← Beranda
10 Tahun Hayate Ramen, Kisah Ramen Jepang Pertama di Bhutan Taklukkan Dataran Tinggi
Dhimas GinanjarKamis, 10 September 2026 | 18.23 WIB
Foto yang diambil pada 27 Juni 2026 memperlihatkan pemilik restoran Tshering bersama istrinya, Sayaka Sakurai, di Hayate Ramen, Thimphu, Bhutan. (Kyodo)

JawaPos.com - Hayate Ramen, restoran ramen pertama di Bhutan, berhasil bertahan selama satu dekade di tengah tantangan tak biasa akibat lokasinya yang berada 2.300 meter di atas permukaan laut. Pemiliknya, Tshering, bahkan harus bereksperimen bertahun-tahun karena air di ibu kota Thimphu mendidih lebih cepat dibandingkan di dataran rendah Jepang.

Restoran yang dikelola Tshering bersama istrinya, warga Jepang Sayaka Sakurai, kini menjadi salah satu tempat makan populer di Thimphu. Dilansir dari Kyodo, Kamis (10/9), Hayate Ramen melayani sekitar 150 mangkuk ramen per hari dari restoran berkapasitas 74 kursi. Antrean bahkan terkadang terbentuk saat jam makan siang.

Perdana Menteri Bhutan Tshering Tobgay juga tercatat sebagai salah satu pelanggan restoran tersebut sejak sebelum menjabat sebagai perdana menteri.

Tshering, 48, sebelumnya bekerja sebagai sopir dan montir mobil di sebuah agen perjalanan. Ia bertemu Sakurai, 50, ketika perempuan Jepang itu berkunjung ke Bhutan bersama ibunya sekitar 2006 atau 2007. Keduanya kemudian menikah pada 2009.

Pada 2010, pasangan tersebut pindah ke Kota Tsukuba, Prefektur Ibaraki, Jepang, yang berada dekat kampung halaman Sakurai di Sakuragawa. Tshering belajar bahasa Jepang secara otodidak, bekerja di sebuah pabrik mobil, dan mulai menyukai ramen setelah menjelajahi berbagai restoran ramen di kota tersebut.

"Tshering jatuh cinta pada ramen," kata Sakurai. Selama enam setengah tahun tinggal bersama di Jepang, menurutnya, Tshering hampir setiap hari menyantap ramen.

Kecintaan itu kemudian mendorong Tshering untuk mempelajari cara membuat ramen. Ia bekerja paruh waktu di sebuah restoran ramen dan mulai memikirkan apa yang bisa dibawanya pulang ke Bhutan.

Awalnya ia mempertimbangkan kembali bekerja di industri otomotif. Namun, ia kemudian menyadari ramen berpotensi diterima di Bhutan jika disesuaikan dengan selera lokal, terutama karena masyarakat negara tersebut menyukai cabai.

Tshering kemudian mengikuti kursus selama lima hari di Yamato Ramen School di Prefektur Kagawa. Di sana ia mempelajari pembuatan mi dan kuah, berbagai topping, hingga pengelolaan restoran.

"Kalau saya tidak pergi ke sekolah itu, saya tidak akan berada di tempat saya sekarang. Itu adalah titik balik dalam hidup saya," ujarnya.

Pasangan tersebut menginvestasikan tabungan mereka untuk membuka usaha, ditambah dana dari crowdfunding. Mereka kemudian terbang ke Bhutan dengan tiket sekali jalan.

Hayate Ramen mulai beroperasi pada November 2016. Namun, kondisi Thimphu yang berada di ketinggian langsung menghadirkan masalah.

Air di kota tersebut mendidih sekitar 5 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan di dataran rendah Jepang. Kondisi itu membuat Tshering kesulitan menghasilkan kuah ramen dengan cita rasa kaya seperti yang dipelajarinya di Jepang.

Ia kemudian bereksperimen dengan waktu perebusan, resep mi, serta komposisi air lunak lokal hingga menemukan formula yang sesuai.

Masa awal usaha juga sangat berat. Tshering mulai bekerja sejak pukul 02.00 untuk menyiapkan kuah, sementara Sakurai terkadang tidur di samping mesin pembuat mi karena tidak sempat pulang ke rumah.

Pelanggan awalnya sangat sedikit. Pada beberapa hari, penjualan mereka hanya mencapai 2.000 ngultrum atau sekitar USD21, setara dengan sekitar lima mangkuk ramen berdasarkan harga saat ini.

"Tahun pertama benar-benar berat dan stres terus menumpuk," kata Sakurai. Beberapa pegawai bahkan berhenti datang bekerja tanpa memberi kabar. Ia sempat mempertanyakan berapa lama mereka bisa bertahan, sementara uang mereka bahkan tidak cukup untuk membeli tiket pesawat pulang.

Meski demikian, pasangan tersebut tidak mengorbankan kualitas. Mereka menggunakan bahan lokal jika memungkinkan dan membuat sendiri sejumlah topping. Pemasok lokal bahkan sempat kebingungan ketika Tshering meminta tulang babi, bukan daging, untuk membuat ramen tonkotsu.

Perlahan, reputasi Hayate Ramen menyebar karena kualitas makanan yang konsisten dan pelayanan yang cepat. Paparan masyarakat Bhutan terhadap makanan Jepang melalui ponsel juga membuat pelanggan mulai meminta menu lain, seperti ayam goreng karaage dan sushi roll.

Pasangan tersebut kemudian memperluas menu dengan menambahkan tsukemen, nasi kari, agedashi tofu, serta pilihan daging sapi, ayam, babi, dan menu vegetarian.

"Kalau keluarga atau sekelompok teman datang dan tidak ada sesuatu yang bisa dimakan semua orang, mereka akan pergi ke tempat lain. Menawarkan apa yang diinginkan orang adalah salah satu alasan kami bisa bertahan selama 10 tahun," kata Sakurai.

Kini sekitar 80 persen pelanggan Hayate Ramen merupakan warga Bhutan. Sebagian bahkan datang dari kota kecil dan desa di luar Thimphu khusus untuk menyantap ramen.

Menurut Tshering, banyak warga Bhutan pertama kali mengenal ramen melalui manga Jepang. Anak-anak juga menjadi salah satu kelompok pelanggan terbesar restoran tersebut.

"Kalau anak-anak datang, orang dewasa juga datang," ujar Tshering sambil tertawa. "Terkadang anak-anak berjalan melewati restoran lalu mulai menangis karena ingin ramen."

Bagi Sakurai, yang sebelumnya bekerja sebagai perawat, perkembangan restoran tersebut masih terasa sulit dipercaya.

"Ketika saya melihat restoran dan semua kursinya terisi, terkadang saya masih bertanya-tanya apakah saya sedang bermimpi," katanya.

Pasangan tersebut menamai restoran mereka Hayate, yang berarti angin segar. Nama itu mencerminkan harapan mereka untuk membawa sesuatu yang baru ke Bhutan.

Sepuluh tahun setelah dibuka, restoran ramen pertama Bhutan itu masih terus berkembang dan mempertahankan cita rasa Jepang dengan menyesuaikannya terhadap kondisi serta selera masyarakat setempat.

EDITOR: Dhimas Ginanjar