← Beranda
7 Jenis Manipulasi Psikologis yang Sering Terjadi: Pernahkah Kamu Menjadi Korban Salah Satunya?
Trinaifa ArdiantiRabu, 12 Juni 2024 | 11.50 WIB
Ilustrasi seseorang terkena manipulasi psikologis./Pexels

JawaPos.com - Menjadi manusia berarti hidup berdampingan sebagai makhluk sosial. Dalam interaksi sosial, terkadang seseorang bisa melakukan hal-hal tertentu untuk membuatmu mengiyakan suatu pernyataan atau berpihak padanya.

Hal-hal tersebut bisa jadi adalah manipulasi psikologis. Sesuai dengan namanya, manipulasi seringkali tidak disadari oleh lawan bicaranya.

Tidak hanya terhadap pasangan, manipulasi psikologis ini bisa berlaku pada teman atau keluarga. Selalu ingat bahwa perilaku-perilaku manipulasi psikologis tidak akan membawa kebaikan padamu sebagai korban.

Oleh karenanya, perlu untuk memahami berbagai jenis manipulasi psikologis. Hal ini perlu dilakukan untuk menelaah apakah kamu pernah atau sedang mengalami manipulais psikologis.

Beirkut tujuh jenis manipulasi psikologis yang sering terjadi:

1. Gaslighting

Gaslighting adalah salah satu metode manipulasi yang membuatmu perlahan-lahan tidak mempercayai pemikiranmu atau pengalamanmu sendiri.

Dilansir dari situs web Healthline, gaslighting dilakukan dengan membuatmu berpikir bahwa hal yang kamu kemukakan adalah imajinasi.

Sebagai contoh, ketika kamu menyatakan bahwa sebuah kejadian A terjadi, orang tersebut akan menyangkal. Lebih jauh, orang tersebut akan mengatakan kalimat semacam "semua orang tahu bahwa kejadian A tidak benar terjadi" atau "kamu pasti berkhayal/lupa".

2. Love bombing

Love bombing adalah perilaku membombardir lawan bicara dengan cinta dalam bentuk pujian atau hadiah. Biasanya diterapkan pada pasangan, perilaku ini adalah salah satu bentuk penyiksaan emosional untuk mendapatkan kontrol atas hubungan.

Dilansir dari situs web Verywell Health, love bombing akan terjadi sampai batas waktu tertentu. Setelah usai, mereka akan menjadi sosok yang berbeda, dingin dan jauh dari genggaman.

Hal ini merugikan karena perilaku tersebut memungkinkan seseorang disanjung setinggi-tingginya untuk kemudian digunakan dan dihancurkan sesuka hati.

3. Guilt tripping

Guilt trip adalah perkataan atau perbuatan untuk membalikkan keadaan dimana kamu menjadi orang yang bersalah.

Dilansir dari situs web Healthline, seseorang akan membuat pernyataan dramatis yang menyulitkan ketika sedang berada dalam pertengkaran atau adu argumen.

Contoh kalimat guilt trip yang sering terdengar adalah "Kalau kamu pergi, aku akan mati" atau "Kalau pekerjaan ini tidak selesai, berarti sampai disitu saja dedikasimu terhadap kantor" dan lain sebagainya.

Dalam situasi ini, korban dari guilt trip akan ditodong kelemahan emosionalnya untuk meminta maaf dan merasa bersalah.

4. Isolation

Isolation atau isolasi berarti seseorang ingin mengisolasi kamu dari teman dan keluargamu. Dilansir dari situs web Psych Central, tujuannya adalah untuk memisahkanmu dari orang yang mungkin menyadari manipulasi yang terjadi.

Para pelaku akan mencoba meyakinkan bahwa teman dan keluargamu adalah pihak yang jahat. Setelah kamu sudah sepenuhnya terisolasi dari teman dan keluarga, memanipulasimu lebih lanjut akan lebih mudah.

5. Silent treatment

Silent treatment atau mendiamkan adalah salah satu dari bentuk manipulasi psikologis yang ada. Dilansir dari Healthline, perilaku ini bisa berupa mengabaikan pesan, telepon bahkan komunikasi langsung.

Dengan mendiamkanmu, pelaku lambat laun akan memegang kendali atas hubungan serta membuatmu merasa bertanggung jawab atas perilaku yang sebenarnya mereka lakukan.

6. Passive Aggresive

Dari segala jenis manipulasi psikologis orang yang pasif-agresif bisa dibilang salah satu yang berbahaya. Hal ini dikarenakan pelaku menghindnari konfrontasi langsung namun membicarakan hal tajam dibalik kata-katanya.

Dilansir dari Healthline, pelaku pasif-agresif bisa membicarakanmu dibelakang atau memanfaatkan orang sekeliling kamu.

Sebagai contoh, pelaku akan mengatakan hal-hal seperti "aku ingin memberi tahu sesuatu, tapi aku tahu kamu pasti sibuk". Apabila tidak awas, kamu bisa-bisa tidak menyadari ada orang yang manipulatif di sekitarmu.

7. Victimizing

Terakhir yakni victimizing adalah perilaku menempatkan diri sendiri sebagai korban sesuai namanya.

Meskipun situasinya dia adalah pelaku, tindakan manipulasi ini bisa membuat orang mengira bahwa dia adalah korban dalam kejadian tersebut.

Dilansir dari Forbes, tindakan victimizing ini bertujuan untuk mendapat dimpati dan juga kontrol atas situasi.

Apabila kamu tidak bereaksi dengan benar, salah-salah kamu bisa terlihat sebagai pelaku padahal bukan.

Beberapa jenis manipulasi psikologis diatas sangat mungkin untuk ditemukan di kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya orang yang memusuhimu, kadangkala orang terdekat bisa menjadi pelaku yang menerapkan manipulasi ini. Sebisa mungkin, kamu harus tetap kuat agar keadaan tidak berbalik menyerangmu.

EDITOR: Hanny Suwindari