← Beranda
Inovasi Unik Jepang: Mi Udon Sisa Restoran Diubah Menjadi Kertas Biodegradable
Dhimas GinanjarJumat, 5 Juni 2026 | 17.53 WIB
Profesor Naotaka Tanaka (kanan) dari Fakultas Pertanian Universitas Kagawa memperlihatkan kertas yang dibuat dari mi udon bekas di Kota Takamatsu, Prefektur Kagawa, Jepang, 8 Januari 2026. Peneliti setempat mengembangkan pemanfaatan limbah udon menjadi bahan kertas ramah lingkungan. (Kyodo)

JawaPos.com – Mi udon yang tidak terjual atau terbuang di Jepang kini mendapat kehidupan baru. Para peneliti di Prefektur Kagawa berhasil mengubah limbah mi khas Jepang tersebut menjadi kertas ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami.

Dilansir dari Kyodo, Jumat (5/7), inovasi itu dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Kagawa yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah mi udon bekas menjadi lembaran selulosa tipis dengan tekstur menyerupai kertas tradisional Jepang atau washi.

Proyek tersebut dipimpin Profesor Naotaka Tanaka dari Fakultas Pertanian Universitas Kagawa.

Menurut Tanaka, ide tersebut muncul karena banyaknya mi udon yang terbuang di Kagawa, wilayah yang terkenal sebagai kampung halaman Sanuki udon.

"Karena banyak udon yang dibuang di Prefektur Kagawa, saya berpikir pemanfaatan kembali limbah tersebut dapat membantu mengurangi sampah makanan," kata Tanaka.

Ia menjelaskan bahwa proses mengubah udon menjadi gula relatif sederhana sehingga ide tersebut akhirnya diwujudkan menjadi penelitian.

Dalam proses produksinya, mi udon bekas terlebih dahulu dicampur dengan air menggunakan mesin pengaduk.

Selanjutnya ditambahkan enzim untuk memecah pati menjadi glukosa.

Setelah itu, bakteri asam asetat dikembangkan di dalam campuran tersebut hingga secara bertahap menghasilkan lapisan selulosa selama beberapa hari.

Lapisan tersebut kemudian dipindahkan ke wadah khusus dan dikeringkan secara alami tanpa memerlukan proses pembuatan kertas konvensional.

Hasil akhirnya berupa lembaran kertas yang ringan namun cukup kuat.

Satu porsi mi udon dapat menghasilkan antara lima hingga sepuluh lembar kertas ukuran A4.

Menurut Tanaka, material tersebut lebih tahan terhadap air dan sobekan dibandingkan kertas biasa.

Selain itu, kertas juga dapat terurai secara alami di dalam tanah melalui aktivitas mikroorganisme lain sehingga lebih ramah lingkungan.

Tanaka sebenarnya telah membuat kertas berbasis mikroorganisme sejak sekitar 16 tahun lalu sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami cara bakteri menghasilkan membran selulosa.

Namun setelah melihat hasilnya yang ringan dan tahan lama, ia mulai mengeksplorasi potensi pemanfaatannya untuk membantu mengatasi limbah makanan di Kagawa.

"Saya ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan memanfaatkan karakteristik khas daerah ini," ujarnya.

Sekitar tahun 2020, Universitas Kagawa membagikan teknologi tersebut secara gratis kepada sebuah lembaga kesejahteraan sosial di prefektur tersebut.

Tanaka menilai proses produksi kertas dari udon dapat menjadi pekerjaan ringan yang cocok bagi penyandang disabilitas.

Pada tahap awal, proyek sempat menghadapi kendala karena kontaminasi bakteri dan munculnya jamur pada lembaran selulosa yang diproduksi.

Namun setelah proses budidaya dilakukan di dalam kotak dengan suhu terkontrol, produksi menjadi lebih stabil.

Saat ini, fasilitas tersebut mampu memproduksi sekitar 100 lembar kertas per bulan.

Universitas kemudian membeli hasil produksi tersebut sehingga tercipta siklus ekonomi lokal yang melibatkan restoran, peneliti, dan pekerja sosial.

Restoran mitra menyuplai mi udon yang seharusnya dibuang, termasuk mi yang telah kehilangan cita rasa setelah direbus dan dibiarkan terlalu lama.

Kertas hasil daur ulang itu kini telah digunakan untuk membuat berbagai barang promosi dan karya seni.

Para peneliti juga tengah meneliti kemungkinan penggunaan material tersebut sebagai umpan pancing buatan dan produk lain yang memerlukan kemampuan terurai secara alami setelah digunakan.

Sebagai imbalan atas pasokan mi bekas, universitas memberikan data mengenai volume limbah makanan harian serta kondisi cuaca kepada restoran peserta.

Data tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha memprediksi permintaan dengan lebih akurat sehingga jumlah makanan yang terbuang dapat ditekan.

"Saya berharap inisiatif ini bisa menjadi model untuk mengurangi limbah makanan," kata Tanaka.

EDITOR: Dhimas Ginanjar