← Beranda
Bukan Nikotin, Ini yang Membuat Rokok Berisiko Tinggi Memicu Kanker
Rian AlfiantoSelasa, 1 September 2026 | 16.50 WIB
Ilustrasi kandungan nikotin pada rokok. (Pod Salt UK)

 

JawaPos.com - Risiko kanker akibat merokok terutama berkaitan dengan paparan ribuan senyawa berbahaya yang terbentuk saat tembakau dibakar, bukan semata-mata karena nikotin.

Peneliti Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB) Mohammad Khotib menjelaskan, nikotin lebih dikenal karena sifatnya yang menyebabkan ketergantungan.

Sementara proses pembakaran menghasilkan berbagai senyawa toksik dan karsinogenik.

Baca Juga: Mengenal Operasi Bypass Jantung dengan Metode MICS, Waktu Pemulihan Lebih Cepat

Khotib menjelaskan, nikotin merupakan senyawa alkaloid alami yang terdapat pada tembakau dan sejumlah tanaman dari keluarga Solanaceae.

Senyawa tersebut bekerja pada sistem saraf pusat dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Menurut Khotib, nikotin tidak diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik oleh International Agency for Research on Cancer (IARC).

Baca Juga: Kemenkes Siapkan 4 Jurus Cegah Stunting Sejak 1.000 HPK Anak, Galakkan Gerakan Ayah Siaga

Sebaliknya, banyak risiko kanker pada perokok berkaitan dengan paparan senyawa yang terbentuk selama pembakaran tembakau.

Beberapa di antaranya adalah tobacco-specific nitrosamines (TSNAs), benzena, 1,3-butadiena, benzo[a]pyrene, dan formaldehida. Senyawa-senyawa tersebut dapat merusak DNA dan berkontribusi terhadap proses yang memicu kanker.

Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan karena memicu pelepasan dopamin pada sistem penghargaan di otak, yang menimbulkan rasa nyaman dan mendorong seseorang untuk terus merokok.

”Inilah yang membuat kebiasaan merokok sulit dihentikan. Meski demikian, mekanisme ketergantungan akibat nikotin berbeda dengan proses kerusakan atau mutasi sel yang dapat memicu kanker,” ujar Khotib dikutip Senin (31/8).

Saat Rokok Dibakar, Ribuan Senyawa Terbentuk

Persoalan utama pada rokok konvensional terletak pada proses pembakaran tembakau.

Ketika rokok dinyalakan, suhu pada ujungnya dapat mencapai sekitar 900 derajat Celsius.

Baca Juga: Tak Hanya Saat Cedera, Simak 5 Manfaat Fisioterapi untuk Menjaga Fungsi Tubuh

Kondisi tersebut memicu berbagai reaksi kimia yang menghasilkan lebih dari 7.000 senyawa dalam asap rokok.

Dari jumlah tersebut, sekitar 70 diketahui bersifat karsinogenik.

Tar, karbon monoksida, serta berbagai senyawa kimia beracun kemudian masuk dalam paparan asap rokok.

Paparan berulang terhadap zat-zat tersebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko berbagai penyakit terkait kebiasaan merokok, termasuk kanker.

Karena itu, Khotib menilai penting bagi masyarakat untuk tidak mencampuradukkan fungsi nikotin sebagai zat yang menyebabkan ketergantungan dengan senyawa hasil pembakaran yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan memicu kanker.

”Pemahaman yang tepat membantu masyarakat membedakan antara adiksi yang dipicu oleh nikotin, sedangkan kerusakan jaringan serta kanker dipicu paparan senyawa toksik dan karsinogen hasil pembakaran tembakau,” jelas Khotib.

Bukan Berarti Nikotin Aman

Penjelasan mengenai nikotin dan kanker tidak berarti nikotin merupakan zat yang aman.

Nikotin tetap memiliki risiko kesehatan, terutama karena sifatnya yang menyebabkan ketergantungan.

Khotib menyebut nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah serta berpotensi memengaruhi perkembangan otak pada remaja dan janin.

Karena itu, produk yang mengandung nikotin tidak diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, maupun kelompok rentan.

Dengan demikian, membedakan nikotin dari zat karsinogenik tidak seharusnya dipahami sebagai alasan untuk mengabaikan risiko produk tembakau dan nikotin.

Justru, pemahaman tersebut diperlukan agar masyarakat dapat melihat sumber bahaya secara lebih tepat.

Produk Tembakau Alternatif Perlu Dinilai Berdasar Bukti

Pembahasan mengenai risiko produk berbasis nikotin juga perlu dilakukan secara lebih spesifik.

Setiap produk memiliki karakteristik berbeda, sehingga penilaiannya perlu mempertimbangkan bagaimana produk tersebut digunakan dan jenis paparan yang dihasilkan.

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar) Ariyo Bimmo mengatakan, perbedaan tersebut perlu dilihat berdasar bukti ilmiah, bukan melalui penyamarataan seluruh produk berbasis nikotin.

”Produk tembakau alternatif memiliki karakteristik yang berbeda dari rokok, menyamakannya justru tidak proporsional. Jadi perbedaan yang dilihat itu ada atau tidaknya proses pembakaran, misalnya. Kemudian jenis emisi atau aerosol yang dihasilkan, kandungan produk, pola konsumsi, potensi paparan terhadap orang lain, kemudian pola konsumsi di masyarakat. Ini semua basisnya sains,” ujar Ariyo.

Menurut Ariyo, semakin banyak data dan penelitian yang tersedia akan membantu memberikan gambaran lebih lengkap mengenai karakteristik, profil paparan, dan risiko masing-masing produk.

”Kebijakan harus bertumpu pada data, kajian ilmiah, dan evaluasi berkala,” tandas Mohammad Khotib.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah