JawaPos.com - Kehidupan kita dewasa ini melekat dengan media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Threats.
Seringkali di media sosial, kita menemui para orang tua yang membagikan informasi anak-anaknya melalui gambar atau foto. Fenomena itu disebut "sharenting" merupakan kombinasi antara "sharing" dan "parenting," dikutip dari verywellmind.com, Selasa, (31/12).
Istilah ini dapat ditelusuri ke sebuah artikel di Wall Street Journal pada 2012 tentang "oversharenting," meski sebelum itu, banyak orang tua yang sudah mulai mengunggah informasi soal anak-anak mereka di media sosial.
Banyak orang tua yang menganggap berbagi foto sebagai cara wajar untuk terhubung dengan teman dan keluarga sekaligus memberikan informasi terbaru soal kehidupan mereka.
Lagipula, para orang tua selalu mengambil foto dan berbagi kabar terbaru tentang anak-anak mereka. Namun, praktik tersebut biasanya dilakukan dalam privasi yang relatif.
Fenomena ini memicu sebuah pertanyaan bahwa apa motivasi para orang tua melakukan sharenting?
Sebuah penelitian menemukan bahwa bagi orang tua yang memiliki bayi, sharenting dapat membantu meringankan isolasi sosial yang muncul pada periode ini dalam kehidupan anak-anak mereka, dan keinginan untuk menjalin hubungan interpersonal juga membuat orang tua cenderung melakukan sharenting secara berlebihan, dikutip dari verywellmind.com.
Sederhananya, ketika seorang ibu baru menerima reaktif dan komentar positif sebagai tanggapan atas foto-foto bayi yang dibagikan lewat media sosial menjadi sebuah momen validasi sebagai ibu yang baik dan membuat mereka merasa didukung. Meskipun sharenting sering dikaitkan dengan banyaknya foto-foto bayi dan balita yang diunggah, orang tua dari remaja juga berbagi informasi tentang anak-anak mereka di media sosial.
Penelitian telah menunjukkan bahwa motivasi mereka termasuk mengkomunikasikan kebanggaan mereka terhadap prestasi anak-anaknya dan memberi tahu teman dan keluarga soal kehidupan anak-anaknya. Jadi, sharenting dengan alasan untuk berbagi informasi di media sosial untuk berhubungan dengan teman dan keluarga adalah alasan yang ringkih secara psikologis.
Kemampuan untuk terhubung dan tetap berhubungan dengan teman dan keluarga di dunia yang membuat orang-orang semakin berjarak dan berjauhan satu sama lain adalah dengan berbagi tempat tinggal, dikutip dari verywellmind.com.
Namun, berbagi informasi soal anak di media sosial yang bersifat publik memiliki risiko. Bahkan, orang tua yang berhati-hati dengan informasi yang dibagikan secara daring dan selektif, tetap memiliki risiko pencurian data atau penyalahgunaan informasi untuk kejahatan atau kriminalitas berbasis data.
Selain memiliki potensi kejahatan, sharenting juga berdampak kepada kondisi psikologis anak-anak sehingga mengganggu proses tumbuh kembang mereka. Melansir psychologytoday.com bahwa terdapat empat peringatan soal dampak sharenting bagi pertumbuhan psikologis anak-anak:
- Satu dari empat anak merasa malu dengan informasi yang dibagikan oleh orang tuanya di media sosial,
- Pada usia 9 tahun, anak-anak memiliki reaksi yang kuat terhadap apa yang diposting oleh orang tua secara daring tentang mereka.
- Di Amerika Serikat, 92% anak berusia 2 tahun sudah memiliki eksistensi secara daring.
- Anak-anak dua kali lebih mungkin untuk mengatakan bahwa orang dewasa membagikan konten yang berlebihan di media sosial dan mereka tidak boleh melakukannya.
Keempat dampak di atas menunjukkan bahwa anak-anak memiliki ketidaknyamanan dengan kebiasaan sharenting para orang tuanya. Lebih dalam lagi, sharenting secara tidak langsung adalah kekerasan terhadap privasi anak-anak.
Penelitian menunjukkan bahwa 74% orang tua mengenal setidaknya satu orang tua lain yang membagikan informasi tentang anak-anaknya secara berlebihan di media sosial dan satu dari 10 orang tua membagikan informasi soal masalah kesehatan anak-anaknya.
Mengungkapkan informasi yang tidak pantas atau mengungkapkan informasi yang tidak pantas atau hoaks dapat menjadi masalah dalam hubungan antara orang tua dan anak, terutama saat anak beranjak dewasa.
Berbagi informasi secara berlebihan memiliki potensi untuk melakukan lebih banyak kerusakan. Misalnya, jika orang tua mengungkapkan identitas tentang anak mereka di media sosial, seperti nama lengkap, alamat rumah, tanggal lahir menolong peretas untuk mendapatkan nomor jaminan sosialnya.
Para kriminal digital dapat mencuri identitas anak tersebut untuk mengajukan permohonan kredit dan layanan lainnya. Ini menjadi masalah bagi anak-anak saat mereka akan memulai pengajuan layanan kredit dan lain-lainnya.
Selain itu, foto-foto lucu atau pengalaman lucu yang dibagikan orang tua secara daring tentang anak-anak mereka dapat menjadi masalah ketika anak-anak beranjak dewasa. Secara khusus, perguruan tinggi dan pemberi kerja semakin sering memeriksa aktivitas daring pelamar. Alhasil, informasi dari sharenting dapat menjadi sumber rasa malu atau memengaruhi penilaian universitas atau pemberi kerja terhadap anak-anak mereka.
Ada beberapa masalah yang bisa muncul akibat dari berbagi informasi secara berlebihan terhadap orang lain. Misalnya, jika mereka sendirian dan bertemu dengan orang yang tampaknya mengenal mereka dari sharenting, maka anak tersebut dapat menjadi percaya bahwa semua orang mengenal mereka.