JawaPos.com – Masa kanak-kanak adalah masa dimana seharusnya menjadi masa kepolosan, pembelajaran dan penuh petualangan.
Namun bagi banyak anak muda justru menganggap masa kanak-kanak dan pra remaja adalah masa yang penuh dengan kecemasan, ketakutan, dan obsesif.
Bahkan hal tersebut bisa melewati batas dari kerusakan normal hingga gangguan psikologis yang nyata. Seperti yang dicatat oleh American Psychological Association :
“Sekitar 11,6% anak-anak mengalami kecemasan pada tahun 2012, naik 20% dari tahun 2007. Namun selama pandemi, angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat, sehingga 20,5% remaja di seluruh dunia kini berjuang dengan gejala kecemasan.”
Dilansir dari laman Ideapod, terdapat tanda yang menunjukkan anak Anda sedang berjuang melawan kecemasan diantaranya :
1. Mereka mulai menjadi menarik diri secara emosional dan stres
Anak yang sedang mengalami kecemasan biasanya semakin menarik diri dengan memudarnya minat terhadap aktivitas, olahraga dan persahabatan sebelumnya.
Pada intinya anak Anda akan semakin menutup diri dan menjadi tidak responsif terhadap hari-harinya dan sering kali tampak gelisah dan mudah tersinggung.
Seorang Profesor Elana Bernstein dari Fakultas Psikologi Universitas Dayton menjelaskan bahwa sebagian besar masalah kesehatan mental khususnya kecemasan muncul biasanya pada masa awal sekolah menengah atau dasar.
2. Mereka mulai menghindari orang atau tempat tertentu
Anak-anak yang menderita kecemasan sering kali mempunyai pemicu atau pengalaman traumatis tertentu yang memicunya.
Baca Juga: Benarkah Orang yang Memiliki Gigi Renggang Beruntung? Intip Penjelasannya dari Sisi Astrologi
Misalnya, mereka memiliki rasa takut yang sangat besar akan ketidaksukaan yang diakibatkan penindasan akibatnya menjadi sangat cemas secara sosial dan mulai menghindari situasi sosial apapun.
Seorang MD dari Child Mind Institute yaitu Dr. Roy Boorady menjelaskan bahwa anak-anak dengan kecemasan yang tidak diobati juga mulai mengembangkan keterampilan mengatasi masalah yang buruk. Contoh yang umum adalah penghindaran.
3. Mereka mulai takut akan ketidakpastian dan terobsesi dengan “bagaimana jika”
Kecemasan pada anak sering kali menghasilkan pola kekhawatiran yang obsesif. Bahkan mereka selalu khawatir dan takut menyamakan ketidakpastian dengan hasil yang buruk. Hal ini dilakukan untuk menurunkan risiko ancaman di masa depan.
Pada intinya anak yang mengalami kecemasan mungkin mencoba meminimalkan jumlah situasi tidak pasti yang mereka hadapi.
4. Mereka termakan oleh berbagai bentuk kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan
Kekhawatiran obsesif yang ditimbulkan dari kecemasan dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan menjadi patologis ketika kekhawatiran mulai menghalangi anak Anda dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Bahkan anak Anda juga sering kali kehilangan minat pada tugas sekolah dan keberhasilan akademis serta hubungan sosial.
5. Mereka mulai mengalami lebih banyak kesulitan tidur
Seorang anak yang menderita kecemasan sering kali mulai mengalami insomnia. Hal ini dapat berkembang menjadi masalah sistemik yang lebih besar karena ketakutan mereka mulai mengganggu malam-malam mereka bukan hanya siang hari.
Menurut McLean Clinic, kecemasan pada anak dapat muncul dalam berbagai cara seperti penghindaran aktivitas atau pengalaman, mudah tersinggung dan sulit tidur.
6. Mereka menyerang secara tiba-tiba dan menjadi sangat mudah tersinggung
Seorang anak yang menderita kecemasan berarti sistemnya sedang menentukan respons melawan atau lari. Namun dalam beberapa kasus, mereka mengalami kelumpuhan atau respons keragu-raguan terhadap kecemasan.
Ketika respons “pertarungan” seorang anak dipicu oleh rasa takut, mereka mungkin akan menyerang, bertindak marah dan sangat frustasi dan bersikap menentang secara tiba-tiba.
7. Mulai mengalami gejala klasik berupa kecemasan dan panik
Masalah kecemasan pada anak cepat atau lambat akan muncul dalam gejala kecemasan mulai dari kesehatan, kesulitan bernapas, sesak napas, pusing, keringat dingin, jantung berdebar-debar, nyeri hingga kesulitan berkonsentrasi.