← Beranda
8 Ciri Orang yang Menolak Memberikan Tempat Duduk di Angkutan Umum Menurut Psikologi, Apa Saja?
Mega KhaeraniJumat, 3 Januari 2025 | 18.30 WIB
Ilustrasi 8 ciri orang yang menolak memberikan tempat duduk di angkutan umum.

JawaPos.com - Kalau kamu pernah naik bus atau kereta yang penuh sesak, kamu mungkin pernah bertemu seseorang yang menolak memberikan tempat duduknya, meskipun jelas ada orang lain yang mungkin lebih membutuhkannya.

Psikologi di balik perilaku ini bisa menarik dan seringkali menunjukkan ciri-ciri tertentu. Menjadi seseorang yang menolak untuk menyerahkan tempat duduk di transportasi umum belum tentu merupakan cacat karakter. Hal itu hanya menyoroti pola perilaku dan sikap tertentu.

Dilansir dari Hack Spirit, terdapat 8 ciri orang yang menolak memberikan tempat duduk di angkutan umum. Ingatlah bahwa setiap orang berbeda dan tidak semua orang akan menunjukkan semua sifat ini.

1. Ketegasan

Ketegasan mungkin merupakan salah satu sifat pertama yang ditunjukkan oleh mereka yang menolak menyerahkan tempat duduknya di angkutan umum. Ini belum tentu merupakan sifat negatif, tetapi dalam konteks ini, dapat dianggap demikian.

Orang yang memiliki tingkat ketegasan tinggi seringkali memprioritaskan kebutuhan dan batasan mereka. Mereka memiliki rasa ruang pribadi dan kenyamanan yang kuat, dan menyerahkan tempat duduknya, dalam perspektif mereka, dapat membahayakan hal itu.

Ketika diminta untuk menyerahkan tempat duduknya, orang yang tegas mungkin akan menjawab dengan kalimat seperti “Saya sampai di sini duluan” atau “Saya juga sudah lelah seharian ini”. Ini bukan berarti mereka tidak baik atau tidak berempati.

Sebaliknya, mereka sangat percaya pada keadilan dan kesetaraan, meskipun dalam situasi tertentu mungkin tampak mementingkan diri sendiri.

2. Altruisme

Meskipun mungkin tampak aneh, beberapa orang yang menolak menyerahkan tempat duduknya di angkutan umum mungkin sebenarnya termotivasi oleh altruisme, yaitu rasa tidak mementingkan diri sendiri dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain.

Orang-orang ini seringkali memiliki keyakinan kuat pada ketahanan pribadi dan kemampuan orang untuk bertahan dan mengatasi tantangan. Mereka mungkin beralasan bahwa dengan mempertahankan tempat duduk mereka, mereka membantu orang lain menjadi lebih kuat atau lebih tangguh.

Misalnya, seseorang mungkin melihat seorang anak muda berdiri dan berpikir, “Mereka masih muda, sehat, dan perlu berolahraga.” atau ketika mereka mungkin mengamati orang tua dan berpikir, “Tetap aktif itu baik untuk mereka.”

3. Takut akan evaluasi negatif

Orang-orang yang menolak menyerahkan tempat duduknya di angkutan umum mungkin juga didorong oleh rasa takut terhadap evaluasi negatif. Ini adalah rasa takut dihakimi atau dikritik oleh orang lain yang dapat mengarah pada perilaku menghindar.

Dalam konteks bus atau kereta yang penuh sesak, seseorang yang takut akan evaluasi negatif mungkin khawatir bahwa jika mereka berdiri untuk menawarkan tempat duduknya, mereka akan menarik perhatian ke diri mereka sendiri.

Mereka mungkin khawatir tentang penampilan mereka atau apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Mereka mungkin khawatir akan tersandung atau jatuh saat berdiri, atau orang lain akan menghakimi mereka karena menyerahkan tempat duduknya.

Mereka bahkan mungkin khawatir orang yang mereka tawarkan tempat duduknya akan menolak, sehingga membuat mereka merasa malu. Ketakutan ini bisa begitu besar hingga mereka memilih untuk tetap duduk, meskipun mereka bersedia menyerahkan tempat duduknya.

4. Ketidaknyamanan fisik

Bayangkan mengakhiri hari yang panjang di tempat kerja, di mana mereka telah berdiri selama berjam-jam, dan yang diinginkan hanyalah duduk dan beristirahat. Ini adalah kenyataan bagi banyak orang yang mungkin ragu menyerahkan tempat duduknya di angkutan umum.

Ketidaknyamanan fisik dapat menjadi faktor yang signifikan. Mereka mungkin mengalami cedera yang tidak terlihat atau sekadar benar-benar lelah. Dalam kasus ini, menyerahkan tempat duduk mereka dapat mengakibatkan rasa sakit atau ketidaknyamanan fisik yang dapat berlangsung hingga akhir perjalanan.

Mudah untuk menghakimi ketika kita melihat seseorang yang tidak menawarkan tempat duduknya. Namun, perlu diingat bahwa kita tidak selalu mengetahui cerita lengkap di balik tindakan mereka.

5. Keinginan untuk memiliki ruang pribadi

Transportasi umum seringkali penuh sesak dan tidak nyaman, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk ruang pribadi. Bagi sebagian orang, berpegangan pada kursi dapat menjadi cara untuk mempertahankan sedikit ruang pribadi di lingkungan yang sempit.

Mereka mungkin merasa berdiri di dalam bus atau kereta yang penuh sesak tidak nyaman atau menimbulkan kecemasan. Kedekatan dengan orang lain, desakan saat kendaraan bergerak, dan kurangnya ruang pribadi secara umum dapat membuat banyak orang kewalahan.

Memiliki tempat duduk dapat memberikan rasa aman dan kendali dengan menciptakan penghalang kecil antara mereka dan penumpang lainnya. Ini bukan tentang bersikap tidak baik atau tidak mau membantu orang lain. Ini tentang mengelola kenyamanan dan kecemasan mereka sendiri dalam lingkungan yang menantang.

6. Perilaku kebiasaan

Terkadang, orang berpegangan pada tempat duduknya di angkutan umum hanya karena kebiasaan. Begini ceritanya: ada seseorang yang telah menempuh rute yang sama selama bertahun-tahun. Setiap pagi, ia berhasil mendapatkan tempat duduk, dan itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Mereka melakukannya berkali-kali hingga mereka berhenti memikirkannya. Mereka naik, mencari tempat duduk, dan melamun hingga mencapai tujuan. Mereka tidak secara sadar memilih untuk menjauhkan tempat duduknya dari orang lain. Mereka hanya mengikuti kebiasaan yang sudah mendarah daging.

7. Kurangnya empati

Kurangnya empati sering terjadi ketika seseorang menolak menyerahkan tempat duduknya di angkutan umum. Mereka melihat orang lanjut usia, wanita hamil, atau penyandang disabilitas berdiri, namun mereka tetap duduk.

Ini bukan tentang ketidaknyamanan fisik, ruang pribadi, atau ketakutan akan penilaian negatif. Ini hanya tentang ketidakmampuan atau keengganan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami kebutuhan mereka.

Meskipun tidak nyaman untuk melabeli seseorang sebagai kurang empati berdasarkan satu tindakan, penting untuk menyatakan faktanya. Saat kita enggan membuat pengorbanan kecil demi kenyamanan dan kesejahteraan orang lain, kita menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap perasaan dan pengalaman mereka.

8. Kesadaran dan rasa hormat terhadap orang lain

Sifat terpenting yang harus kita semua upayakan saat menggunakan transportasi umum adalah kesadaran dan rasa hormat terhadap orang lain. Hal ini berarti memperhatikan orang-orang di sekitar, mengenali kebutuhan mereka, dan menunjukkan kebaikan bila memungkinkan.

Meskipun ada beragam alasan mengapa seseorang mungkin tidak menyerahkan tempat duduknya, penting untuk diingat bahwa kita berbagi ruang publik dengan beragam orang, masing-masing dengan pengalaman dan tantangannya sendiri.

Jadi, jika kamu merasa nyaman duduk di bus atau kereta yang penuh sesak, luangkan waktu untuk melihat-lihat. Jika kamu melihat seseorang yang lebih membutuhkan tempat duduk, pertimbangkan untuk menawarkan tempat dudukmu.

Ini adalah tindakan kebaikan kecil yang dapat membuat perbedaan besar dalam hari seseorang. Transportasi umum adalah untuk semua orang. Mari kita memperlakukan satu sama lain dengan baik dan hormat agar perjalanan menjadi lebih menyenangkan bagi semua orang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho