← Beranda
Rajin Meditasi dalam Jangka Panjang, Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Otak?
Leni Setya WatiSabtu, 5 September 2026 | 06.03 WIB
ilustrasi meditasi (magnific)

JawaPos.com – Meditasi sering kali dimulai dengan tujuan sederhana: ingin mengurangi stres, menenangkan pikiran, atau sekadar mencari jeda dari hiruk-pikuk kehidupan.

Namun, ketika dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun, praktik ini disebut dapat memberikan perubahan yang lebih dalam.

Dalam artikel Hack Spirit yang ditulis Lachlan Brown, penelitian ilmu saraf menunjukkan bahwa meditasi jangka panjang berkaitan dengan perubahan cara otak memproses perhatian, bahkan ketika seseorang sedang tidak bermeditasi.

Salah satu penelitian yang dibahas berasal dari University of Haifa dan diterbitkan pada 2024 di Frontiers in Human Neuroscience.

Penelitian tersebut membandingkan aktivitas otak para meditator berpengalaman dengan orang yang tidak memiliki pengalaman meditasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa meditator berpengalaman lebih sering berada dalam kondisi otak yang berkaitan dengan persepsi sensorik dan perhatian saat beristirahat.

Perubahan yang muncul bukan berarti seseorang tiba-tiba mampu berkonsentrasi tanpa gangguan. Justru pergeserannya berlangsung halus.

Menurut Hack Spirit, latihan jangka panjang dapat membuat perhatian terasa lebih ringan, membantu seseorang menyadari gangguan atau reaksi emosional lebih cepat, serta membuat pikiran lebih mudah kembali setelah mengembara. Dengan kata lain, kemampuan untuk “menyadari” sesuatu perlahan dapat menjadi respons yang lebih otomatis.

Menariknya, konsistensi disebut lebih penting daripada intensitas. Seseorang tidak harus bermeditasi berjam-jam atau menjalani retret panjang untuk mendapatkan manfaat.

Artikel tersebut menekankan bahwa latihan singkat tetapi dilakukan secara rutin dapat lebih berarti dalam jangka panjang dibandingkan sesi panjang yang hanya dilakukan sesekali.

Bahkan, perubahan yang terjadi sering kali baru terasa ketika seseorang melihat kembali bagaimana dirinya merespons situasi sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan tersebut dapat terlihat dari kemampuan mengambil jeda sebelum bereaksi. Seseorang mungkin tetap merasa marah, bosan, atau terdistraksi, tetapi menjadi lebih cepat menyadari kemunculan emosi maupun dorongan tersebut.

Hack Spirit menggambarkan proses ini bukan sebagai transformasi dramatis menjadi pribadi yang selalu tenang, melainkan perubahan kecil yang terakumulasi melalui latihan berulang.

Pada akhirnya, meditasi mungkin bukan tentang mengosongkan pikiran atau mengejar ketenangan sempurna. Pesan utama artikel Hack Spirit justru terletak pada kekuatan rutinitas sederhana: duduk, memperhatikan napas, menyadari pikiran yang mengembara, lalu kembali lagi.

Berulang kali melakukan hal yang tampak biasa itulah yang, berdasarkan penelitian yang dibahas, berpotensi mengubah cara perhatian bekerja dari waktu ke waktu.

EDITOR: Hanny Suwindari