JawaPos.com – Bekerja dengan jadwal sistem shift mulai dari shift malam,shift terpisah atau shift bergilir ternyata bisa memengaruhi kesehatan Anda dalam jangka panjang.
Memang untuk kurun waktu dekat terlihat tidak menimbulkan risiko kesehatan yang mengkhawatirkan.
Pasalnya kerja shift sendiri bisa memengaruhi cara dan waktu Anda makan, tidur, berolahraga hingga menjaga hubungan dengan diri sendiri. Ironisnya, banyak orang yang belum memahami efek kerja shift ini bahkan kerap menyepelakan.
Adapun tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi para pekerja dengan kerja shift adalah terganggunya ritme sirkadian.
Dikutip dari laman National Institute of General Medical Sciences bahwa ritme sirkadian adalah perubahan fisik, mental hingga perilaku tubuh yang dialami organisme selama siklus 24 jam.
Ritme sirkadian disebabkan banyak faktor mulai dari terang dan gelap, asupan makanan, stres, aktivitas fisik, lingkungan sosial hingga suhu.
Terutama untuk kerja shift malam seringkali mengganggu sistem tubuh yang diatur oleh ritme sirkadian salah satunya siklus tidur/bangun.
Pada dasarnya semakin lama Anda bekerja dengan jadwal kerja shift maka semakin tinggi risiko Anda terkena masalah kesehatan kronis.
Dilansir dari laman UCLA Health, Senin (24/6), berikut beberapa dampak kesehatan jangka panjang dari kerja shift diantaranya :
1. Kanker
Ritme sirkadian yang tidak seimbang memengaruhi fungsi tubuh Anda. Hal ini dapat mengganggu perbaikan DNA, siklus sel dan kematian sel.
Program Toksikologi Nasional mengungkapkan bahwa gangguan berkelanjutan pada ritme sirkadian bisa menyebabkan kanker.
Sekalipun Anda cukup tidur, pembalikan terang dan gelap yang dialami para pekerja dengan kerja shift dapat memengaruhi produksi dan pelepasan melatonin.
Melatonin merupakan hormon yang membantu Anda tertidur lebih cepat dan tidur lebih banyak.
Ketika sel tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan tidak diperbaiki saat tidur nyenyak maka bisa menyebabkan kerusakan DNA, tumbuhnya sel tumor hingga kanker juga lebih mudah berkembang.
2. Penyakit kardiovaskular
Dampak lain dari kerja shift adalah memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan stroke.
Sebuah studi menemukan bahwa risiko kematian akibat segala penyebab dan penyakit kardiovaskular lebih tinggi pada perempuan yang kerja shift malam secara bergilir selama 5 tahun atau lebih dibandingkan dengan perempuan yang tidak pernah kerja shift malam.
Para ahli mengaitkan risiko penyakit ini yang lebih tinggi pada pekerja shift dengan stress kronis yang disebabkan oleh mempertahankan jadwal yang tidak standar. Selain itu tekanan darah tinggi yang dikaitkan dengan jam kerja yang lebih panjang.
3. Gangguan saluran pencernaan
Orang yang kerja shift bergilir lebih mudah mengalami gangguan pencernaan seperti ketidaknyamanan perut, sembelit, diare hingga sindrom iritasi usus besar.
Disfungsi usus dapat terjadi akibat kurang tidur yang berhubungan dengan kerja shift.
Banyak pekerja shift mengonsumsi jumlah kalori yang sama dengan pekerja non shift. Namun pola makan mereka lebih cenderung mencakup makanan olahan yang dapat mengubah mikrobioma usus.
4. Gangguan kesehatan jiwa
Bekerja dengan jadwal shit membuat Anda sulit menjaga hubungan dengan diri sendiri bahkan membuat Anda terisolasi.
Orang yang bekerja semalaman lebih berisiko mengalami stres dan kesulitan psikologis dibandingkan orang yang bekerja dengan jadwal standar di siang hari.
Dalam sebuah penelitian terhadap lebih dari 175 ribu orang, para peneliti menemukan fakta bahwa kerja shift dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena depresi dan kecemasan. Intinya semakin tinggi frekuensi shift maka semakin tinggi pula risikonya.
5. Gangguan metabolisme seperti obesitas, sindrom metabolik dan diabetes tipe 2
Gangguan metabolisme adalah kondisi yang berkembang dari terganggunya metabolisme. Metabolisme sendiri merupakan proses pengubahan makanan menjadi energi.
Kerja shift yang mengubah ritme sirkadian Anda dapat mengganggu keseimbangan hormon yang memandu metabolisme Anda. Mulai dari obesitas, sindrom metabolik hingga diabetes tipe 2.