← Beranda
Tips Parenting: 6 Tips Memuji Anak yang Efektif untuk Mendorong Kepercayaan Diri dan Kesuksesan Anak
Mellyna Putri DiniarSabtu, 10 Februari 2024 | 02.50 WIB
Ilustrasi keluarga yang menghabiskan waktu bersama.

 

JawaPos.com – Anak-anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada orang tua.

Namun, mendidik anak tidaklah mudah. Orang tua perlu memberikan dukungan, bimbingan, dan kasih sayang yang tepat agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang sukses dan percaya diri.

Salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung perkembangan anak adalah dengan memberikan pujian.

Pujian yang tepat dan tulus bisa memberikan dampak positif bagi anak, seperti meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, kreativitas, dan kesejahteraan psikologis.

Namun, tidak semua pujian bisa memberikan efek yang baik. Pujian yang berlebihan, tidak jujur, atau tidak spesifik bisa membuat anak merasa tidak dihargai, tidak puas, atau bahkan malas.

Oleh karena itu, orang tua perlu tahu hal-hal apa saja yang perlu dipuji pada anak dan bagaimana cara memberikan pujian yang efektif.

Dilansir dari HackSpirit, Jumat (9/2), berikut adalah 6 tips memuji anak yang efektif untuk mendorong kepercayaan diri dan kesuksesan anak Anda:

Baca Juga: Ratusan Emak-Emak Cangkruk Bareng Generasi Merdeka Bahas Parenting

1. Pujilah usaha dan proses belajarnya, bukan hasil akhir

Orang tua sering kali memuji anak berdasarkan hasil akhir yang dicapai, misalnya nilai bagus, juara lomba, atau prestasi lainnya. Namun, hal ini bisa membuat anak merasa bahwa hasil akhir adalah segalanya dan mereka tidak perlu belajar lagi.

Padahal, usaha dan proses belajar yang dilakukan anak adalah hal yang lebih penting untuk dipuji. Dengan memuji usaha dan proses belajar, orang tua bisa mengajarkan anak bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah, tetapi harus diperjuangkan dengan kerja keras, tekun, dan pantang menyerah.

2. Puji Kemampuan dan bakat yang dimiliki anak, bukan penampilan fisik

Penampilan fisik adalah hal yang sering kali dipuji oleh orang tua, terutama pada anak perempuan. Namun, pujian yang berfokus pada penampilan fisik bisa membuat anak merasa bahwa penampilan fisik adalah hal yang paling penting dan menentukan nilai diri mereka. 

Hal ini bisa berdampak negatif bagi kesehatan mental dan kepercayaan diri anak, terutama ketika mereka mengalami perubahan fisik atau mendapat komentar negatif dari orang lain.

Sebaliknya, orang tua sebaiknya memuji kemampuan dan bakat yang dimiliki anak, misalnya kemampuan akademik, olahraga, seni, atau lainnya. 

Dengan memuji kemampuan dan bakat, orang tua bisa mengajarkan anak bahwa mereka memiliki potensi yang besar dan bisa berkembang sesuai dengan minat dan passion mereka.

Baca Juga: 10 Tips Parenting Membentuk Karakter Anak Sejak Dini, Ini Keterampilan yang Wajib Dimiliki Orang Tua

3. Pujilah sikap dan perilaku yang baik anak, bukan melabeli kepribadiannya

Orang tua sering kali memuji anak berdasarkan kepribadian yang mereka miliki, misalnya “kamu anak yang baik,” atau “kamu anak yang rajin.” Namun, hal ini bisa membuat anak merasa bahwa kepribadian mereka adalah hal yang tetap dan tidak bisa berubah.

Padahal, kepribadian adalah hal yang dinamis dan bisa berkembang seiring dengan waktu dan pengalaman. Jika orang tua terus-menerus memuji anak berdasarkan kepribadian, anak bisa merasa terjebak dalam label yang diberikan dan tidak mau mengembangkan diri.

Sebaliknya, orang tua sebaiknya memuji sikap dan perilaku yang baik yang ditunjukkan anak, misalnya sikap sopan, jujur, bertanggung jawab, atau peduli. Dengan memuji sikap dan perilaku, orang tua bisa mengajarkan anak bahwa mereka bisa memilih dan mengontrol cara mereka bersikap dan berperilaku.

Contoh pujian yang bisa diberikan adalah:

- “Terima kasih sudah membantu ibu mencuci piring. Kamu anak yang bertanggung jawab.”

- “Ayah bangga kamu berani mengakui kesalahanmu. Kamu anak yang jujur.”

4. Pujilah kemajuan dan perkembangan yang dicapai anak, bukan perbandingan dengan orang lain

Orang tua sering kali memuji anak dengan membandingkan mereka dengan orang lain, misalnya "kamu lebih pintar dari temanmu", "kamu lebih cepat dari saudaramu", atau "kamu lebih cantik dari tetanggamu". 

Namun, hal ini bisa membuat anak merasa bahwa mereka harus bersaing dan menang dari orang lain untuk mendapatkan pujian.

Padahal, setiap anak adalah individu yang unik dan memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda. Jika orang tua terus-menerus memuji anak dengan membandingkan mereka dengan orang lain, anak bisa merasa tidak bahagia, cemburu, iri, atau bahkan minder.

Sebaliknya, orang tua sebaiknya memuji kemajuan dan perkembangan yang dicapai anak, tanpa membandingkan mereka dengan orang lain. Dengan memuji kemajuan dan perkembangan, orang tua bisa mengajarkan anak bahwa mereka harus berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, bukan orang lain.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Berikan Kelas Parenting Puspaga di Balai RW

5. Puji keunikan dan kreativitas yang dimiliki anak, bukan kesempurnaan

Orang tua sering kali memuji anak berdasarkan kesempurnaan yang mereka capai, misalnya “kamu tidak pernah salah” atau “kamu sempurna.” Namun, hal ini bisa membuat anak merasa bahwa mereka harus selalu sempurna dan tidak boleh membuat kesalahan.

Padahal, tidak ada manusia yang sempurna dan kesalahan adalah hal yang wajar dan bisa menjadi pelajaran berharga. Jika orang tua terus-menerus memuji anak berdasarkan kesempurnaan, anak bisa merasa tertekan, takut gagal, atau bahkan menyerah.

Sebaliknya, orang tua sebaiknya memuji keunikan dan kreativitas yang dimiliki anak, misalnya ide-ide orisinal, cara berpikir yang berbeda, atau hasil karya yang menarik. Dengan memuji keunikan dan kreativitas, orang tua bisa mengajarkan anak bahwa mereka adalah individu yang spesial dan berharga, serta memiliki kontribusi yang positif bagi dunia.

6. Emosi dan perasaan yang dirasakan anak, bukan penyangkalan

Orang tua sering kali memuji anak dengan menyangkal atau mengabaikan emosi dan perasaan yang dirasakan anak, misalnya “kamu tidak perlu sedih”, “kamu tidak boleh marah”, atau “kamu tidak usah takut.” Namun, hal ini bisa membuat anak merasa bahwa emosi dan perasaan mereka tidak penting dan tidak valid.

Padahal, emosi dan perasaan adalah hal yang alami dan manusiawi, yang perlu diakui dan diungkapkan dengan cara yang sehat. Jika orang tua terus-menerus memuji anak dengan menyangkal atau mengabaikan emosi dan perasaan mereka, anak bisa merasa tidak dipahami, tidak dihargai, atau bahkan depresi.

Sebaliknya, orang tua sebaiknya memuji emosi dan perasaan yang dirasakan anak, dengan cara yang empati dan mendukung.

Dengan memuji emosi dan perasaan, orang tua bisa mengajarkan anak bahwa mereka memiliki hak untuk merasakan dan mengekspresikan emosi dan perasaan mereka, serta bisa mengelola dan mengatasi emosi dan perasaan mereka dengan baik.

Baca Juga: Parenting Cara Melatih Anak Tidur Sendiri untuk Kemandirian Anak, Ternyata Butuh Kesabaran

Contoh pujian yang bisa diberikan adalah:

- “Ibu mengerti kamu sedih karena nilai ujianmu bekum bagus. Kamu berhak merasakan sedih. Ibu ada di sini untuk mendengarkan dan mendukungmu.”

Itulah 6 tips memuji anak yang efektif untuk mendorong kepercayaan diri dan kesuksesan anak Anda. Pujian yang tepat dan tulus bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan anak, baik secara fisik, mental, maupun sosial. 

Orang tua perlu memberikan pujian yang sesuai dengan usia, situasi, dan kebutuhan anak, serta menghindari pujian yang berlebihan, tidak jujur, atau tidak spesifik. 

Dengan memberikan pujian yang efektif, orang tua bisa menjadi orang tua yang baik dan mendukung anak untuk mencapai potensi terbaik mereka. Semoga artikel ini bermanfaat dan selamat mencoba!

***

EDITOR: Novia Tri Astuti