← Beranda
Seharian Kulineran di Puncak! Dari Hangatnya Roti Arab Pagi Hari hingga Legitnya Sajian Sunda di Ujung Perjalanan
Zulfa Putri HardiyatiSelasa, 28 Juli 2026 | 14.18 WIB
SEHARIAN KULINERAN DI PUNCAK, Dari Hangatnya Roti Arab Pagi Hari hingga Legitnya Sajian Sunda yang Selalu Bikin Rindu di Ujung Perjalanan (youtube Rumah Canda Melki)

JawaPos.com - Di antara hiruk pikuk Jakarta dan padatnya aktivitas kota besar, ada satu tempat yang sejak dulu selalu jadi pelarian, Puncak.

Kawasan dataran tinggi yang bukan hanya menawarkan udara sejuk dan pemandangan hijau, tapi juga pengalaman rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata sederhana.

Kabut yang turun perlahan, udara dingin yang menyentuh kulit, serta deretan warung dan restoran di sepanjang jalan seolah mengajak siapa saja untuk berhenti sejenak. Di sini, makan bukan sekadar kebutuhan, tapi bagian dari perjalanan itu sendiri.

Menariknya, Puncak bukan hanya milik satu budaya. Ada sentuhan lokal Sunda yang hangat, berpadu dengan nuansa Timur Tengah yang kuat.

Dari roti, kopi rempah, hingga sate kambing yang dibakar di udara dingin—semuanya menciptakan pengalaman kuliner yang berbeda dari tempat lain.

Baru kemudian, perjalanan rasa ini terasa semakin hidup saat ditelusuri melalui video YouTube Rumah Canda Melki, yang menjelajahi berbagai kuliner khas Puncak dari pagi hingga menjelang pulang.

Rekomendasi Kuliner Puncak yang Wajib Dicoba

1. Sarapan Unik di Saudi Bakery, Roti Arab dan Teh Rempah yang Menghangatkan Tubuh

Memulai pagi di Puncak dengan sesuatu yang berbeda bisa jadi pengalaman yang menyenangkan. Tidak melulu bubur ayam, ada pilihan sarapan khas Timur Tengah yang justru semakin populer di kawasan ini.

Salah satunya adalah roti tamis yang disajikan hangat, dengan tekstur lembut dan terasa fresh karena dibuat langsung di hari yang sama. Roti ini biasanya disantap dengan kacang khas Arab yang kental serta saus kari yang kaya rempah.

Tak lengkap tanpa minuman, segelas teh susu rempah ala Arab menjadi pelengkap yang sempurna. Rasanya kuat, hangat, dan memberikan sensasi segar di tubuh—cocok untuk melawan dinginnya udara Puncak.

Bagi pecinta rempah, sarapan ini bisa jadi pengalaman yang berbeda dan berkesan. Namun bagi yang kurang terbiasa, rasa kuatnya mungkin terasa cukup menantang.

2. Sate Kambing Hanjawar, Ikon Kuliner Puncak yang Selalu Diburu

Jika berbicara soal kuliner Puncak, sate kambing adalah salah satu yang tidak boleh dilewatkan. Salah satu tempat yang paling terkenal adalah Sate Kambing Hanjawar, yang sudah lama jadi favorit wisatawan.

Daging kambing di sini dikenal empuk, tebal, dan hampir tanpa bau prengus. Proses pembakaran yang perlahan membuat bumbunya meresap sempurna, sementara lemak yang meleleh di atas bara menciptakan aroma khas yang menggoda.

Menariknya, sate ini bahkan sudah dikunjungi berbagai komunitas dan figur publik. Dalam satu hari saat akhir pekan, jumlah sate yang terjual bisa mencapai ribuan tusuk—menjadi bukti betapa populernya tempat ini.

Disajikan dengan kuah atau disantap polos tanpa bumbu pun tetap terasa nikmat. Setiap gigitan menghadirkan sensasi hangat yang sangat cocok dinikmati di tengah udara dingin Puncak.

3. Rumah Makan Alam Sunda, Sajian Prasmanan yang Jadi Favorit Keluarga

Menjelang siang atau sebelum kembali ke Jakarta, banyak wisatawan memilih mampir ke rumah makan Sunda yang sudah cukup dikenal, yaitu Alam Sunda.

Konsep prasmanan membuat pengunjung bebas memilih berbagai lauk yang tersaji, mulai dari ayam kampung, ikan bakar, cumi, udang, hingga aneka sayur dan sambal.

Salah satu daya tariknya adalah pengalaman membuat sambal sendiri sesuai selera. Mulai dari cabai, tomat, terasi, hingga jeruk bisa diracik langsung, menciptakan rasa yang lebih personal.

Menu yang paling sering jadi favorit adalah ayam kampung goreng yang gurih, serta cumi dengan tekstur lembut. Perpaduan rasa sederhana khas Sunda dengan suasana ramai khas Puncak membuat tempat ini selalu penuh, terutama saat akhir pekan.

4. Gemblong Legendaris Ibu Uju, Oleh-Oleh yang Sering Ludes Sebelum Dicoba

Menutup perjalanan, tak lengkap rasanya tanpa mencari oleh-oleh. Salah satu yang cukup terkenal di Puncak adalah gemblong dari Ibu Uju.

Camilan tradisional berbahan dasar ketan ini dikenal memiliki tekstur empuk dan rasa manis yang pas. Namun uniknya, gemblong ini sering kali sudah habis bahkan sebelum banyak orang sempat mencicipinya.

Produksinya terbatas dan banyak dipesan lebih dulu, sehingga tidak jarang pengunjung harus pulang dengan rasa penasaran. Justru dari kelangkaannya itu, gemblong ini semakin terasa spesial.

Puncak mengajarkan satu hal sederhana—bahwa rasa bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat yang awalnya hanya kita anggap sebagai lokasi singgah.

Dari sarapan roti Arab yang hangat, sate kambing yang menggoda, hingga sajian Sunda yang mengenyangkan, semuanya menghadirkan pengalaman yang berbeda dalam satu perjalanan.

Mungkin itulah alasan kenapa orang tetap rela menghadapi macet panjang menuju Puncak. Karena di ujung perjalanan, selalu ada rasa yang bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga meninggalkan kenangan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho