← Beranda
Dari Peternakan hingga Restoran, Begini Cara Menjaga Ayam Goreng Tetap Krispy dan Juicy
Rian AlfiantoSabtu, 22 Agustus 2026 | 01.55 WIB
Ilustrasi ayam goreng Krispy. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Ayam goreng yang renyah di luar dan juicy di dalam ternyata tidak hanya ditentukan resep. Konsistensi rasa juga bergantung pada rangkaian proses yang dimulai sejak pemilihan bahan baku, pengiriman, penyimpanan, hingga teknik pengolahan di restoran.

Hal ini membuat kualitas ayam goreng menjadi sesuatu yang perlu dijaga dari hulu ke hilir.

Bukan hanya soal bagaimana ayam dibumbui dan digoreng, tetapi juga bagaimana bahan baku dipastikan tetap segar, suhu penyimpanan dikontrol, serta setiap tahapan pengolahan dilakukan sesuai standar.

Baca Juga: Jajanan Khas Jawa Timur yang Tak Lekang Waktu, Ini Resep Lentho Kacang Tolo

Bagi konsumen, proses tersebut mungkin tidak terlihat ketika seporsi ayam goreng sudah tersaji di meja. Namun, sejumlah tahapan penting berlangsung sebelum ayam sampai ke tangan pelanggan.

Kualitas Dimulai dari Ayam Segar

Salah satu faktor yang menentukan kualitas adalah bahan baku. Dalam proses yang diterapkan McDonald's Indonesia, ayam yang digunakan merupakan 100 persen ayam segar dari peternak lokal, bukan ayam beku.

Bahan baku tersebut harus memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari biosecurity, kesehatan dan kesejahteraan hewan, hingga prinsip Halalan Thoyyiban. Setelah melalui proses di rumah potong ayam (RPA), produk kemudian dikirim menggunakan kendaraan berpendingin dan tersegel.

Baca Juga: Pedas, Gurih dan Segar! Begini Resep Seng Geseng Ikan Pindang Khas Madura

Setibanya di restoran, ayam tidak langsung diolah. Kru terlebih dahulu memeriksa kualitas, suhu, dan kondisi produk.

Tahap ini penting untuk memastikan rantai dingin atau cold chain tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko kontaminasi.

Dengan demikian, konsistensi ayam goreng sebenarnya sudah mulai dibangun jauh sebelum proses memasak berlangsung.

Setelah bahan baku dipastikan memenuhi standar, proses berikutnya beralih pada pengolahan. Marinasi dan perendaman dilakukan menggunakan air dingin bersuhu 1-4 derajat Celsius.

Ayam kemudian melalui proses penepungan sebanyak dua kali dengan teknik khusus. Tujuannya menghasilkan lapisan tepung yang renyah secara merata ketika digoreng.

Tahap penggorengan pun memiliki parameter tersendiri, termasuk suhu dan durasi yang harus mengikuti standar operasional. Minyak yang digunakan juga bersertifikat RSPO.

Baca Juga: Menu Hemat dan Mengenyangkan, Begini Cara Membuat Tumis Buncis Bakso

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari Gold Standard yang diterapkan untuk menjaga agar hasil pengolahan tetap konsisten, meski dilakukan di restoran yang berbeda.

"Bagi kami, kualitas bukan hasil dari satu proses melainkan akumulasi dari setiap tahapan yang dijalankan secara disiplin dan konsisten. Karena itu, kami membangun sistem quality assurance yang terintegrasi agar memenuhi standar kualitas, keamanan pangan dan kehalalan yang sama, mulai dari saat bahan baku diterima hingga produk disajikan kepada pelanggan," ungkap Imam Gazali, Quality Assurance Manager PT Rekso Nasional Food.

Selain itu, konsistensi tersebut tidak hanya mengandalkan pengawasan manual.

Baca Juga: Nikmati Kuliner, UMKM, dan Seni untuk Opsi Wisata Akhir Pekan di Sleman

Sistem Digital Food Safety digunakan untuk membantu memantau suhu penyimpanan, pencatatan operasional, serta kepatuhan terhadap standar keamanan pangan secara real-time.

Ada pula sistem traceability yang memungkinkan bahan baku ditelusuri sepanjang proses. Sistem ini membantu memastikan setiap tahap dapat dipantau dan ditelusuri ketika diperlukan.

Bagi konsumen, penerapan teknologi tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal sederhana: memastikan produk yang disajikan tetap memenuhi standar keamanan, kualitas, dan kehalalan.

Baca Juga: Tak Perlu ke Warung, Ini Resep Tongseng Kambing yang Mudah Dibuat Sendiri

Ada Kru Khusus yang Menjaga Hasil Akhir

Meski sistem dan teknologi memiliki peran penting, faktor manusia tetap menjadi bagian yang menentukan. Di restoran McDonald's Indonesia, terdapat kru bersertifikasi yang disebut Ciken Ekspert Ofiser atau CEO.

Mereka bertugas memastikan proses pengolahan ayam berjalan sesuai standar. Untuk menjadi CEO, kru harus melewati seleksi, pelatihan intensif, dua tahap verifikasi kompetensi, serta evaluasi secara berkala.

Peran tersebut membuat CEO menjadi salah satu lapisan terakhir dalam rangkaian pengawasan kualitas sebelum ayam disajikan kepada pelanggan.

"Karena itu, kami memastikan setiap CEO dibekali kompetensi, kedisiplinan, dan pemahaman yang sama agar Gold Standard McD dapat diterapkan secara konsisten," ujar Olia M Sidik, Associate Director of Learning & Development dan Restaurant Solusion Group PT Rekso Nasional Food.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Kuliner Jogja yang Ramah di Kantong, Harga Mulai Rp 9.000

Bagi kru yang menjalankan peran tersebut, tanggung jawabnya bukan sekadar memastikan ayam matang. Mereka juga menjadi bagian dari upaya menjaga pengalaman pelanggan agar tetap konsisten.

Rangkaian pengawasan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Ayam Krispy McD yang telah diperkenalkan sejak 1999. Konsistensi produk tidak hanya dibangun melalui bahan baku lokal, tetapi juga melalui kolaborasi dengan mitra serta pengembangan kompetensi talenta Indonesia.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah