← Beranda
3 Petunjuk yang Mengarah pada Anak Mengalami Keracunan Makanan
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 15 September 2026 | 03.27 WIB
Ilustrasi keracunan makanan. (Gemini AI)

 

 

JawaPos.com - Ada tiga petunjuk utama yang dapat mengarah pada dugaan anak mengalami keracunan makanan. Hal ini penting diketahui seiring dengan banyaknya kasus keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR Dr Yogi Prawira, SpA, Subsp ETIA(K), mengatakan pola munculnya gejala pada sejumlah orang yang mengonsumsi makanan atau minuman dari sumber sama menjadi petunjuk yang paling kuat untuk mengarah pada keracunan makanan.

Namun, ia mengingatkan bahwa petunjuk tersebut belum dapat menjadi bukti pasti penyebab keracunan. Investigasi tetap diperlukan agar kondisi lain yang memiliki gejala serupa tidak terlewatkan.

1. Gejala Muncul Berkelompok

dr. Yogi menjelaskan, keracunan makanan patut dicurigai ketika sejumlah orang mengalami gejala yang sama setelah berbagi makanan, minuman, atau tinggal di tempat yang sama.

"Petunjuk ke arah keracunan makanan yang pertama tentu gejalanya berkelompok muncul bersamaan pada orang yang berbagi makanan, minuman, atau tempat tinggal," katanya kepada wartawan, Senin (14/9).

Ia mencontohkan, apabila puluhan anak di sekolah tiba-tiba mengalami muntah pada waktu yang hampir bersamaan setelah mengonsumsi makanan dari sumber yang sama, pola tersebut dapat menjadi petunjuk adanya kejadian luar biasa (KLB).

"Kalau ada puluhan anak muntah waktu bersamaan sumber yang sama. Nah, pola berkelompok ini, pola KLB ini, ini salah satu petunjuk," tuturnya.

2. Ada Riwayat Mengonsumsi Makanan Berisiko

Petunjuk kedua adalah adanya riwayat paparan makanan atau minuman yang memiliki risiko menyebabkan gangguan kesehatan.

Beberapa di antaranya yakni daging unggas yang kurang matang, susu tanpa proses pasteurisasi, serta madu yang diberikan kepada bayi berusia di bawah 12 bulan.

Riwayat makanan yang dikonsumsi tersebut penting disampaikan kepada tenaga kesehatan karena dapat membantu proses investigasi untuk mencari kemungkinan penyebab keracunan.

3. Waktu Muncul Gejala Sesuai

Petunjuk berikutnya adalah kesesuaian waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala atau yang disebut hubungan temporal.

Menurut dr. Yogi, jeda waktu dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan mekanisme penyebab keracunan. Misalnya, seseorang mengonsumsi makanan pada pukul 10.00 kemudian muntah pada pukul 12.00.

"Makan pukul 10, muntah pukul 12. Ini polanya racun. Kalau gejala baru timbul dua hari kemudian, bisa jadi mekanismenya berbeda," jelasnya.

Meski demikian, dr. Yogi menegaskan bahwa kedekatan waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala bukan bukti pasti bahwa makanan tersebut merupakan penyebabnya.

"Kedekatan waktu ya temporal atau peristiwa yang berurutan tadi itu adalah petunjuk. Itu bukan bukti," tegas dr. Yogi.

Jangan Langsung Menyimpulkan Penyebab

Namun begitu, dr. Yogi mengingatkan agar masyarakat maupun pihak sekolah tidak terburu-buru menetapkan makanan tertentu sebagai penyebab hanya berdasarkan urutan waktu kejadian.

Menurutnya, kesimpulan yang terlalu dini justru berisiko membuat diagnosis lain yang mungkin dialami anak menjadi tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Baca Juga: Banyak Kasus Keracunan MBG, Kenali 4 Ciri Umum Makanan Tak Layak Makan

"Kalau kita menyimpulkan terlalu dini, semua ditunjuk-tunjuknya disebabkan karena habis makan atau habis minum ini, maka kita khawatir ada diagnosis lain yang tertutupi yang kalau kita tidak cari tidak ketahuan dan tidak diobati," pungkasnya.

 

EDITOR: Kuswandi