← Beranda
Dokter Ungkap Kemungkinan Penyebab Siswa Berastagi Hilang Ingatan Usai Keracunan MBG
Tazkia Royyan HikmatiarRabu, 9 September 2026 | 04.08 WIB
Feby br Purba, siswi keracunan MBG kembali mendapat perawatan medis karena racun jamur masuk ke saraf kepalanya. (Sumut Pos)

JawaPos.com - Dokter Umum Klinik Utama Diagnos Healthcare Batam dr. Ferry Kusmalingga mengungkap sejumlah kemungkinan penyebab siswa SMK di Berastagi alami hilang ingatan atau amnesia setelah diduga mengalami keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut dr. Ferry, kondisi berupa infeksi yang menyerang sistem saraf otak akibat keracunan makanan hingga menyebabkan amnesia merupakan persoalan yang kompleks.

“Untuk membahas kemungkinan kenapa adanya case infeksi ke saraf otak atau amnesia sebenarnya sangat kompleks. Kemungkinannya banyak," ujarnya dalam unggahan di Threads, dikutip Selasa (8/9).

Baca Juga: Purbaya Berencana Pakai Data Lama untuk Salurkan Bansos jika BPS Masih Nggak Akurat

Mulany, dr. Ferry menyoroti hasil pemeriksaan laboratorium dari kasus keracunan MBG di salah satu SMA di Berastagi. Berdasarkan hasil lab yang dibacanya, terdapat beberapa temuan positif dari sampel makanan maupun muntahan siswa.

Pada sampel nasi dari sekolah ditemukan Bacillus cereus. Sementara itu, sampel ikan dan saus dari sekolah serta sampel muntah siswa menunjukkan adanya Staphylococcus aureus. Adapun pada sampel melon ditemukan E. coli.

Sedangkan pemeriksaan terhadap Salmonella pada sampel yang diperiksa menunjukkan hasil negatif.

Baca Juga: Tak Disangka Jadi Sultan, 8 Weton Ini Dipercaya Punya Peruntungan Finansial Besar

Meski demikian, dr. Ferry mengingatkan bahwa panel pemeriksaan laboratorium tersebut hanya mencari beberapa jenis bakteri, yakni Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.

Padahal, keracunan makanan secara massal dapat disebabkan oleh lebih banyak faktor. Penyebabnya bisa berupa virus, bakteri lain, parasit, toksin, kontaminasi bahan kimia, pestisida hingga logam.

Staphylococcus aureus Bisa Hasilkan Toksin

dr. Ferry menjelaskan, salah satu penyebab keracunan yang sudah ditemukan dalam pemeriksaan adalah Staphylococcus aureus. Bakteri tersebut dapat mencemari makanan melalui tangan penjamah makanan, kulit maupun hidung.

Bakteri kemudian dapat berkembang biak apabila makanan disimpan pada suhu yang tidak sesuai. Dalam kondisi tersebut, Staphylococcus aureus dapat menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan keracunan makanan.

“Staphylococcus aureus dapat mencemari makanan melalui tangan penjamah makanan, kulit atau hidung, kemudian berkembang biak apabila makanan disimpan pada suhu yang tidak tepat,” jelasnya.

Menurut dr. Ferry, toksin yang dihasilkan Staphylococcus aureus bersifat tahan panas. Artinya, toksin tersebut masih dapat menyebabkan keracunan meskipun bakterinya sudah mati setelah makanan melalui proses pemanasan.

Baca Juga: Rekor 47 Laga Tak Terkalahkan Al Hilal Terhenti, Simone Inzaghi Minta Maaf usai Dibantai Neom 0-2

Keracunan akibat toksin tersebut dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti muntah hebat, mual, kram perut dan diare.

Bacillus cereus Juga Ditemukan pada Nasi

Selain Staphylococcus aureus, Bacillus cereus juga ditemukan dalam sampel nasi dari sekolah.

dr. Ferry menerangkan bahwa Bacillus cereus merupakan bakteri pembentuk spora yang dapat mencemari makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi, termasuk nasi, pasta dan mi.

Bakteri tersebut kerap dikaitkan dengan makanan yang dimasak dalam jumlah besar, kemudian dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang atau tidak disimpan kembali dengan cara yang tepat.

Baca Juga: Resep Kebab Ayam Gurih dan Praktis, Sekali Bikin Bisa Disimpan untuk Bekal

Bacillus cereus juga dapat menghasilkan toksin yang tidak mudah hilang meskipun makanan dipanaskan kembali. Toksin tersebut dapat memicu muntah maupun diare akut.

Dehidrasi hingga Sepsis Perlu Ditelusuri

Lantas, bagaimana kondisi keracunan dapat berkaitan dengan gangguan ginjal hingga masalah pada saraf otak?

dr. Ferry mengatakan terdapat berbagai kemungkinan lain yang perlu diperiksa. Salah satunya adalah dehidrasi berat akibat diare dan muntah yang terjadi terus-menerus.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekanan darah turun. Ketika aliran darah menuju ginjal berkurang, pasien dapat mengalami cedera ginjal akut.

Baca Juga: Tak Gentar Meski Dihina, 4 Shio Ini Diprediksi Bangkit dan Dihujani Rezeki

“Lalu ada juga berbagai kemungkinan lain seperti dehidrasi berat, diare berat, muntah terus-menerus, tekanan darah turun. Ketika aliran darah ke ginjal berkurang, bisa menyebabkan cedera ginjal akut juga,” tuturnya.

Sementara terkait dugaan infeksi yang menyerang saraf otak dan menyebabkan gangguan ingatan, dr. Ferry menilai kondisi pasien perlu diperiksa lebih lanjut, termasuk kemungkinan terjadinya syok atau sepsis.

Menurutnya, pemeriksaan lebih mendalam diperlukan untuk mengetahui rangkaian penyebab hingga pasien mengalami kondisi serius tersebut. Dengan demikian, keberadaan bakteri dalam sampel makanan tidak serta-merta dapat menjadi satu-satunya penjelasan mengenai gangguan saraf atau amnesia yang dialami siswa.

Ferry juga berharap Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi serius terhadap pelaksanaan program MBG agar kasus keracunan serupa tidak kembali terjadi.

“Semoga BGN segera menindak dan mengevaluasi serius program ini. Satu kasus keracunan sudah terlalu banyak. Saya berharap tidak ada lagi kasus seperti ini. Anak-anak adalah mutiara hati setiap orang tuanya,” pungkasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo