← Beranda
Ahli Nutrisi Buka Suara: Seberapa Besar Suplemen Diet Dapat Membuat Tubuh Kurus!
Cicilia Margarettha• Selasa, 29 September 2026 | 03.50 WIB
Ilustrasi efektivitas suplemen dalam program penurunan berat badan. (Pexels)

 

 

JawaPos.com - Keinginan untuk menurunkan berat badan secara cepat dan instan kerap membuat banyak orang tergiur untuk mengonsumsi berbagai produk suplemen diet yang beredar di pasaran.

Klaim menggiurkan seperti membakar lemak dalam waktu singkat atau menekan nafsu makan secara ekstrem sering kali menjadi daya tarik utama.

Namun, dari sudut pandang medis dan gizi, efektivitas serta keamanan suplemen pangkas berat badan ini masih menjadi pertanyaan besar bagi kesehatan jangka panjang.

Melansir dari laman The Ohio State University pada Senin (28/09), para ahli nutrisi menegaskan bahwa tidak ada suplemen yang dapat menggantikan peran pola makan seimbang dan aktivitas fisik dalam penurunan berat badan.

Sebagian besar suplemen penurunan berat badan bekerja dengan cara meningkatkan laju metabolisme sementara atau menekan akumulasi lemak di tingkat sel.

Dalam studi nutrisi klinis menunjukkan bahwa sebagian besar produk klaim penurun berat badan hanya memberikan dampak yang sangat minimal tanpa disertai perubahan gaya hidup yang mendasar.

Suplemen seperti kitosan, Conjugated Linoleic Acid (CLA), maupun bubuk protein hanya memberikan hasil penurunan berat badan signifikan jika dikombinasikan dengan diet rendah kalori.

Tanpa modifikasi gaya hidup yang mendasar, mengkonsumsi suplemen saja terbukti tidak memberikan perubahan fisik yang berarti serta membawa risiko efek samping pencernaan hingga toksisitas organ.

Berikut adalah beberapa jenis suplemen populer beserta fakta efektivitas dan efek sampingnya menurut ahli nutrisi:

  1. Bubuk Protein

Kerja utama bubuk protein adalah meningkatkan rasa kenyang dengan memperlambat pencernaan.

Namun, efektivitas penurunan berat badan hanya terlihat jika dipadukan dengan diet rendah kalori.

Efek samping yang sering muncul meliputi perut kembung atau diare akibat pemanis alkohol gula serta intoleransi laktosa.

  1. Ekstrak Teh Hijau dan Kitosan

Kafein dalam teh hijau dapat meningkatkan pembakaran kalori saat istirahat, sementara kitosan dipercaya menghambat penyerapan lemak di usus.

Meski begitu, bukti ilmiah teh hijau masih bertentangan, dan kitosan tanpa pembatasan kalori tidak memicu penurunan berat badan signifikan.

  1. Asam Linoleat Terkonjugasi (CLA) dan Glukomanan CLA

Asam Linoleat Terkonjugasi (CLA) dan Glukomanan CLA bekerja meningkatkan pemecahan lemak, sedangkan glukomanan (serat akar konjac) memperbesar rasa kenyang dan mengikat lemak untuk dibuang melalui feses.

Keduanya memiliki bukti efektivitas yang terbatas dan berisiko memicu gangguan pencernaan seperti mual, diare, hingga potensi penyumbatan esofagus jika glukomanan diminum dalam bentuk tablet.

  1. Ekstrak Garcinia Cambogia

Ekstrak ini dipercaya menghambat enzim pembentuk lemak (lipogenesis) dan meningkatkan pelepasan serotonin untuk menekan nafsu makan.

Selain memicu sakit kepala dan mual, penggunaan suplemen ini perlu diwaspadai karena adanya laporan kasus toksisitas hati.

  1. Kunci Utama Tetap Pada Gaya Hidup Sehat

Penurunan berat badan yang ideal dan bertahan lama tidak bisa menggantungkan harapan pada suplemen semata, melainkan wajib bertumpu pada defisit kalori, asupan gizi seimbang, dan olahraga teratur.

Secara keseluruhan, mengkonsumsi suplemen bukan merupakan jalan pintas yang ajaib untuk menurunkan berat badan tanpa adanya komitmen perubahan gaya hidup secara menyeluruh.

Jika Anda memiliki masalah berat badan berlebih atau berniat menjalani program penurunan berat badan yang aman, berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik atau ahli diet untuk mendapatkan rencana nutrisi yang tepat.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti