JawaPos.com - Singapura masih menjadi salah satu tujuan pasien dari Indonesia yang mencari pengobatan kanker.
Namun, alasan pasien menyeberang ke negara tetangga itu dinilai bukan semata karena menganggap dokter di Indonesia kurang mumpuni.
Akses terhadap obat-obatan baru dan teknologi pengobatan kanker menjadi salah satu faktor yang membuat pasien memilih berobat ke Singapura.
Baca Juga: BPOM Dapat Anggaran Rp 1,9 Triliun, Sekitar Rp 509 M Khusus untuk Awasi MBG
Konsultan Senior Onkologi Medis di OncoCare Cancer Centre Singapura dr. Kevin Tay mengatakan, kualitas dokter di kawasan Asia Tenggara pada dasarnya sudah sangat baik.
Persoalannya lebih berkaitan dengan seberapa cepat pasien dapat mengakses perkembangan terapi terbaru.
Saat ini, sekitar 20 persen pasien berasal dari luar Singapura, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Pahit Tapi Enak, Berikut 6 Manfaat Matcha untuk Tubuh dan Mental
“Saya rasa masalahnya bukan pada dokternya, melainkan lebih pada akses ke obat-obatan baru. Pasien tidak hanya dari Indonesia, tetapi dari seluruh kawasan ini, terbang ke sini untuk mendapatkan obat-obatan baru ini, karena mereka ingin memiliki harapan tersebut,” ujar Kevin.
Salah satu contoh yang disampaikan Kevin adalah hadirnya obat telan baru untuk kanker pankreas metastatik.
Terapi target oral tersebut baru mendapat persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada 26 Agustus 2026.
Obat itu diberikan sekali sehari dan bekerja dengan menghambat protein dari keluarga RAS yang berperan dalam pertumbuhan kanker.
Menurut Kevin, obat tersebut sudah tersedia di Singapura.
Kehadiran terapi yang baru memperoleh persetujuan regulator seperti itu menjadi salah satu gambaran mengapa akses terhadap pengobatan terbaru dapat menjadi pertimbangan pasien Indonesia ketika memilih berobat ke Singapura.
Baca Juga: BPOM Dorong Semua Pihak Aktif Lapor Obat yang Terindikasi Bermasalah, Begini Alasannya
Perkembangan pengobatan kanker memang semakin bergerak menuju terapi yang lebih spesifik.
Kanker yang sama belum tentu memiliki karakter biologis yang sama pada setiap pasien.
Pada kanker paru-paru, misalnya, terdapat berbagai mutasi genetik seperti EGFR, ALK, ROS1, BRAF, dan MET yang dapat menentukan pilihan terapi.
Baca Juga: Kenali Tanda Anak Alami Disleksia, Bukan Malas Tapi ada Masalah Neurologis.
Karena itu, pemeriksaan untuk mengetahui karakter biologis kanker menjadi penting.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah Next-Generation Sequencing (NGS), yakni pemeriksaan DNA dari jaringan tumor atau darah untuk mencari mutasi yang mendasari kanker.
“Kanker merupakan penyakit yang disebabkan oleh kerusakan genetik, dan berbagai kerusakan genetik itu dalam perjalanannya akumulasinya menjadi kanker,” kata Kevin.
Baca Juga: TBC dan Stroke Telan Banyak Korban, 100 Juta Orang Ditarget Ikuti Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Menurut dia, temuan mutasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar pemberian terapi target.
Berbeda dari kemoterapi yang dapat memengaruhi sel tumor sekaligus sel normal, terapi target diarahkan pada target atau jalur tertentu yang berperan dalam pertumbuhan kanker.
Pada kanker paru-paru dengan mutasi EGFR, misalnya, tersedia obat oral yang dirancang untuk memblokir mutasi tersebut.
Kevin mengatakan pendekatan serupa juga telah berkembang untuk sejumlah mutasi lainnya.
Baca Juga: Penderita Saraf Kejepit Jangan Asal Berenang, Ini Gaya yang Dianjurkan agar Tidak Semakin Parah
Perkembangan tersebut datang di tengah meningkatnya beban kanker secara global.
Dalam pemaparan yang diberikan, disebutkan hampir separo kasus kanker baru dunia berasal dari Asia.
Untuk kawasan Asia Tenggara, estimasi 2024 yang dipaparkan mencapai 2,62 juta kasus baru.
Baca Juga: Tidak Hanya Saraf Kejepit, Renang Ternyata Bisa Kurangi Sakit pada Tulang Belakang hingga 69 Persen
Di Indonesia, dengan populasi hampir 300 juta jiwa, angka kejadian yang dipaparkan berada di kisaran 400 ribu kasus baru per tahun.
Angka kejadian kanker Indonesia yang dipaparkan juga berada di kisaran 135 per 100 ribu penduduk, lebih rendah dibandingkan Singapura yang sekitar 231–235 per 100 ribu.
Kevin menjelaskan, angka kejadian yang lebih tinggi justru banyak terlihat di negara yang lebih maju.
Baca Juga: Jangan Tunggu Sampai Sakit, Dokter Ungkap Kapan Waktu yang Tepat ke Klinik Gigi
Karena itu, perbandingan angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan kualitas layanan kesehatan suatu negara.
Di sisi lain, pengobatan kanker kini tidak lagi hanya mengandalkan kemoterapi.
Kevin mencontohkan pasien kanker paru-paru metastatik dengan mutasi EGFR yang telah menjalani terapi oral selama bertahun-tahun.
Pasien tersebut, kata dia, pertama kali datang pada usia 65 tahun dan kini berusia 78 tahun.
Baca Juga: BPOM Batalkan Izin Tiga Obat Penambah Stamina Pria yang Mengandung Pyrimidenafil
Kasus tersebut menjadi gambaran bahwa metastasis tidak selalu berarti pasien tidak memiliki harapan hidup.
Menurut Kevin, terapi yang tersedia saat ini memungkinkan sebagian pasien mengendalikan kanker dalam jangka panjang, meski pengobatan dapat membutuhkan biaya besar dan konsumsi obat secara terus-menerus.
“Memiliki kanker metastatik bukan berarti itu adalah hukuman mati. Maksud saya, kita memiliki banyak pilihan sekarang di luar sekadar kemoterapi,” katanya.
Baca Juga: Tren Influenza A Naik Akhir Tahun, Kemenkes Jelaskan Penyebabnya
Selain obat, teknologi tertentu juga menjadi pertimbangan pasien.
Konsultan Senior Onkologi Radiasi di Asian Alliance Radiation & Oncology (AARO) sekaligus Direktur Medis CSR dr. Jonathan Teh menyebut terapi radiasi kini semakin dipersonalisasi.
Dia mencontohkan terapi proton sebagai salah satu teknologi yang belum sepenuhnya tersedia di Indonesia, meski menegaskan dokter Indonesia memiliki kemampuan dan terapi sinar-X yang sudah canggih.
Baca Juga: 3 Petunjuk yang Mengarah pada Anak Mengalami Keracunan Makanan
“Terapi radiasi saat ini sangat dipersonalisasi. Kami mempertimbangkan lokasi dan ukuran tumor, organ sehat di sekitarnya, tujuan pengobatan, dan bagaimana radiasi harus diintegrasikan dengan pengobatan lainnya," terang Jonathan.
"Itulah mengapa komunikasi lintas spesialisasi sangat penting ketika merencanakan pengobatan untuk setiap pasien,” ujar Jonathan.