← Beranda
Anak yang Tumbuh dengan Orang Tua Otoriter, Sering Memiliki 8 Ciri Berikut saat Dewasa
Irfan FerdiansyahSenin, 8 Juli 2024 | 13.15 WIB
OTORITER: Orang tua yang suka mengontrol anak biasanya memiliki 11 ciri ini (psychologytoday.com)

JawaPos.com - Orang tua yang ketat atau otoriter cenderung mengatur segala aspek kehidupan anak-anak mereka dengan aturan yang kaku dan harapan yang tinggi. Pola asuh seperti ini seringkali membawa dampak jangka panjang bagi anak-anak saat mereka dewasa.

Dilansir dari Ideapod, terdapat delapan ciri umum yang sering berkembang di masa dewasa bagi individu-individu tersebut:

1. Kedisiplinan Tinggi

Orang yang dibesarkan dengan aturan yang ketat biasanya sangat disiplin. Mereka terbiasa mengikuti aturan dan rutin yang ketat, sehingga membawa kebiasaan ini hingga dewasa.

Kedisiplinan ini dapat bermanfaat dalam banyak aspek kehidupan, seperti pekerjaan dan studi, di mana mereka cenderung memiliki kinerja yang konsisten dan terorganisir.

2. Tingkat Stres yang Tinggi

Tuntutan yang tinggi dari orang tua yang ketat dapat membuat anak-anak merasa tertekan dan cemas. Efek ini bisa berlanjut hingga dewasa, di mana mereka mungkin sering merasa cemas atau stres dalam menghadapi berbagai situasi, terutama yang melibatkan ekspektasi tinggi atau kritik.

3. Ketakutan terhadap Kegagalan

Individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang sangat ketat sering kali mengembangkan ketakutan yang mendalam terhadap kegagalan. Mereka mungkin merasa bahwa kegagalan tidak bisa diterima dan membawa konsekuensi yang serius.

Akibatnya, mereka bisa menjadi sangat keras pada diri sendiri dan terus-menerus berusaha untuk menghindari kesalahan.

4. Kepatuhan pada Otoritas

Orang tua yang ketat cenderung mengajarkan anak-anak mereka untuk menghormati dan mematuhi otoritas tanpa pertanyaan.

Anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang cenderung menghormati aturan dan otoritas, meskipun dalam beberapa kasus, ini bisa mengarah pada kurangnya kemampuan untuk membela diri atau menentang ketidakadilan.

5. Kesulitan dalam Mengambil Keputusan

Karena sering kali keputusan mereka diambil oleh orang tua, orang yang tumbuh dengan orang tua yang ketat mungkin merasa sulit untuk mengambil keputusan sendiri. Mereka mungkin meragukan kemampuan mereka untuk membuat pilihan yang tepat dan sering kali mencari persetujuan atau arahan dari orang lain.

6. Kurangnya Keterampilan Sosial

Anak-anak yang dibatasi dalam pergaulan dan aktivitas sosial oleh orang tua yang ketat mungkin memiliki keterampilan sosial yang kurang berkembang. Saat dewasa, mereka mungkin merasa canggung atau tidak nyaman dalam situasi sosial, dan memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi atau membangun hubungan.

7. Tingkat Percaya Diri yang Rendah

Orang tua yang terlalu kritis atau menuntut dapat merusak kepercayaan diri anak. Sebagai orang dewasa, mereka mungkin merasa kurang percaya diri dalam kemampuan dan nilai diri mereka.

Ini bisa mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk karier dan hubungan pribadi.

8. Kemandirian yang Kuat atau Sebaliknya, Ketergantungan yang Tinggi

Pengalaman dengan orang tua yang ketat dapat menghasilkan dua hasil yang berbeda dalam hal kemandirian. Beberapa individu mungkin menjadi sangat mandiri karena keinginan untuk membuktikan bahwa mereka bisa mengatur hidup mereka sendiri tanpa intervensi orang tua.

Di sisi lain, beberapa mungkin menjadi sangat bergantung pada arahan dan dukungan dari orang lain karena mereka tidak terbiasa membuat keputusan sendiri.

-------

Pengasuhan yang ketat dapat memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan individu. Meski beberapa karakteristik seperti kedisiplinan tinggi dan kepatuhan pada otoritas bisa dianggap positif, ada juga banyak tantangan yang mungkin dihadapi oleh individu-individu ini di masa dewasa.

Penting untuk memahami bahwa setiap orang adalah unik, dan respons terhadap pola asuh yang ketat dapat bervariasi. Bagi mereka yang merasa kesulitan dengan dampak dari masa kecil mereka, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang baik untuk memahami dan mengatasi masalah ini.

EDITOR: Edy Pramana