JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, ada orang yang cenderung menjaga jarak dan menjauhi teman-temannya, baik secara perlahan maupun tiba-tiba.
Perilaku ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor psikologis, seperti kecemasan sosial, pengalaman traumatis, atau bahkan perubahan kepribadian seiring waktu.
Menurut psikologi, kebiasaan menjauhi teman tidak selalu berarti seseorang ingin memutus hubungan, tetapi bisa menjadi bentuk mekanisme pertahanan atau refleksi dari kondisi emosional yang sedang mereka alami.
Baca Juga: 10 Frasa Ini Membuat Orang Langsung Menghormati Anda, Menurut Psikologi
Dilansir dari Blog Herald, berikut 7 perilaku orang yang selalu menjauhi teman, menurut psikologi.
- Selalu mementingkan dirinya sendiri
Kita semua ingin merasa didengar dan dipahami. Namun, sebagian orang memiliki kebiasaan mengalihkan setiap pembicaraan kembali kepada diri mereka sendiri, tanpa menyadarinya.
Awalnya, sahabat mungkin akan bersabar, mendengarkan cerita atau keluhan yang tak ada habisnya.
Baca Juga: Orang yang Memakai Outfit Sama Setiap Hari Biasanya Memiliki 8 Ciri Ini, Apakah Kamu Juga?
Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai merasa tidak penting dalam hubungan tersebut.
Menurut psikologi, ini dinamakan narsisme percakapan, yakni kecenderungan untuk mendominasi diskusi dan mengalihkan fokus kembali ke diri sendiri.
Dan kenyataannya, orang tidak akan bertahan ketika mereka merasa tidak didengarkan atau tidak penting.
- Tidak pernah meminta maaf atau mengakui kesalahan
Pernahkah kalian mempunyai teman yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya.
Apapun yang terjadi, entah dia lupa rencana, mengatakan sesuatu yang menyakitkan, atau sama sekali salah memahami suatu situasi, dia selalu punya alasan.
Sebenarnya, menolak untuk meminta maaf justru menjauhkan orang. Persahabatan bukan tentang menjadi sempurna tetapi persahabatan adalah tentang bertanggung jawab.
Ucapan "maaf" yang sederhana dapat lebih bermanfaat bagi suatu hubungan daripada seratus alasan.
Jika Anda mengalami kesulitan dengan hal ini, mulailah dari hal kecil. Lain kali Anda mendapati diri Anda bersikap defensif, berhentilah sejenak.
Tanyakan kepada diri Anda: Apakah keinginan saya untuk menjadi benar lebih penting daripada persahabatan ini?
Karena pada akhirnya, hubungan yang paling kuat dibangun atas kejujuran, bukan ego.
- Hanya menghubungi ketika mereka membutuhkan sesuatu
Perilaku seseorang yang hanya menghubungi teman saat membutuhkan sesuatu sering kali mencerminkan hubungan yang tidak seimbang dan cenderung transaksional.
Orang dengan kebiasaan ini biasanya kurang menghargai ikatan emosional dan lebih fokus pada kepentingan pribadi, sehingga mereka jarang berkomunikasi kecuali ada kepentingan tertentu.
Akibatnya, teman-teman yang mereka jauhi bisa merasa dimanfaatkan dan kehilangan kepercayaan terhadap hubungan tersebut.
Jika dibiarkan, perilaku ini dapat merusak pertemanan dan membuat orang-orang di sekitar merasa enggan untuk membantu di kemudian hari.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk membangun hubungan yang saling mendukung, bukan hanya datang ketika membutuhkan bantuan.
- Selalu bersikap negatif
Orang yang selalu menjauhi teman dengan bersikap negatif cenderung menunjukkan perilaku seperti sering mengeluh, mudah marah, atau melihat segala sesuatu dari sudut pandang pesimistis.
Mereka mungkin merasa tidak nyaman dalam interaksi sosial dan lebih memilih untuk menarik diri daripada berusaha membangun hubungan yang sehat.
Sikap negatif ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti stres, rasa tidak percaya diri, atau pengalaman buruk di masa lalu.
Akibatnya, orang-orang disekitarnya merasa enggan untuk berinteraksi, sehingga semakin memperkuat siklus isolasi sosial.
Jika dibiarkan, perilaku ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan hubungan sosial mereka dalam jangka panjang.
- Tidak menghormati batasan
Psikolog menekankan bahwa hubungan yang sehat membutuhkan rasa saling menghormati ruang pribadi dan batasan.
Jika seseorang terus-menerus mengabaikan batasan tersebut, hal itu akan menimbulkan rasa kesal dan menjauhkan orang lain.
Sebenarnya, tidak ada seorang pun yang ingin merasa tertekan atau bersalah karena membutuhkan waktu untuk diri sendiri.
Persahabatan akan tumbuh subur jika kedua belah pihak merasa nyaman mengekspresikan kebutuhan mereka, tanpa takut akan reaksi negatif.
Jika Anda tidak yakin apakah Anda telah melewati batas, perhatikan bagaimana teman Anda merespons saat mereka mengatakan "tidak" atau menetapkan batasan.
Apakah Anda menerimanya, atau terus memaksa? Terkadang, cara terbaik untuk memperkuat persahabatan adalah dengan memberi orang ruang yang mereka butuhkan.
- Tidak pernah menunjukkan penghargaan
Orang yang selalu menjauhi teman sering kali tidak pernah menunjukkan penghargaan terhadap keberadaan atau usaha orang lain dalam hubungan sosial.
Mereka jarang mengucapkan terima kasih, mengabaikan pencapaian teman-temannya, atau bahkan tidak memberikan respons positif saat dibantu.
Sikap ini bisa membuat orang-orang disekitarnya merasa tidak dihargai dan akhirnya menjauh.
Kurangnya penghargaan ini mungkin berasal dari sifat individualistis, rasa tidak peduli, atau bahkan ketidakmampuan mengekspresikan emosi dengan baik.
Jika dibiarkan, perilaku ini dapat merusak hubungan sosial dan membuat seseorang semakin terisolasi dalam lingkungannya.
- Terlalu tersedia
Kedengarannya aneh, bukan? Lagipula, bukankah berada di dekat teman-temanmu adalah hal yang baik? Tetapi ada batasan tipis antara bersikap mendukung dan bersikap terlalu siap sedia.
Jika Anda selalu menjadi orang pertama yang mengirim pesan, selalu menjadi orang yang membuat rencana, dan selalu mengabaikan semua hal saat mereka membutuhkan Anda, hal itu justru dapat menjadi bumerang.
Kenyataannya adalah, ketika Anda selalu siap sedia, orang-orang secara tidak sadar mulai kurang menghargai waktu Anda.
Psikolog menyebutnya prinsip kelangkaan, kita cenderung lebih menghargai hal-hal ketika hal-hal tersebut tidak selalu ada di ujung jari kita.
Solusinya? Ciptakan keseimbangan. Daripada selalu menjadi yang pertama menghubungi, terkadang biarkan teman Anda yang mengambil inisiatif.
Jika Anda selalu berkata "ya" pada rencana, cobalah untuk berkata "tidak" sesekali. Bukan untuk bermain-main, tetapi untuk memastikan bahwa persahabatan Anda dibangun atas usaha bersama, bukan hanya karena Anda selalu ada.
Memahami alasan di balik perilaku seseorang yang menjauhi teman dapat membantu kita bersikap lebih empati dan tidak langsung menghakimi.
Jika Anda merasa ada teman yang mulai menarik diri, cobalah untuk berkomunikasi dengan cara yang nyaman bagi mereka, tanpa memberikan tekanan.
Dalam beberapa kasus, dukungan yang tepat justru dapat membantu mereka merasa lebih dipahami dan kembali terbuka dalam hubungan sosial.