← Beranda

Menurut Psikologi, 8 Kebiasaan Sehari-hari Ini Membuat Orang Tidak Pernah Bahagia

Zainul MuzzakiSabtu, 8 Februari 2025 | 05.45 WIB
Ilustrasi orang yang tidak bahagia (Freepik/8photo)

JawaPos.com – Kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menjalani hidup setiap hari.

Sementara sebagian orang secara alami menemukan kegembiraan dalam hal-hal kecil, yang lain tampaknya terjebak dalam siklus ketidakpuasan, apapun yang mereka capai.

Menurut psikologi kebiasaan harian tertentu dapat membuat kamu hampir tidak mungkin merasa benar-benar bahagia.

Jika kamu terus-menerus merasa tidak puas atau kesulitan menikmati hidup, kamu mungkin terjebak dalam beberapa pola ini tanpa menyadarinya.

Baca Juga: Persebaya Surabaya Salah Belanja Pemain? Paul Munster Akui Butuh Striker Pembunuh Usai Kekalahan dari Persis Solo

Dilansir dari Blog Herald pada Jumat (7/2), berikut 8 kebiasaan sehari-hari yang membuat orang tidak pernah bahagia.

  1. Selalu fokus pada apa yang hilang

Beberapa orang selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Apapun yang dicapai, mereka cepat beralih ke tujuan berikutnya tanpa menghargai apa yang sudah dimiliki. 

Psikolog menyebutnya sebagai "kekeliruan kedatangan" yakni keyakinan keliru bahwa kebahagiaan akan datang begitu kamu mencapai tujuan tertentu.

Masalahnya, begitu kamu sampai di sana, rasa puas tidak akan pernah benar-benar bertahan lama.

Baca Juga: Pecinta Kucing vs Pecinta Anjing: Seorang Psikolog Ungkap 7 Perbedaan Kepribadian di Antara Keduanya, Anda Tipe Mana?

  1. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Scrolling media sosial dan melihat rekan kerja mendapat promosi, membeli rumah, atau berkeliling dunia dapat menimbulkan keraguan pada diri sendiri. Tidak peduli apa yang telah kamu capai, selalu ada orang yang tampaknya lebih baik.

Psikologi menunjukkan bahwa perbandingan terus-menerus adalah cara pasti untuk merasa tertinggal.

Diusulkan oleh psikolog, Leon Festinger pada tahun 1954, Teori Perbandingan Sosial ini menjelaskan bagaimana individu menentukan nilai sosial dan pribadi mereka sendiri berdasarkan pada bagaimana mereka dibandingkan dengan orang lain.

  1. Berkutat pada pikiran negatif

Pikiran negatif itu wajar, tetapi sebagian orang terus-menerus memikirkan kekhawatiran, skenario terburuk, atau kesalahan yang menyakitkan.

Hal ini dikenal sebagai perenungan, dan telah dikaitkan dengan stress, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi.

Penelitian oleh psikolog, Susan Nolen-Hoeksema menunjukkan bahwa perenungan dapat mengintensifkan dan memperpanjang episode depresi karena menjebak orang dalam pemikiran negatif yang berulang.

  1. Berpegang teguh pada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan

Agama Buddha mengajarkan bahwa keterikatan adalah penyebab utama penderitaan. Bila kita terlalu terikat pada orang lain, hasil, atau harapan kita sendiri maka akan mengalami frustasi karena hidup jarang mengikuti alur yang kita inginkan.

Ketika kita terobsesi dengan faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan, kita mengikis rasa keagenan dan kesejahteraan kita.

  1. Menghindari ketidaknyamanan dengan segala cara

Mudah untuk menunda keputusan besar atau pembicaraan sulit demi menghindari stress atau ketakutan.

Namun, masalah tidak hilang begitu saja karena kita mengabaikannya, sebaliknya masalah akan terus menumpuk. Pertumbuhan sering kali disertai dengan ketidaknyamanan.

Peck, seorang psikiater, menekankan bahwa ketidaknyamanan merupakan bagian penting dari pertumbuhan dan tidak boleh terus-menerus dihindari.

  1. Terlalu mengejar kebahagiaan

Kedengarannya berlawanan dengan intuisi, tetapi orang-orang yang mengutamakan "kebahagiaan" di atas segalanya sering kali berakhir dengan perasaan tidak puas.

Bila kamu terus-menerus mengukur seberapa bahagia perasaan, kamu cenderung akan menyadari dan terpaku pada momen-momen ketika kamu tidak bahagia.

Peneliti bernama Iris Mauss menemukan bahwa semakin banyak orang berusaha untuk bahagia, semakin besar pula rasa kecewa yang mereka rasakan. Terlalu berfokus pada kebahagiaan justru dapat membuat kamu kurang bahagia.

  1. Menyimpan dendam

Memendam rasa kesal memang terasa wajar ketika kamu telah disakiti, tetapi dendam lebih merugikan orang yang menyimpan dendamnya daripada orang lain.

Penelitian menunjukkan bahwa memaafkan dapat menurunkan stress, meningkatkan kesehatan mental, dan bahkan bermanfaat bagi kesehatan fisik.

Psikolog Fred Luskin dari Stanford Forgiveness Projects telah menunjukkan bahwa melepaskan kepahitan dapat mengurangi tekanan darah, meringankan gejala depresi, dan memperkuat hubungan.

  1. Mengabaikan momen saat ini

Hidup di masa lalu atau masa depan berkutat pada penyesalan, khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya mencegah kamu mengalami satu-satunya waktu yang benar-benar ada saat ini.

Mindfulness mengajarkan bahwa berfokus pada saat ini tanpa menghakimi adalah kunci untuk mengurangi stress dan menemukan kepuasan sejati.

Kebahagiaan bukanlah tujuan yang jauh tetapi kebahagiaan terjalin dalam detail-detail kehidupan sehari-hari yang biasa.

Namun, banyak orang melewatkannya dengan mengejar, membandingkan, atau berpegang pada hal-hal yang hanya menciptakan lebih banyak penderitaan.

Penelitian psikologis menunjukkan tidak ada kata terlambat untuk mengubah pola kamu.

Dengan berfokus pada masa kini, mengelola perbandingan, dan melepaskan apa yang tidak dapat dikendalikan, kamu dapat membuka ruang bagi kedamaian dan kebahagiaan yang mungkin sudah ada di bawah hidung kamu.

EDITOR: Hanny Suwindari