← Beranda
Saat Jepang Menua, Kedai Teh di Shibuya Hanya Rekrut Karyawan Usia 70 Tahun ke Atas
Dhimas GinanjarRabu, 3 Juni 2026 | 22.13 WIB
Para pekerja di kedai teh G-Cha dan Ba-Cha, Shibuya, Tokyo. (spoon-tamago)

JawaPos.com – Sebuah kedai teh unik di kawasan Shibuya, Tokyo, menarik perhatian publik karena seluruh staf pelayannya berusia di atas 70 tahun.

Di tengah citra Shibuya sebagai pusat budaya anak muda Jepang, kedai bernama G-Cha dan Ba-Cha justru hadir dengan konsep yang berbeda. Para karyawannya mengenakan topi baseball dan kacamata hitam layaknya anak muda, tetapi usia minimum untuk bekerja sebagai pelayan adalah 70 tahun.

Kedai tersebut menerapkan sejumlah aturan khusus demi kenyamanan para pekerja lanjut usia. Mereka melayani pelanggan sambil duduk dan diperbolehkan beristirahat kapan saja ketika merasa lelah.

Namun ada satu aturan yang dianggap paling penting, yakni pekerjaan harus tetap menyenangkan.

Nama G-Cha dan Ba-Cha merupakan permainan kata dari "ojiichan" dan "obaachan", sebutan akrab untuk kakek dan nenek dalam bahasa Jepang, serta "ocha" yang berarti teh.

Kedai ini dibuka pada Maret lalu oleh Entaku Produce Inc. bersama Tokyu Corp. dengan tujuan memberikan kesempatan bagi lansia untuk tetap aktif, sehat, dan bahagia melalui pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Direktur kreatif proyek tersebut, Suguru Myoen, mengatakan Shibuya dipilih karena dikenal sebagai tempat lahirnya berbagai budaya dan ide baru di Jepang.

"Jepang menghadapi tantangan besar berupa populasi yang menua. Sangat berarti jika kami bisa memperkenalkan gagasan untuk mengatasinya dari Shibuya," ujarnya.

Menurut data pemerintah Jepang per Desember 2025, sebanyak 36,21 juta penduduk atau sekitar 30 persen populasi Jepang berusia 65 tahun ke atas.

Antusiasme terhadap konsep ini ternyata sangat tinggi. Meski hanya mempekerjakan 19 staf di bagian depan, kedai tersebut telah menerima sekitar 100 lamaran kerja sejak proses rekrutmen dibuka.

Salah satu karyawan, Masami Okutani yang berusia 70 tahun, mengaku menikmati pekerjaannya karena bisa berinteraksi dengan banyak pelanggan, termasuk wisatawan asing.

"Saya tidak pernah membayangkan pada usia seperti sekarang masih bisa bertemu banyak orang dari berbagai negara," katanya.

Masami memanfaatkan aplikasi penerjemah di ponselnya untuk berkomunikasi dengan pelanggan yang tidak bisa berbahasa Jepang.

Sementara itu, Kyoko Miura yang berusia 73 tahun tertarik bekerja di sana karena konsepnya yang mendukung lansia tetap aktif tanpa harus bekerja terlalu berat.

Untuk memudahkan pekerjaan staf senior, pelanggan diminta menuliskan pesanan mereka pada formulir berbahasa Jepang dan Inggris. Bahkan tersedia pilihan bagi pelanggan yang ingin mengobrol atau berfoto bersama para staf.

Menu yang ditawarkan antara lain G-cha Ginger Hojicha seharga 780 yen (sekitar Rp 86.580, kurs saat ini 1 yen sekitar Rp 111), B-Cha Jasmine Green Tea seharga 800 yen (sekitar Rp 88.800, kurs saat ini 1 yen sekitar Rp 111), serta Matcha Latte seharga 930 yen (sekitar Rp 103.230, kurs saat ini 1 yen sekitar Rp 111).

Minuman tersebut disiapkan oleh staf yang lebih muda, sementara para karyawan lansia bertugas melayani dan mengobrol dengan pelanggan.

Konsep ini mendapat sambutan positif dari pengunjung. Banyak anak muda datang karena melihat video kedai tersebut di media sosial TikTok.

Menurut Myoen, masyarakat Jepang masih sering meremehkan kemampuan lansia untuk tetap aktif dan produktif.

"Masih banyak orang yang belum menyadari bahwa mereka sebenarnya bisa tetap energik dan mampu bekerja," katanya.

Meski lokasi kedai saat ini hanya bersifat sementara karena berada di area pembangunan ulang sekitar Stasiun Shibuya, pihak pengelola berharap gagasan di balik konsep tersebut dapat terus hidup dan menginspirasi lebih banyak tempat kerja di Jepang.

EDITOR: Dhimas Ginanjar