JawaPos.com - Sepanjang perjalanan hidup, kita tersandung, belajar, dan bertumbuh. Namun, beberapa pelajaran dipelajari sedikit terlambat, sering kali membuat kita berharap kita mengetahuinya lebih cepat.
Dalam tulisan ini, saya akan berbagi dengan Anda 4 pelajaran hidup yang kebanyakan orang pelajari terlambat dalam perjalanan hidup mereka. Ini adalah wawasan yang telah membentuk kembali perspektif saya dan mengubah cara saya menjalani hidup. Berikut 4 pelajaran hidupnya, dikutip dari ideapod:
1) Hidup tidak selalu adil
Dunia perhatian penuh telah mengajari saya banyak hal. Salah satu pelajaran tersulit namun paling penting yang saya pelajari adalah bahwa hidup tidak selalu adil.
Kita sering tumbuh dengan keyakinan bahwa jika kita bekerja keras, memperlakukan orang lain dengan baik, dan membuat pilihan yang tepat, semuanya akan jatuh pada tempatnya. Namun, hidup memiliki cara untuk mengejutkan kita, terkadang dengan cara yang tampaknya sama sekali tidak adil.
Mungkin Anda telah dilewatkan untuk sebuah promosi yang sebenarnya lebih dari cukup untuk Anda, atau mungkin penyakit yang tak terduga membuat Anda jatuh sakit. Hal ini bisa membuat frustasi dan putus asa ketika hal ini terjadi.
Namun, inilah masalahnya: Hidup tidak menjanjikan keadilan. Hidup adalah sebuah perjalanan, lengkap dengan pasang surut, suka dan duka, kemenangan dan kekalahan.
Semakin cepat kita menerima hal ini, semakin baik kita dapat menavigasi melalui pasang surut kehidupan. Mindfulness mengajarkan kita untuk mengamati saat-saat yang tidak adil ini tanpa menghakimi atau menolak, memungkinkan kita untuk merespons dengan kebijaksanaan alih-alih bereaksi karena frustrasi.
2) Kebahagiaan adalah pekerjaan dari dalam
Sebagai seorang pelajar mindfulness, saya menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah tentang apa yang kita miliki, melainkan bagaimana kita memandang apa yang kita miliki. Kesadaran ini adalah pengubah permainan bagi saya.
Kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa jika kita bisa mendapatkan promosi jabatan, membeli rumah, atau menemukan pasangan yang sempurna, maka kita akan bahagia. Namun kenyataannya, faktor-faktor eksternal ini hanya dapat membawa kebahagiaan sementara.
Thich Nhat Hanh, seorang biksu Buddha terkenal dan guru perhatian penuh, pernah berkata: “Tidak ada jalan menuju kebahagiaan - kebahagiaan adalah jalannya.” Kutipan yang mendalam ini sangat mengena di hati saya dan mengubah cara pandang saya terhadap kebahagiaan.
Kebahagiaan bukanlah tujuan yang harus dicapai; kebahagiaan adalah pola pikir yang harus dikembangkan. Ini adalah tentang menemukan kepuasan pada saat ini, tidak peduli seberapa tidak sempurnanya hal tersebut.
Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengejar tujuan atau berusaha untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, ini adalah tentang tidak melampirkan kebahagiaan kita pada pencapaian eksternal. Sebaliknya, mari kita pelihara rasa damai dan sukacita batin yang tetap mantap apa pun keadaannya.
3) Pengampunan itu membebaskan
Salah satu pelajaran yang paling kuat namun menantang yang saya pelajari adalah kekuatan dari pengampunan. Ajaran Buddha mengajarkan kita bahwa menyimpan kebencian adalah seperti memegang bara api dengan maksud untuk melemparkannya ke orang lain; Anda adalah orang yang akan terbakar.
Ketika kita menolak untuk memaafkan, kita mengikatkan diri kita pada masa lalu, membiarkan luka lama mengendalikan masa kini. Kemarahan dan kebencian dapat menjadi beban berat yang membebani kita, menghalangi kita untuk maju dan menemukan kedamaian.
Memaafkan bukan berarti melupakan atau memaafkan kesalahan yang telah dilakukan kepada kita. Melainkan, ini adalah tentang melepaskan rasa sakit yang terkait dengan kesalahan tersebut. Ini adalah tentang membebaskan diri kita dari penjara dendam dan kepahitan.
Hal ini tidak mudah, dan membutuhkan keberanian dan kekuatan yang besar. Tetapi ketika kita berhasil memaafkan, kita tidak hanya membebaskan orang lain dari kebencian kita; kita membebaskan diri kita sendiri dari belenggu sakit hati di masa lalu.
Dalam ajaran Buddha, pengampunan dipandang sebagai sebuah perjalanan menuju pencerahan - perjalanan menuju kebebasan. Dan pada akhirnya, bukankah itu yang kita semua cari?
4) Saat ini adalah satu-satunya yang benar-benar kita miliki
Mindfulness telah mengajarkan saya bahwa saat ini adalah satu-satunya hal yang benar-benar kita miliki. Ini adalah pelajaran yang mentah, jujur dan bisa jadi sulit untuk benar-benar diinternalisasi, terutama di dunia kita yang serba cepat di mana kita terus-menerus merencanakan, mengkhawatirkan, dan berjuang untuk masa depan.
Kita sering menghabiskan begitu banyak waktu untuk merenungkan masa lalu atau menekankan pada masa depan sehingga kita lupa untuk hidup di masa sekarang.
Kita sering menghabiskan begitu banyak waktu untuk merenungkan masa lalu atau menekankan pada masa depan sehingga kita lupa untuk hidup di masa sekarang. Tapi masa lalu sudah berlalu dan masa depan tidak dijanjikan. Yang kita miliki hanyalah saat ini.
Berfokus pada saat ini bukan berarti mengabaikan pengalaman masa lalu atau tidak merencanakan masa depan. Sebaliknya, ini adalah tentang tidak membiarkan hal-hal tersebut mencuri perhatian dan kegembiraan kita dari apa yang terjadi saat ini.
Ketika kita mempraktikkan perhatian penuh, kita belajar untuk terlibat sepenuhnya dengan setiap momen yang ada, apakah itu menikmati secangkir kopi, mendengarkan orang yang kita cintai, atau merasakan angin yang menerpa kulit kita.
Dengan demikian, kita dapat merasakan hidup lebih dalam dan menemukan kegembiraan di saat-saat yang paling sederhana. Bagaimanapun juga, hidup bukan hanya tentang mencapai tujuan; tetapi juga tentang menikmati perjalanan di sepanjang jalan. Dan perjalanan itu terbentang di sini dan saat ini.