← Beranda
Kulineran di Solo, Dari Timlo Legendaris yang Hangatkan Pagi hingga Ayam Kampung Gurih yang Rela Dikejar Jauh Demi Sepotong Rasa
Zulfa Putri HardiyatiSelasa, 28 Juli 2026 | 20.15 WIB
SEHARIAN KULINERAN DI SOLO, Dari Timlo Legendaris yang Hangatkan Pagi hingga Ayam Kampung Gurih yang Rela Dikejar Jauh Demi Sepotong Rasa (youtube Rumah Canda Melki)

JawaPos.com - Solo bukan hanya tentang kota yang tenang dengan budaya Jawa yang kental, tapi juga tentang rasa yang tumbuh dari keseharian warganya.

 Di kota ini, kuliner bukan sekadar soal makan, melainkan bagian dari tradisi yang terus hidup dari generasi ke generasi.

 Setiap sudutnya seperti punya cerita sendiri—dari warung kecil pinggir jalan hingga tempat makan legendaris yang tetap ramai tanpa perlu banyak promosi.

Yang menarik, kuliner di Solo cenderung tampil sederhana. Tidak berlebihan dalam penyajian, namun justru di situlah letak kekuatannya.

Rasa yang konsisten, bumbu yang meresap, serta harga yang ramah di kantong membuat siapa pun betah berlama-lama menikmati setiap hidangan.

Baru kemudian, pengalaman kuliner ini terasa semakin lengkap saat ditelusuri melalui perjalanan YouTube Rumah Canda Melki, yang mengajak berkeliling menikmati berbagai makanan khas Solo dari pagi hingga malam.

Seharian Kulineran di Solo yang Wajib Dicoba

1. Timlo Sastro, Sarapan Legendaris Sejak 1952 yang Hangat dan Ringan

Memulai hari di Solo rasanya belum lengkap tanpa mencicipi Timlo Sastro, kuliner legendaris yang sudah ada sejak tahun 1952.

Hidangan ini menjadi salah satu ikon sarapan khas Solo yang selalu dicari.

Timlo sendiri adalah sup berkuah bening dengan isian yang cukup beragam, seperti telur pindang, sosis Solo, ati ampela, hingga potongan ayam.

Kuahnya ringan, segar, namun tetap kaya rasa berkat kaldu ayam yang kuat.

Cita rasanya sering disebut mirip soto, tetapi lebih ringan dengan karakter khas tersendiri.

Cocok disantap di pagi hari karena tidak terlalu berat, namun tetap mengenyangkan berkat isiannya yang melimpah.

2. Tahu Kupat Pak Gombloh, Sederhana tapi Punya Rasa yang Nempel di Ingatan

Beranjak ke siang hari, ada satu kuliner sederhana yang justru jadi favorit banyak orang, yaitu tahu kupat.

Salah satu yang cukup terkenal adalah Tahu Kupat Pak Gombloh yang dikenal autentik dan tidak membuka cabang di mana pun.

Seporsi tahu kupat berisi tahu goreng hangat, ketupat, toge, mie, serta tambahan bakwan, lalu disiram dengan bumbu khas yang cenderung manis gurih. Bukan bumbu kacang, melainkan racikan mirip kecap dengan sentuhan petis yang memberikan rasa unik.

Dengan harga sekitar Rp9.500–Rp12.000, hidangan ini terasa sangat terjangkau. Meski sederhana, perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit asam membuatnya sulit dilupakan.

3. Ayam Goreng Kampung Mbak Mul, Gurih Empuk yang Rela Dikejar Hingga Sukoharjo

Menjelang sore hingga malam, perjalanan kuliner berlanjut ke luar kota Solo, tepatnya ke Sukoharjo, untuk mencicipi Ayam Goreng Kampung Mbak Mul yang sudah terkenal di kalangan pecinta kuliner.

Ayam yang digunakan adalah ayam kampung, dimasak hingga empuk dengan bumbu yang meresap sampai ke dalam. Teksturnya lembut, berbeda dengan ayam goreng biasa, dan memiliki rasa gurih yang kuat namun tetap natural.

Biasanya disajikan dengan sambal dan pelengkap seperti trancam, namun banyak juga yang menikmatinya dengan tambahan kecap manis untuk memperkaya rasa.

Meski harus menempuh perjalanan sekitar 30–60 menit, banyak orang rela datang karena kualitas rasanya yang konsisten.

Seharian kulineran di Solo membuktikan bahwa kota ini memiliki kekuatan rasa yang tidak bisa dianggap biasa.

Dari sarapan ringan hingga hidangan berat di malam hari, semuanya menghadirkan pengalaman yang berbeda namun tetap berkesan.

Solo mengajarkan bahwa kelezatan tidak harus datang dari sesuatu yang mewah. Justru dari kesederhanaan, lahir cita rasa yang jujur dan mampu bertahan lama di ingatan.

 Dan mungkin, itulah alasan kenapa banyak orang selalu ingin kembali—bukan hanya untuk kotanya, tapi juga untuk rasa yang selalu berhasil membuat rindu.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho