JawaPos.com – Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dapat memicu gangguan pernapasan akut pada anak mulai dari bersin, batuk, dan pilek hingga sesak napas. Mengenali gejalanya penting agar penanganan bisa segera dilakukan.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama pada anak yang memiliki riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis karena paparan abu dapat memicu serangan akut atau memperburuk penyakit yang sudah ada.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengatakan bahwa partikel abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan. Karena itu, orang tua perlu mengenali gejala gangguan pernapasan sejak dini agar anak segera mendapatkan pertolongan jika kondisinya memburuk.
"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas dr. Wahyuni, Senin (7/9).
Ia meminta orang tua tidak menganggap remeh gejala yang muncul setelah anak terpapar abu vulkanik. Gangguan pernapasan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, terutama pada anak yang masuk kelompok berisiko tinggi.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain napas anak menjadi lebih cepat dari biasanya, muncul tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, hingga penurunan saturasi oksigen.
"Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata dr. Wahyuni.
Selain anak dengan asma, alergi saluran napas, dan penyakit paru kronis, kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan.
Cara Lindungi Anak dari Abu Vulkanik
Mengingat tingginya risiko paparan abu vulkanik terhadap sistem pernapasan anak, IDAI melalui UKK Respirologi merekomendasikan sejumlah langkah perlindungan bagi orang tua.
Langkah paling ideal adalah mengungsikan anak ke lokasi yang jauh dari wilayah terdampak. Namun, jika hal tersebut tidak memungkinkan, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dengan kondisi ruangan tertutup rapat untuk mencegah abu vulkanik masuk.
Selain itu, membersihkan rumah dari abu vulkanik juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Anak sebaiknya dijauhkan dari area yang sedang dibersihkan agar tidak menghirup partikel abu yang kembali beterbangan.
Pembersihan sebaiknya menggunakan lap atau kain basah. Lantai dan benda yang akan dibersihkan juga dapat dibasahi terlebih dahulu sehingga partikel abu tidak mudah beterbangan ke udara.
Sebaliknya, menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel kembali menyebar dan meningkatkan risiko terhirup.
Jika anak terpaksa harus keluar rumah di tengah kondisi lingkungan yang terpapar abu vulkanik, orang tua perlu memastikan anak menggunakan masker khusus anak yang terpasang dengan baik. Masker membantu menyaring partikel abu agar tidak langsung masuk ke saluran pernapasan.
Pelindung mata seperti kacamata juga dianjurkan untuk mengurangi risiko iritasi mata akibat partikel abu vulkanik. Anak sebaiknya mengenakan pakaian tertutup untuk meminimalkan kontak langsung abu dengan kulit.
Setelah kembali dari luar rumah, anak perlu segera membersihkan diri dan mengganti pakaian untuk menghilangkan partikel abu yang menempel.
Adapun bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran napas, orang tua perlu memastikan obat-obatan rutin dan obat darurat yang biasa digunakan selalu tersedia. Paparan abu vulkanik dapat memperburuk iritasi saluran pernapasan dan memicu kekambuhan.
Orang tua juga perlu menghindarkan anak dari sumber polusi tambahan di dalam rumah. Asap rokok maupun asap dari aktivitas memasak dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan yang sudah terdampak abu vulkanik.
Baca Juga: Erupsi Panjang Gunung Anak Krakatau Berakhir, Status Masih Siaga Level III
Selain mengurangi paparan, kebutuhan cairan dan nutrisi anak juga harus diperhatikan. Pastikan anak cukup minum air putih untuk mencegah dehidrasi karena kondisi tersebut dapat memperberat gejala penyakit.
Pemberian makanan dengan gizi seimbang juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh anak selama menghadapi paparan polusi udara akibat abu vulkanik.