← Beranda
Apakah Resolusi Tahun Baru Masih Penting? Begini Kata Psikolog
Alfa KamilaSenin, 1 Januari 2024 | 23.18 WIB
Ilustrasi daftar resolusi tahun baru



JawaPos.com–Dunia masih gegap gempita dengan sisa-sisa perayaaan pergantian tahun dari 2023 menuju 2024. Begitu juga dengan sosial media, berbagai ucapan dan konten tahun baru pun turut malang-melintang di linimasa berbagai platform.

Momen pergantian tahun selalu identik dengan perayaan yang meriah. Namun di sisi lain, menuju tahun baru juga sekaligus menjadi evaluasi untuk diri sendiri, tentang pencapaian, mimpi-mimpi, hingga resolusi.

Resolusi menjadi bahasan yang hampir setiap tahun berulang. Biasanya, setiap orang akan ramai-ramai mencatat daftar resolusi mereka untuk tahun berikutnya, tentang apa-apa yang belum terpenuhi di tahun sebelumnya.

Umumnya, mereka berharap tahun baru menjadi tahun keberuntungan, baik tentang karir, perjalanan hidup, kondisi diri sendiri, jodoh atau mimpi-mimpi lainnya yang ingin diraih.

Namun begitu, dewasa ini, resolusi menjadi seperti angin lalu belaka. Tak sedikit orang-orang yang menginjak dewasa, mulai tak peduli lagi tentang resolusi.

Diwakili oleh sosial media, banyak yang mengatakan bahwa ‘tak perlu muluk-muluk soal resolusi, bisa tetap hidup saja sudah baik’.

Tentu bukan tanpa alasan. Boleh jadi, mereka adalah orang-orang yang pernah sebegitu menggebunya soal resolusi di tahun-tahun sebelumnya. Apa-apa yang sudah mereka catat dan rencanakan sebagai resolusi, acap kali tak berjalan sebagaimana mestinya.

Entah karena kendala pada diri sendiri yang kurang mengikat komitmen, atau terjadinya hal-hal di luar prediksi yang membuat rencana menjadi berantakan. Melihat fenomena ini, lantas apakah benar resolusi mulai tak penting lagi bagi kehidupan kebanyakan orang?

Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, menanggapi tentang hal itu. Dia menuturkan, meski sosial media menampilkan gambaran tentang tidak pentingnya resolusi, namun Novi dengan tidak sejalan dengan itu.

Dilansir dari Antara, Senin (1/1), Novi mengatakan bahwa apapun situasi dan kondisinya, resolusi tetap dibutuhkan oleh setiap orang, untuk menjalin komitmen dengan dirinya sendiri seiring berjalannya waktu menuju masa depan.

“Membangun resolusi itu perlu karena manusia itu berbeda dengan makhluk hidup lain. Bedanya, salah satu hal yang utama adalah manusia memiliki kesadaran diri yang digunakan untuk membuat pemikiran-pemikiran prediktif dalam hidup,” kata Novi.

Ia menjelaskan, resolusi sejatinya tak harus dibuat saat tahun baru dan tak melulu sesuatu yang besar. Resolusi bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari seseorang.

Misalnya, ingin bangun lebih pagi esok harinya, mulai mengkonsumsi makanan sehat, mulai membiasakan minum air putih lebih banyak, berangkat kerja lebih awal, dan lain-lain.

“Itu bagus dan butuh momen karena kalau nggak, ada nggak sih manusia yang nggak punya resolusi atau cita-cita? Ada, sehingga butuh momen untuk merefleksi dia mencatat capaian apa yang sudah dibuat dan perbaikan apa yang ingin dia lakukan untuk ke depan,” jelasnya.

Lebih lanjut, berbicara soal kegagalan yang terjadi saat menjalankan proses itu, Novi menyebut hal itu wajar. Terwujud atau tidaknya sebuah resolusi, tergantung bagaimana seseorang tersebut erat mengikat komitmennya untuk diri sendiri.

“Kuncinya itu komitmen untuk mengubah perilaku-perilaku sederhana, atau kebiasaan kecil. Resolusi besar itu tidak akan ke mana-mana kalau kita memulai dari langkah kecil,” lanjutnya.

Selain itu, baik resolusi besar atau kecil, kesemuanya itu haruslah dibangun dari alasan yang kuat. Sehingga seseorang tersebut akan berupaya dan berkomitmen agar alasan tersebut terpenuhi atau terjawab.

“Dia tahu alasan untuk berubah. Itu yang terpenting, dia tahu kalau ditanya orang lain, alasannya kuat. Misalnya, ‘Kenapa ingin menurunkan berat badan?’, nah ada lima pertanyaan ‘mengapa’ untuk mengujinya,” lanjutnya.

Soal bagaimana membangun komitmen resolusi, Novi memberi tip agar seseorang terlebih dahulu bertanya kepada diri sendiri, tentang alasan ingin mengejar resolusi tersebut. Tanyakanlah hal yang sama sebanyak lima kali ke diri sendiri.

Apabila dalam lima kali pertanyaan itu, seseorang bisa menjawab dengan jawaban yang sama, maka itu memperlihatkan komitmen yang kuat untuk membangun resolusi.

“Kalau nggak tau ‘mengapa’-nya dan hanya mengikuti tren, biasanya nggak akan bertahan lama,” imbuhnya. (*)
 

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan