JawaPos.com – Pada musim semi lalu, warga Tokyo, Jepang disuguhkan pengalaman unik ketika Hibiya Park menjadi tuan rumah Festival de Paella & Tapas. Acara ini menghadirkan suasana khas Spanyol dengan musik, tarian, dan dekorasi penuh warna.
Menurut laporan Huffington Post, festival ini bukan sekadar perayaan makanan, melainkan sebuah ajang yang berhasil membawa atmosfer pesta rakyat Spanyol ke jantung Jepang.
Suasana festival semakin hidup ketika lagu-lagu klasik seperti “Que viva España” menggema, sementara para penari flamenco tampil memikat di atas panggung.
Pablo, seorang pengunjung asal Spanyol yang kini tinggal di Tokyo, menggambarkan pengalamannya lewat media sosial dengan penuh nostalgia: “había puestos de paella, calçots, tortilla, jamón, cerveza...”.
Kutipan ini, sebagaimana dicatat Huffington Post, menunjukkan betapa festival tersebut mampu menghadirkan nuansa autentik negeri asalnya.
Lebih jauh, festival ini juga menjadi simbol diplomasi budaya. Dengan menghadirkan paella dan tapas di luar negeri, Spanyol berhasil memperkenalkan identitas kuliner sekaligus mempererat hubungan antarbangsa.
Huffington Post menekankan bahwa Jepang termasuk negara yang paling berupaya menjaga cita rasa orisinal makanan Spanyol ketika diadaptasi secara lokal.
Sementara di belahan lain dunia, tepatnya di Madrid, tapas bukan hanya soal makanan kecil, melainkan bagian dari gaya hidup.
Dalam liputan Food & Wine pada 2023, tapas dipandang sebagai representasi budaya kuliner Spanyol yang berakar dalam tradisi sosial.
Masyarakat setempat biasa menikmati tapas sembari berbincang ringan di bar, menjadikannya pengalaman sosial yang khas dan tak tergantikan.
Salah satu tapas paling populer adalah patatas bravas, yakni potongan kentang goreng renyah yang disajikan dengan saus tomat pedas.
Food & Wine menyebut hidangan ini sebagai ikon yang wajib dicoba bagi siapa pun yang berkunjung ke Madrid. Rasa sederhana namun memikat menjadikannya pilihan favorit di hampir setiap bar di kota ini.
Selain itu, hidangan lain seperti croquetas juga menjadi bintang tapas Madrid. Menurut Food & Wine, croquetas yang biasanya diisi dengan ham, ayam, atau keju mencerminkan kreativitas dapur Spanyol yang mampu mengubah bahan sederhana menjadi hidangan berkelas.
Inilah yang membuat tapas begitu istimewa: ia selalu berhasil menyeimbangkan kesederhanaan dengan kelezatan.
Jika festival di Tokyo mengusung paella sebagai daya tarik utama, maka di Madrid tapas justru hadir sebagai penghubung antarwarga.
Food & Wine menekankan bahwa tapas bukan hanya makanan ringan, melainkan sarana membangun komunitas dan interaksi sosial. Hal ini membuat tapas lebih dari sekadar hidangan, tetapi sebuah tradisi yang hidup dan terus diwariskan.
Kembali ke Tokyo, antusiasme warga Jepang terhadap festival tersebut menegaskan bahwa kuliner mampu menembus batas geografis.
Huffington Post melaporkan banyak warga lokal Jepang yang terpukau, bahkan rela antre panjang demi menikmati sepiring paella. Fenomena ini menunjukkan kekuatan makanan sebagai jembatan lintas budaya.
Jika dibandingkan, maka tampak dua wajah kuliner Spanyol yang berbeda namun saling melengkapi. Di Tokyo, festival paella dan tapas menjadi pertunjukan budaya berskala besar yang meriah.
Sementara di Madrid, tapas hadir sebagai bagian intim dari kehidupan sehari-hari. Kedua bentuk ini memperlihatkan daya tarik universal kuliner Spanyol.
Dengan demikian, baik paella maupun tapas bukan sekadar hidangan. Mereka adalah simbol identitas budaya yang hidup, yang dapat dinikmati di alun-alun Tokyo maupun di bar kecil Madrid.
Perpaduan keduanya menegaskan bahwa cita rasa bisa melintasi samudra, sekaligus mempererat hubungan antarbangsa melalui bahasa yang paling sederhana yaitu makanan.