← Beranda
Tren Stroke Bergeser ke Usia Produktif: Dipengaruhi Gaya Hidup
Ardini PramithaSelasa, 8 September 2026 | 00.55 WIB
Dokter Spesialis Saraf bagian intervensi katerisasi stroke RS Kemenkes Surabaya (RSUP), dr Locoparta Agung. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)

JawaPos.com - Stroke yang selama ini identik dengan penyakit usia lanjut mulai menunjukkan pergeseran. 

Pasien stroke kini mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, termasuk mereka yang berusia 30 tahunan.

Hal itu diungkapkan oleh Dokter Spesialis Saraf bagian intervensi katerisasi stroke RS Kemenkes Surabaya (RSUP), dr Locoparta Agung ditemui, Senin (7/9). 

Baca Juga: Klarifikasi DPRD Kota Malang Soal Pernyataan Penghentian MBG

“Pergeseran tren pasti jelas, karena di sini pasien-pasien usia 30 tahun sudah terkena stroke, mau stroke sumbatan, stroke perdarahan. Trennya jelas,” kata Locoparta.

Dokter Locoparta mengungkapkan gaya hidup menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke pada usia produktif. 

Kesibukan pekerjaan, kurang tidur, kebiasaan merokok, hingga pola makan yang tidak sehat membuat banyak orang mengabaikan pemeriksaan kesehatan rutin.

“Usia produktif itu pasti dia di bawah pekerjaan, kurang tidur, pekerjaan banyak sehingga dia tidak meluangkan waktu untuk skrining gula darah, tekanan darah, kolesterol,” ujarnya.

Baca Juga: 13 Langkah Lindungi Anak dari Abu Vulkanik Menurut Dokter Anak

Dia juga memprediksi kasus stroke pada usia produktif masih berpotensi meningkat apabila perubahan gaya hidup tidak segera dilakukan. 

Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, merokok, kurang aktivitas fisik, serta tidak mengontrol tekanan darah, gula darah dan kolesterol menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.

“Prediksinya akan terus naik. Sekarang anak zaman sekarang, remaja, pemuda, kalau makan fast food misalnya, tidak bisa pulang dari kantor kemudian pesan makanan. Makanan fast food itu juga akan menyebabkan gula darah dan kolesterol yang tinggi,” tuturnya.

Dia menjelaskan, stroke tidak selalu ditandai dengan kelumpuhan atau kelemahan separuh tubuh. Gejala yang muncul bergantung pada bagian otak yang terdampak.

Gangguan motorik berupa tubuh mendadak lemas pada salah satu sisi menjadi gejala yang paling sering ditemui. Namun, stroke yang menyerang bagian otak tertentu juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan mendadak.

“Serangan stroke yang paling sering adalah mengenai motorik, gangguan gerak. Lemas separuh, itu yang paling sering,” katanya.

Baca Juga: Iliman Ndiaye Ungkap Alasan Bergabung dengan Man City

Selain berdampak pada kondisi fisik, stroke pada usia produktif juga dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien dan keluarganya. 

Pasien yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga dapat kehilangan kemampuan untuk bekerja setelah mengalami stroke.

Dokter Locoparta menyebut kondisi tersebut kerap membuat pasangan maupun keluarga pasien mengalami tekanan emosional karena harus menghadapi proses perawatan dalam jangka panjang.

“Stroke itu tidak hanya menyerang fisik, menyerang psikis juga. Psikisnya pasien, dia ini kapan saya sembuh? Psikis istrinya atau keluarganya, ini sampai kapan saya merawat pasien? Sampai kapan bisa bekerja lagi menjadi tulang punggung keluarga,” paparnya.

Baca Juga: Inter Milan Sukses Menang Comeback atas Napoli

Untuk menekan risiko stroke sejak usia muda, ia mengingatkan masyarakat memperhatikan empat hal utama, yakni tidur atau istirahat yang cukup, aktivitas fisik, menghindari rokok, serta menjaga pola makan.

Ia menyarankan waktu tidur malam sekitar enam hingga delapan jam. Aktivitas fisik juga perlu dilakukan secara rutin, termasuk beraktivitas di luar ruangan pada pagi hari.

“Yang paling tinggi itu tidur, istirahat malam. Paling tidak enam sampai delapan jam kita istirahat. Yang kedua adalah aktivitas,” ujarnya.

Sementara itu, kebiasaan merokok juga harus dihindari. Bahkan, paparan asap rokok dari lingkungan sekitar tetap perlu diwaspadai. Faktor terakhir adalah pola makan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan, termasuk membatasi makanan tinggi garam, gula, maupun lemak.

“Kalau tensi ya asin, kalau diabetes ya manis, kalau kolesterol ya jeroan,” pungkasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo