JawaPos.com - Overparenting merupakan praktik dimana orang tua selalu melindungi dan terlibat terlalu dalam pada kehidupan anak-anak mereka.
Overparenting ini memiliki dampak yang sangat berpengaruh bagi kehidupan anak-anak mereka, bahkan dampaknya bisa dirasakan hingga anak tersebut dewasa.
Dilansir dari The Expert Editor pada Senin (1/7), inilah 7 tanda yang menunjukkan bahwa Anda mengalami overparenting saat masih kecil, serta bagaimana hal ini dapat mempengaruhi perkembangan Anda secara keseluruhan di masa dewasa.
1. Kesulitan dalan membuat keputusan
Orang yang mengalami overparenting selama masa kecil cenderung mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan saat dewasa.
Ini disebabkan karena selama masa kecil, orang tua seringkali membuat semua keputusan penting bagi mereka, seperti memilihkan pakaian, menentukan teman bergaul, atau mengatur aktivitas sehari-hari.
Ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan cenderung mencari pendapat orang lain atau terus-menerus meragukan diri sendiri sebelum membuat keputusan.
2. Kurangnya keterampilan dasar dalam hidup
Orang yang mengalami overparenting saat masih kecil cenderung memiliki kekurangan dalam mengembangkan keterampilan dasar dalam hidup.
Hal ini disebabkan karena orang tua mereka terlalu aktif dalam melakukan segala sesuatu untuk anak-anak mereka, tanpa memberikan kesempatan bagi anak mereka untuk belajar dan mempraktikkan keterampilan-keterampilan penting, seperti memasak, mencuci pakaian, atau mengelola tugas-tugas sehari-hari lainnya.
Sebagai akibatnya, ketika mereka dewasa, mereka merasa kesulitan atau kurang percaya diri dalam melakukan hal-hal yang seharusnya menjadi bagian dari kemandirian mereka.
Baca Juga: Pemegang Rekor Penampilan Terbanyak Pemain Persebaya Surabaya, Tersisa Dua Pemain Musim Depan
3. Kesulitan menghadapi kegagalan
Orang yang mengalami overparenting saat masih kecil cenderung mengalami kesulitan dalam menghadapi kegagalan di masa dewasa.
Hal ini disebabkan karena orang tua mereka selalu melindungi mereka saat mengalami kegagalan atau kesulitan.
Ketika anak-anak tidak diberi kesempatan untuk menghadapi dan mengatasi kegagalan secara langsung, mereka tidak belajar bagaimana cara mengelola atau bangkit dari kegagalan tersebut.
4. Ketergantungan pada orang lain
Baca Juga: Harga BBM Shell, BP, dan Vivo Kompak Turun, Ini Daftar Harga Terbaru Per 1 Juli 2024
Orang yang mengalami overparenting saat masih kecil cenderung memiliki sikap ketergantungan pada orang lain saat ia dewasa.
Hal ini disebabkan karena selama masa kecil, orang tua mereka selalu hadir untuk menyelesaikan masalah atau mengatasi kesulitan, sehingga anak tidak perlu belajar cara mengatasi tantangan sendiri.
Akibatnya, ketika tumbuh dewasa, mereka merasa sulit untuk mengelola hal-hal secara mandiri.
Mereka bisa terus-menerus meminta saran atau membutuhkan orang lain untuk mengambil alih tanggung jawab mereka.
5. Rendahnya kepercayaan diri
Orang yang mengalami overparenting saat masih kecil cenderung memiliki risiko untuk mengalami rendahnya kepercayaan diri di masa dewasa.
Hal ini disebabkan karena orang tua mereka terlalu aktif dalam melindungi dan mengambil alih tanggung jawab, sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka sendiri.
Baca Juga: Jawa Pos 75 Tahun, Kolaborasi Terbaik Bersama Telkom Indonesia
Contohnya, saat anak ingin mencoba hal baru atau menghadapi tantangan, orang tua yang terlalu protektif cenderung tidak memberikan dorongan atau bahkan mengkritik secara berlebihan, yang dapat membuat anak merasa tidak yakin dengan kemampuan dan nilai dirinya sendiri.
6. Takut akan konfrontasi
Orang yang mengalami overparenting saat masih kecil cenderung memiliki risiko untuk mengalami ketakutan akan konfrontasi di masa dewasa.
Orang tua mereka cenderung menghindari konfrontasi atau cepat-cepat menyelesaikan masalah untuk anak-anak mereka, sehingga anak tidak belajar bagaimana menghadapi atau menangani situasi yang menuntut keberanian dan komunikasi yang jelas.
Akibatnya, ketika mereka dewasa, mereka merasa tidak nyaman atau bahkan takut untuk menghadapi percakapan yang sulit, karena tidak memiliki pengalaman yang memadai dalam mengelola konfrontasi.
7. Cenderung berhati-hati dan takut akan risiko
Orang yang mengalami overparenting selama masih kecil cenderung terlalu berhati-hati dan takut akan risiko, saat ia dewasa.
Hal ini disebabkan karena mereka dibesarkan dalam lingkungan di mana mereka dilindungi secara berlebihan dari membuat kesalahan atau menghadapi konsekuensi negatif.
Pengalaman ini dapat membuat mereka enggan untuk mengambil risiko atau melangkah keluar dari zona nyaman mereka.
Mereka akan merasa cemas atau takut akan kemungkinan mengalami kegagalan atau kesulitan, karena tidak terbiasa menghadapi tantangan secara langsung selama masa pertumbuhan mereka.