← Beranda
Vape dan Rokok Ternyata Tak Sama, Ini 4 Mitos Produk Tembakau Alternatif yang Perlu Diketahui
Rian Alfianto• Sabtu, 12 September 2026 | 21.34 WIB
Ilustrasi vape or electric cigarette. (Pixabay/Antara)

 

JawaPos.com - Vape dan rokok sama-sama berkaitan dengan nikotin, tetapi keduanya bekerja dengan cara yang berbeda.

Rokok menghasilkan asap melalui pembakaran tembakau, sedangkan vape menghasilkan aerosol dari pemanasan cairan.

Perbedaan mekanisme ini juga berlaku pada produk tembakau alternatif lainnya, sehingga tidak tepat jika seluruhnya dianggap identik dengan rokok.

Pemahaman tersebut penting karena istilah produk tembakau alternatif mencakup sejumlah produk dengan karakteristik berbeda, termasuk produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektronik atau vape, serta kantong nikotin.

Di tengah semakin luasnya pembahasan mengenai produk-produk tersebut, masih ada sejumlah anggapan yang mencampuradukkan cara kerja, emisi, hingga aspek legalitasnya.

Lantas, apa saja yang sebenarnya mitos dan fakta?

1. Mitos: Produk tembakau alternatif bekerja sama seperti rokok

Faktanya, mekanisme setiap produk bisa berbeda.

Rokok konvensional menggunakan proses pembakaran tembakau. Ketika tembakau dibakar, proses tersebut menghasilkan asap dan berbagai senyawa yang terbentuk selama pembakaran.

Sementara itu, produk tembakau alternatif tertentu menggunakan pemanasan atau mekanisme lain. Karena itu, karakteristiknya tidak bisa begitu saja disamakan dengan rokok.

Akademisi Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB) Mohammad Khotib mengatakan, perbedaan tersebut perlu dipahami berdasar mekanisme masing-masing produk.

“Perbedaan mendasar dapat dilihat dari proses yang digunakan. Pada rokok terjadi pembakaran tembakau, sementara produk tembakau alternatif tertentu menggunakan proses pemanasan atau mekanisme lain yang tidak sama dengan pembakaran,” ujar Khotib, Jumat (11/9).

Dengan kata lain, istilah produk tembakau alternatif bukan berarti semua produk tersebut menggunakan teknologi dan menghasilkan emisi dengan cara yang sama.

2. Mitos: Sama-sama menghasilkan emisi berarti sama dengan asap rokok

Faktanya, emisi dari setiap produk perlu dilihat dari proses pembentukannya.

Pada rokok, emisi terbentuk dari proses pembakaran.

Temperatur tinggi dalam proses tersebut memicu berbagai reaksi kimia yang menghasilkan senyawa tertentu.

Khotib menjelaskan, pembakaran tembakau berkaitan dengan terbentuknya berbagai senyawa toksik dan karsinogenik.

“Pembakaran merupakan proses yang menghasilkan berbagai senyawa toksik dan karsinogenik dari tembakau. Karena itu, penting membedakan antara produk yang menggunakan pembakaran dan produk yang menggunakan mekanisme lain,” kata Khotib.

Namun, perbedaan antara asap dan emisi dari produk alternatif tidak boleh dimaknai sebagai jaminan bahwa produk alternatif bebas risiko.

Masing-masing produk tetap perlu dinilai berdasarkan kandungan, paparan, dan karakteristik emisinya.

Artinya, pembahasan yang lebih tepat bukan sekadar apakah suatu produk menghasilkan asap atau tidak, melainkan bagaimana emisi tersebut terbentuk dan apa saja yang terkandung di dalamnya.

3. Mitos: Vape menghasilkan asap seperti rokok

Faktanya, vape menghasilkan aerosol dari pemanasan liquid, bukan asap hasil pembakaran tembakau.

Pada rokok elektronik atau vape, cairan liquid dipanaskan hingga menghasilkan aerosol. Inilah yang kemudian dihirup pengguna.

Peneliti senior dari National Autonomous University of Mexico (UNAM), Dr. Roberto Sussman, menjelaskan karakteristik partikel aerosol yang dihasilkan vape.

“Aerosol vape yang dihembuskan ini mudah menguap. Tetesannya dapat dengan mudah menguap dan gasnya menyebar dalam waktu sangat singkat, kurang dari satu menit,” ujarnya.

Perbedaan antara aerosol dan asap menjadi penting karena keduanya terbentuk melalui mekanisme yang berbeda. Meski demikian, keberadaan aerosol tidak berarti vape aman atau tanpa risiko.

Salah satu kajian yang kerap dikutip dalam pembahasan mengenai rokok elektronik adalah Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products yang diterbitkan Public Health England (PHE) pada 2018.

Kajian tersebut memperkirakan paparan risiko dari rokok elektronik lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Temuan tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteksnya.

Lebih rendah risikonya dibandingkan rokok tidak sama dengan bebas risiko, sehingga produk nikotin tidak seharusnya digunakan oleh orang yang sebelumnya tidak merokok, terutama anak-anak dan remaja.

4. Mitos: Legalitas produk tidak terlalu penting bagi konsumen

Faktanya, konsumen perlu mengetahui asal-usul dan status legal produk yang digunakan.

Selain memahami mekanisme produk, aspek legalitas juga menjadi bagian dari informasi yang penting bagi konsumen dewasa.

Ketua Umum Asosiasi Konsumen Vape Indonesia Paido Siahaan mengatakan, edukasi mengenai produk legal dan ilegal diperlukan karena produk ilegal dapat dimodifikasi atau disalahgunakan.

“Produsen, asosiasi, dan pemerintah perlu bersama-sama menyampaikan informasi yang sederhana, konsisten, dan berbasis fakta. Konsumen juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai produk yang mereka gunakan,” ujar Paido.

Menurut Paido, tanggung jawab edukasi tidak hanya berada di tangan konsumen.

Produsen perlu menyampaikan informasi produk secara tepat, asosiasi berperan membantu memberi pemahaman, sedangkan pemerintah memiliki fungsi dalam komunikasi publik dan pengawasan.

Bagi konsumen dewasa yang sudah menggunakan produk nikotin, informasi mengenai asal-usul dan legalitas dapat membantu memastikan produk yang diperoleh memiliki informasi yang jelas.

Sementara itu, masyarakat yang tidak merokok tidak dianjurkan untuk mulai menggunakan produk nikotin.

Jangan Samakan Semua Produk, Jangan Abaikan Risikonya

Rokok, produk tembakau yang dipanaskan, vape, dan kantong nikotin memiliki mekanisme yang berbeda.

Rokok menggunakan pembakaran, sementara sejumlah produk alternatif menggunakan pemanasan atau mekanisme lain.

Perbedaan tersebut penting untuk dipahami agar masyarakat tidak membuat kesimpulan hanya berdasarkan anggapan bahwa semua produk tembakau bekerja dengan cara yang sama.

Namun, membedakan produk juga bukan berarti mengabaikan risikonya.

Tidak ada produk tembakau atau nikotin yang bebas risiko. Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan, sementara dampak kesehatan dapat berbeda bergantung pada produk dan pola paparannya.

Karena itu, pertanyaan mengenai produk tembakau alternatif sebaiknya tidak berhenti pada 'apakah ini sama dengan rokok?'.

Konsumen juga perlu memahami bagaimana produk tersebut bekerja, apa yang dihasilkan, bagaimana tingkat paparannya, serta apakah produk tersebut legal dan memiliki informasi yang jelas.

Dengan begitu, masyarakat dapat membedakan fakta dari mitos tanpa terjebak pada dua pandangan yang sama-sama berlebihan: menganggap semua produk tembakau identik dengan rokok, atau sebaliknya menganggap produk alternatif sebagai sesuatu yang sepenuhnya aman.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah