← Beranda
Polusi dan Sinar UV Bisa Ganggu Skin Barrier, Ini Cara Menjaga Ketahanan Kulit
Rian AlfiantoSenin, 7 September 2026 | 21.41 WIB
Ilustrasi dokter memberikan penjelasan mengenai pentingnya menjaga kesehatan kulit. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Paparan polusi, sinar ultraviolet (UV), perubahan cuaca, hingga aktivitas sehari-hari dapat memengaruhi kesehatan kulit.

Karena itu, menjaga kulit tidak cukup hanya dengan memilih produk perawatan, tetapi juga perlu memperhatikan kemampuan skin barrier dalam mempertahankan fungsi perlindungannya.

Persoalan tersebut semakin relevan ketika masyarakat menghadapi paparan lingkungan secara terus-menerus.

Baca Juga: Paparan Abu Vulkanik Picu Gangguan Pernapasan Akut Anak, Cek Gejalanya

Konsep ini dikenal sebagai exposome, yakni keseluruhan paparan dari lingkungan dan gaya hidup yang dapat memengaruhi kondisi tubuh, termasuk kulit.

Ketika skin barrier mengalami gangguan, kulit dapat menjadi lebih sensitif dan rentan terhadap berbagai masalah.

Kondisi tersebut membuat upaya mempertahankan fungsi pelindung kulit menjadi bagian penting dari perawatan kulit, terutama bagi mereka yang sehari-hari berhadapan dengan polusi, paparan matahari, perubahan suhu, maupun faktor lingkungan lainnya.

Baca Juga: Lansia Paling Rentan terhadap Abu Erupsi Anak Krakatau, Jumlahnya Capai 3,3 Juta Jiwa

Skin barrier bukan sekadar soal kulit terlihat sehat

Skin barrier merupakan salah satu sistem pertahanan utama kulit.

Fungsinya antara lain membantu mempertahankan kelembapan sekaligus melindungi kulit dari berbagai paparan eksternal.

Gangguan pada fungsi tersebut dapat membuat kulit lebih mudah mengalami kekeringan, sensitif, atau tidak nyaman.

Karena itu, perawatan kulit sebaiknya tidak hanya diarahkan untuk mengatasi masalah yang terlihat di permukaan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan ketahanan skin barrier.

Topik mengenai ketahanan kulit di tengah berbagai paparan lingkungan menjadi salah satu pembahasan dalam Aruna International Summit 2026 yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) pada 4–5 September 2026 di Raffles Hotel Jakarta.

Salah satu seminar yang dibahas adalah Building Resilient Skin in the Exposome Era: Advancing Evidence-Based Barrier Repair.

Baca Juga: Waspada Abu Vulkanik! Badan Geologi Ungkap Bahayanya bagi Paru-paru, Mata, Kulit dan Air

Pembahasan ini menyoroti pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam menjaga serta membantu memperbaiki fungsi skin barrier di tengah berbagai tantangan lingkungan.

Perawatan kulit tidak bisa hanya mengandalkan bahan aktif

Banyaknya pilihan skincare membuat masyarakat semakin mudah menemukan produk dan bahan aktif untuk berbagai kebutuhan kulit.

Namun, banyak pilihan juga berarti konsumen perlu lebih kritis dalam menilai keamanan, efektivitas, serta tolerabilitas suatu produk.

Baca Juga: Uruguay Tetapkan Status Darurat Kesehatan akibat Flu Burung

Pendekatan evidence-based skincare menempatkan data ilmiah dan penelitian klinis sebagai salah satu dasar dalam menilai manfaat sebuah formulasi.

Dengan pendekatan ini, keputusan perawatan tidak semata-mata didasarkan pada tren atau popularitas suatu kandungan.

“Ketahanan kulit tidak hanya ditentukan oleh satu kandungan aktif. Formulasi yang durable, aman, dan nyaman untuk kulit sensitif juga menjadi bagian penting dari perawatan kulit,” ujar dr. Heru Nugraha, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, selaku Medical Advisor Facerinna.

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan DHA pada Anak Usia Sekolah agar Fungsi Otak Optimal

Menurut Heru, penelitian mengenai skin barrier menjadi penting untuk memahami bagaimana sebuah formulasi bekerja terhadap kondisi kulit.

“Riset Facerinna menunjukkan adanya perbaikan pada skin barrier dan berbagai parameter yang berkaitan dengan kesehatan skin barrier. Temuan seperti ini penting untuk terus mendorong pendekatan perawatan kulit yang berbasis bukti,” lanjutnya.

Kulit berjerawat juga perlu memperhatikan kondisi barrier

Perawatan kulit berjerawat selama ini sering berfokus pada pengendalian masalah utama, seperti produksi sebum atau munculnya lesi jerawat.

Namun, kondisi skin barrier tetap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan kulit secara keseluruhan.

Baca Juga: Wujudkan Nol Kematian pada 2030, Kenali Tanda Bahaya DBD, Jangan Lengah saat Demam Turun

Penggunaan produk atau bahan aktif tertentu tanpa mempertimbangkan toleransi kulit berpotensi membuat kulit terasa semakin kering atau sensitif.

Karena itu, pendekatan perawatan yang lebih menyeluruh perlu mempertimbangkan keseimbangan antara menangani masalah kulit dan mempertahankan fungsi pelindungnya.

Konsep resilient skin kemudian menjadi relevan.

Baca Juga: Cara Ajarkan Anak Hidup Bersih dan Sehat dari Sekolah, Bukan Cuma Cuci Tangan

Kulit yang sehat bukan hanya kulit yang terlihat baik, tetapi juga kulit yang mampu mempertahankan fungsi dan kondisinya ketika menghadapi berbagai tekanan dari lingkungan.

Mengapa masyarakat perlu lebih kritis memilih skincare?

Meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan skin barrier menunjukkan bahwa rutinitas skincare seharusnya tidak hanya mengejar hasil visual dalam waktu singkat.

Konsumen perlu memperhatikan apakah sebuah produk memiliki dasar ilmiah yang memadai, bagaimana tingkat keamanan dan tolerabilitasnya, serta apakah formulanya sesuai dengan kondisi kulit masing-masing.

Baca Juga: Teknologi AI Percepat Layanan Stroke di Indonesia

Penelitian klinis dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai performa dan tolerabilitas suatu formulasi.

Dalam pengembangan produk dermatologi, data tersebut dapat digunakan untuk memahami bagaimana formulasi bekerja pada kebutuhan kulit tertentu, termasuk kulit berjerawat maupun kulit dengan fungsi barrier yang perlu dipulihkan.

Pada akhirnya, kesehatan kulit tidak berdiri sendiri.

Faktor lingkungan yang dihadapi setiap hari ikut menjadi bagian dari tantangan kulit.

Baca Juga: Merokok Sulit Ditekan, Strategi Pengendalian Tembakau Dinilai Perlu Berubah

Karena itu, menjaga skin barrier perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya mempertahankan kesehatan kulit dalam jangka panjang, bukan sekadar solusi ketika masalah sudah muncul.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah