JawaPos.com - Ingin hidup lebih santai dan tidak mudah stres? Kenali 5 rahasia perawatan diri dari berbagai budaya dunia, mulai dari hygge hingga tradisi onsen dari Jepang.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, banyak orang mencari cara sederhana untuk mengurangi stres dan mendapatkan kembali ketenangan.
Menariknya, jawabannya tidak selalu harus berupa rutinitas mahal, liburan jauh, atau perawatan kecantikan yang menghabiskan banyak biaya.
Berbagai budaya di dunia justru memiliki tradisi sederhana yang menempatkan istirahat, kebersamaan, kesadaran diri, dan kenyamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Beberapa di antaranya bahkan telah menjadi kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
seperti informasi dalam artikel ini, diambil dan dirangkum dari laman YourTango, artikel ini membahas lima praktik perawatan diri dari berbagai budaya yang dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih santai.
Berikut lima rahasia perawatan diri dari berbagai budaya dunia yang bisa menjadi inspirasi untuk menjalani hari dengan lebih tenang.
1. Hygge dari Skandinavia: Menemukan Kebahagiaan dari Hal-Hal Sederhana
Salah satu konsep yang populer ketika membicarakan kehidupan yang tenang adalah hygge dari kawasan Skandinavia, terutama Denmark.
YourTango menjelaskan bahwa hygge berkaitan dengan menciptakan suasana yang hangat, nyaman, dan menyenangkan, baik ketika seseorang sedang bersama orang lain maupun ketika menikmati waktu seorang diri.
Hygge tidak harus diwujudkan melalui rumah mewah atau dekorasi mahal. Secangkir teh hangat, selimut nyaman, cahaya lampu yang lembut, membaca buku, menikmati percakapan bersama keluarga, atau duduk santai di dekat perapian dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Inti dari hygge sebenarnya terletak pada kemampuan menikmati momen kecil tanpa merasa harus terus mengejar sesuatu.
Konsep ini menarik diterapkan dalam kehidupan modern karena banyak orang merasa harus selalu produktif.
Bahkan ketika sedang beristirahat, pikiran masih memikirkan pekerjaan, target, media sosial, atau daftar tugas berikutnya.
Hygge mengajak seseorang melakukan kebalikan dari kebiasaan tersebut. Berhenti sebentar bukan berarti malas.
Menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru, berbincang dengan orang terdekat, atau sekadar menikmati suasana rumah dapat menjadi bentuk perawatan diri yang sederhana.
Pada akhirnya, hidup yang lebih santai tidak selalu membutuhkan perubahan besar.
Terkadang, seseorang hanya perlu belajar menghargai kenyamanan kecil yang sebenarnya sudah ada di sekitarnya.
2. Pemandian Air Panas Hungaria: Bersantai Sambil Bersosialisasi
Hungaria memiliki tradisi pemandian air panas yang dikenal dengan istilah gyógyfürdő.
Menurut artikel YourTango, pemandian air panas telah menjadi bagian dari kehidupan sosial sekaligus rutinitas relaksasi masyarakat di sana.
Menariknya, aktivitas tersebut bukan hanya tentang berendam. Pemandian air panas juga menjadi tempat orang bertemu, berbincang, dan menghabiskan waktu bersama.
Dengan demikian, perawatan diri tidak selalu berarti mengisolasi diri dari orang lain.
Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari kebiasaan tersebut. Ketika seseorang terlalu sibuk, ia mungkin menganggap waktu bersosialisasi sebagai sesuatu yang harus dikorbankan demi pekerjaan.
Padahal, hubungan sosial yang sehat dapat menjadi bagian penting dari kehidupan yang seimbang.
Berendam dalam air hangat juga memberikan suasana yang memungkinkan tubuh dan pikiran melambat sejenak.
Seseorang tidak harus memikirkan email, pekerjaan, atau berbagai tuntutan selama beberapa waktu.
Tentu saja, manfaat kesehatan dari pemandian air panas tidak boleh digeneralisasi secara berlebihan.
Orang dengan kondisi kesehatan tertentu juga perlu berhati-hati terhadap paparan panas.
Namun sebagai inspirasi gaya hidup, tradisi Hungaria menunjukkan bahwa relaksasi dan hubungan sosial dapat berjalan bersama.
Anda tidak harus pergi ke pemandian air panas untuk menerapkannya.
Berkumpul bersama keluarga, menikmati waktu dengan teman dekat, atau mengobrol santai setelah bekerja juga bisa menjadi bentuk sederhana dari ritual tersebut.
3. Onsen Jepang: Mengubah Mandi Menjadi Ritual untuk Menenangkan Diri
Jepang memiliki tradisi onsen, yaitu pemandian air panas alami yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat.
YourTango menjelaskan bahwa onsen bukan sekadar tempat untuk membersihkan tubuh, tetapi juga berkaitan dengan pengalaman sosial dan spiritual.
Salah satu hal menarik dari budaya onsen adalah adanya aturan dan tata krama tertentu.
Pengunjung biasanya harus membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum masuk ke kolam, menjaga ketenangan, serta menghormati kenyamanan orang lain.
Ada pesan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: melakukan sesuatu dengan penuh perhatian dapat mengubah aktivitas biasa menjadi ritual yang menenangkan.
Mandi di rumah, misalnya, sering dilakukan dengan terburu-buru karena seseorang ingin segera kembali bekerja atau melakukan aktivitas lainnya.
Padahal, aktivitas tersebut dapat menjadi kesempatan untuk benar-benar berhenti sejenak.
Anda bisa mematikan notifikasi ponsel, mengurangi distraksi, menggunakan air dengan suhu yang nyaman, kemudian memberikan beberapa menit kepada diri sendiri tanpa memikirkan pekerjaan.
Konsep onsen juga mengingatkan bahwa ketenangan membutuhkan penghormatan terhadap ruang dan batas orang lain. Tidak semua waktu harus dipenuhi percakapan atau aktivitas.
Terkadang, berada dalam suasana tenang bersama orang lain tanpa harus banyak berbicara justru dapat menjadi pengalaman yang sangat menenangkan.
4. Fika dari Swedia: Berhenti Sejenak Tanpa Merasa Bersalah
Di Swedia terdapat konsep fika, sebuah kebiasaan mengambil waktu istirahat untuk menikmati kopi atau minuman bersama makanan ringan.
Namun makna fika lebih luas daripada sekadar minum kopi. YourTango menggambarkannya sebagai bagian dari kehidupan sosial yang dapat dilakukan bersama keluarga, teman, pasangan, maupun rekan kerja.
Hal yang menarik dari fika adalah adanya kesadaran bahwa istirahat merupakan bagian dari kehidupan, bukan gangguan terhadap produktivitas.
Dalam budaya kerja yang sangat sibuk, seseorang terkadang merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat.
Makan siang dilakukan sambil bekerja, kopi diminum sambil membuka email, bahkan waktu istirahat digunakan untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai.
Fika menawarkan perspektif yang berbeda. Ada waktu tertentu ketika seseorang benar-benar berhenti dari kesibukan untuk menikmati minuman, makanan, dan percakapan.
Kebiasaan ini dapat diterapkan tanpa harus meniru semuanya secara persis. Anda bisa menentukan waktu tertentu setiap hari untuk meninggalkan meja kerja, membuat kopi atau teh, kemudian menikmatinya tanpa membuka pekerjaan selama beberapa menit.
Jika dilakukan bersama orang lain, momen tersebut juga dapat menjadi kesempatan mempererat hubungan.
Pelajarannya sederhana: tidak semua waktu harus digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Terkadang, berhenti justru membuat seseorang kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar.
5. Perawatan Minyak Ayurveda dari India: Merawat Tubuh dengan Sentuhan dan Kesabaran
Tradisi Ayurveda di India juga memiliki berbagai praktik perawatan tubuh yang menggunakan minyak dan bahan alami.
YourTango menyoroti kebiasaan menggunakan minyak dalam perawatan rambut dan tubuh, termasuk pijat dengan minyak sebagai bagian dari rutinitas kesejahteraan keluarga.
Penggunaan minyak seperti minyak kelapa atau minyak wijen dapat menjadi bagian dari ritual perawatan diri yang dilakukan dengan lebih perlahan.
Dalam konteks budaya, perawatan semacam ini juga dapat menjadi aktivitas yang mempererat hubungan antara anggota keluarga.
Ada sesuatu yang menarik dari konsep tersebut. Perawatan diri tidak selalu harus dilakukan dengan terburu-buru hanya untuk mendapatkan hasil tertentu.
Proses menyentuh, memijat, merawat rambut, atau sekadar memberikan perhatian kepada tubuh dapat menjadi kesempatan untuk lebih sadar terhadap kondisi diri sendiri.
Di kehidupan modern, seseorang sering baru memperhatikan tubuh ketika sudah merasa sangat lelah.
Padahal, perawatan diri idealnya tidak harus menunggu sampai tubuh atau pikiran benar-benar kewalahan.
Meski demikian, penggunaan minyak pada kulit atau rambut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.
Tidak semua bahan alami cocok untuk semua jenis kulit, dan minyak tertentu dapat menyebabkan iritasi atau reaksi alergi.
Karena itu, ambil prinsip ritual perawatannya, bukan sekadar meniru produknya.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Berbagai Budaya Ini?
Kelima tradisi tersebut memiliki bentuk yang berbeda, tetapi terdapat satu benang merah yang cukup kuat: hidup yang lebih santai membutuhkan kesediaan untuk memperlambat ritme kehidupan.
Hygge mengajarkan menikmati kenyamanan sederhana. Pemandian air panas Hungaria menunjukkan bahwa relaksasi dapat dipadukan dengan hubungan sosial.
Onsen Jepang mengubah aktivitas mandi menjadi pengalaman yang lebih sadar. Fika mengajarkan pentingnya mengambil jeda, sedangkan tradisi perawatan minyak Ayurveda mengingatkan pentingnya memberikan perhatian kepada tubuh.
Tidak berarti semua tradisi tersebut harus ditiru secara persis. Setiap budaya memiliki konteks sejarah, sosial, dan nilai yang berbeda.
Yang bisa diambil adalah prinsip dasarnya: beri ruang bagi diri sendiri untuk berhenti, terhubung dengan orang lain, menikmati hal sederhana, dan merawat tubuh tanpa rasa bersalah.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, kemampuan untuk memperlambat diri mungkin justru menjadi salah satu bentuk perawatan diri yang paling berharga.
Hidup Lebih Santai Tidak Harus Mahal
Perawatan diri sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal dan membutuhkan banyak waktu.
Padahal, inspirasi dari berbagai budaya menunjukkan bahwa self-care dapat dimulai dari aktivitas yang sangat sederhana.
Membuat secangkir teh dan menikmatinya tanpa ponsel, mengobrol dengan orang terdekat, mandi dengan lebih tenang, membaca buku, atau menyediakan beberapa menit untuk duduk tanpa melakukan apa pun dapat menjadi langkah kecil untuk menciptakan ruang bagi diri sendiri.
Pada akhirnya, hidup lebih santai bukan berarti tidak memiliki kesibukan. Artinya, seseorang mulai belajar bahwa dirinya tidak harus selalu berada dalam keadaan terburu-buru.
Seperti yang tercermin dari berbagai tradisi yang dirangkum YourTango, ketenangan sering kali tidak ditemukan dengan pergi jauh, melainkan dengan belajar menikmati apa yang sudah ada di depan mata.