← Beranda
Simak! 7 Cara Membangun Boundaries yang Sehat, Memahami Prioritas Anda hingga Menghargai Batasan Orang Lain
Risma Aris MayaKamis, 26 September 2024 | 23.15 WIB
Salah satu cara membangun boundaries yang sehat adalah menghormati batasan orang lain (freepik)

JawaPos.com – Boundaries atau sering dikenal sebagai batasan memang penting dalam menjalani hubungan apa pun mulai dari hubungan pertemanan, percintaan maupun dengan keluarga.

Pasalnya dalam membangun boundaries yang sehat cenderung tidak mudah. Sebab memberi tahu orang lain apa yang Anda butuhkan mungkin tampak egois, agresif atau bahkan kasar.

Namun ini penting sebab dengan batasan membuat kita merasa aman dan dihormati baik secara fisik maupun emosional.

Menghormati batasan kita artinya membantu kita untuk lebih memperhatikan diri sendiri, membangun kepercayaan, mencegah kejenuhan dan menanamkan lebih banyak makna dan keaslian ke dalam hubungan kita.

Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai beberapa cara membangun boundaries yang sehat sebagaimana dilansir dari laman Calm, Kamis (26/9) sebagai berikut :

1. Mendengarkan diri sendiri

Pada dasarnya tubuh kita selalu memberi sinyal saat kita mendekati batas pribadi.

Perhatikan jika Anda merasa rahang mengencang atau tangan mengepal. Mungkin Anda mulai berkeringat atau merasakan tenggorokan atau perut sakit.

Apapun isyaratnya, Anda harus menghargai apa yang dikatakan tubuh Anda dan meluangkan waktu untuk mengeksplorasi ketidaknyamanan Anda dan memahami batasan yang muncul.

2. Memahami prioritas Anda

Cara selanjutnya untuk membangun boundaries yang sehat adalah memahami prioritas Anda.

Baca Juga: DPR Gelar Rapat Paripurna Terakhir Senin, Puan Pastikan Seluruh Pekerjaan AKD Diselesaikan

Pada dasarnya waktu Anda adalah sumber daya yang terbatas dan berharga. Jika Anda mencoba menyenangkan semua orang maka Anda tidak hanya membeli tiket sekali jalan menuju kelelahan dan kebencian.

Namun Anda juga menyangkal kesenangan dan pertumbuhan diri Anda dengan berfokus pada apa yang Anda hargai.

Lain kali Anda mengatakan ya kepada seseorang. Pastikan Anda tidak mengatakan tidak kepada diri sendiri.

Anda juga bisa meluangkan waktu untuk menulis daftar prioritas dan bandingkan dengan tempat Anda menghabiskan waktu dan energi untuk menilai apakah Anda perlu melakukan penyesuaian.

3. Berkomunikasi dengan jelas

Cara membangun boundaries yang sehat tentu tidak bisa lepas dengan komunikasi yang jelas.

Artinya Anda perlu berlatih mengatakan tidak saat Anda tidak ingin melakukan sesuatu. Anda tidak perlu menjelaskan diri sendiri atau memberikan alasan.

Anda bisa menggunakan frasa seperti “tidak, terima kasih” atau “terima kasih tapi saya tidak bisa.”

4. Membiasakan diri dengan rasa tidak nyaman

Jika Anda tidak terbiasa menegaskan batasan maka Anda akan merasa canggung, takut, bersalah atau gugup saat menghadapi batasan pribadi. Anda bisa memberi diri Anda ruang dan waktu untuk membangun toleransi.

Anda juga bisa menyeimbangkan dengan dukungan latihan pernapasan, meditasi atau berbicara dengan teman atau terapis terpercaya.

5. Mengambil ruang untuk merenung

Jika Anda pernah terkejut saat seseorang melewati batas dan Anda tidak yakin bagaimana cara menanggapinya maka Anda bisa memberikan Anda izin untuk kembali ke percakapan setelah Anda memiliki waktu untuk merenung dan memusatkan diri.

Anda bisa mengatakan “saya butuh waktu untuk memikirkan apa yang baru saja terjadi. Saya ingin kembali ke percakapan ini dalam beberapa jam/hari.”

6. Memahami bahwa batasan itu bisa fleksibel

Pada dasarnya batasan kita akan berubah untuk orang yang berbeda dan dapat berubah seiring waktu berdasarkan kondisi kehidupan Anda dan evolusi suatu hubungan.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk memeriksa diri sendiri untuk memastikan bahwa aturan hubungan Anda terasa baik untuk Anda.

Jika batasan Anda cukup kaku atau sangat longgar maka itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terjadi di balik permukaan bagi Anda.

7. Menghargai batasan orang lain

Orang-orang yang sering memberi kita isyarat fisik dan verbal tentang batasan mereka sendiri. Perhatikan apakah mereka mundur selangkah, menghindari kontak mata atau tampak tidak nyaman.

Tentu saja, setiap orang itu unik dan isyarat mereka akan berarti untuk mengomunikasikan hal yang berbeda.

Dan pada akhirnya, jika Anda tidak yakin apa batasan seseorang maka Anda bisa bertanya menggunakan frasa “bolehkah saya memberi Anda masukan?” atau “bolehkah saya mengajukan pertanyaan?”.

EDITOR: Hanny Suwindari