← Beranda
Crypto Crash Lagi! BTC dan Ethereum Rontok Setelah Amerika Serikat Kembali Serang Iran
Dhimas GinanjarKamis, 28 Mei 2026 | 21.41 WIB
Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Pasar kripto kembali mengalami guncangan besar setelah konflik geopolitik di Timur Tengah memanas. Serangan terbaru Amerika Serikat terhadap target di Iran memicu kepanikan di market global, menghantam aset berisiko termasuk Bitcoin dan Ethereum. Dalam waktu 24 jam, likuidasi posisi derivatif kripto nyaris mencapai USD 1 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun dengan kurs Rp 17.850.

Dikutip dari BeInCrypto, Kamis (28/5), total likuidasi kripto mencapai USD 934,24 juta (Rp 16,67 triliun) dan menghapus sekitar 167.400 akun trader. Mayoritas korban berasal dari trader long yang sebelumnya bertaruh market akan melanjutkan rebound pasca optimisme gencatan senjata pekan lalu.

Bitcoin menjadi aset dengan tekanan terbesar, mencatat likuidasi USD 363 juta (Rp 6,47 triliun). Ethereum menyusul dengan USD 240 juta (Rp 4,28 triliun). Salah satu posisi terbesar yang dilikuidasi adalah long BTC senilai USD 15,34 juta (Rp 273,8 miliar) di platform Hyperliquid.

93 Persen Likuidasi Hantam Trader Long

Data CoinGlass menunjukkan sekitar 93 persen total likuidasi berasal dari posisi long. Ini menandakan market sebelumnya terlalu agresif membangun ekspektasi bullish setelah muncul harapan deeskalasi konflik Iran-Amerika Serikat.

Leverage di market derivatif meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Namun ketika serangan baru terjadi, posisi long langsung runtuh secara berantai.

Bitcoin bahkan sempat jatuh di bawah USD 73.000 atau sekitar Rp 1,3 miliar, memperpanjang penurunan yang sudah dimulai sejak Presiden Donald Trump mulai meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai awal pekan ini.

Amerika Serikat Kembali Serang Iran

Tekanan pasar dimulai setelah US Central Command mengonfirmasi serangan terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz. Amerika Serikat menghancurkan empat drone serang satu arah dan sebuah stasiun kendali di Bandar Abbas.

Washington menyebut target tersebut mengancam pasukan Amerika Serikat serta jalur perdagangan laut di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran mengklaim tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.

Situasi makin tegang setelah Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udara menghadapi ancaman rudal dan drone.

Padahal beberapa hari sebelumnya kedua pihak sempat memberi sinyal menuju kerangka gencatan senjata. Namun dalam rapat kabinet Rabu waktu Amerika Serikat, Trump mengakui negosiasi mulai mandek.

“Iran sedang bernegosiasi dalam kondisi kehabisan napas,” ujar Trump. Ia juga memperingatkan Amerika Serikat bisa “menyelesaikan semuanya” jika kesepakatan gagal tercapai.

Pernyataan keras itu langsung membalik sentimen market yang sebelumnya optimistis.

Minyak Naik, Market Risk-Off Kembali Dominan

Ketegangan di Selat Hormuz membuat harga minyak Brent melonjak karena trader mulai menghitung risiko gangguan suplai energi global. Sentimen risk-off langsung menyebar ke saham dan aset kripto.

Bagi market kripto, kondisi ini mengingatkan pada gelombang likuidasi USD 1,7 miliar yang sempat terjadi awal tahun ketika leverage market kembali terlalu tinggi.

Trader kini fokus memantau funding rate dan open interest dalam beberapa sesi berikutnya untuk melihat apakah market benar-benar melakukan reset atau justru mulai membangun posisi long baru lagi.

Area USD 70.000 Jadi Benteng Berikutnya

Dengan BTC yang sudah kehilangan area support sebelumnya akibat sentimen Hormuz, market kini menunggu apakah Bitcoin mampu mempertahankan level psikologis USD 70.000 atau justru kembali tertekan jika eskalasi konflik berlanjut.

Dalam kondisi geopolitik seperti ini, headline berita dapat dengan cepat mengubah arah market hanya dalam hitungan jam.

Untuk sementara, volatilitas tinggi diperkirakan masih akan mendominasi perdagangan kripto.

Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.

EDITOR: Dhimas Ginanjar