!
4. Dalam segi penyelesaian masalah
Berpikir kritis: Memecahkan masalah menjadi bagian-bagian yang lebih mudah
Pemikir kritis bersifat proaktif dalam artian mereka tidak berdiam diri dan meremas-remas tangan karena putus asa. Pemiikir kritis bersikap apa adanya. Mereka berkata, apakah masalahnya terlalu besar? Kemudian uraikan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan tangani bagian-bagian tersebut satu per satu. Tidak perlu bersikap emosional!
Berpikir berlebihan: Semakin diselesaikan masalahnya makin memperbesar masalah
Banyak berpikir selalu merasa kewalahan oleh kompleksitas suatu situasi atau masalah. Kita mungkin merasa masalah itu terlalu besar untuk diatasi, dan akhirnya kita merasa lumpuh atau tidak berdaya.
5. Hasil
Berpikir kritis: Memiliki hasil yang spesifik
Pemikir kritis, selalu memanfaatkan sel-sel otak Anda dengan baik. Anda menggunakan waktu dan energi Anda dengan bijak karena Anda akan mendapatkan hasil setelahnya.
Berpikir berlebihan: Tidak memiliki hasil yang spesifik
Berpikir berlebihan sering membuang-buang waktu dan tenaga, bayangkan menghabiskan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari memikirkan suatu masalah, hanya untuk berakhir tanpa kemajuan nyata.