← Beranda
Kemenkes Siapkan 4 Jurus Cegah Stunting Sejak 1.000 HPK Anak, Galakkan Gerakan Ayah Siaga
Tazkia Royyan HikmatiarSabtu, 29 Agustus 2026 | 19.58 WIB
Tenaga kesehatan melakukan edukasi makan bergizi kepada seorang ibu dan balitanya usai peluncuran Program Puskesmas Siap SEDIA (Skrining, Edukasi, Intervensi Aksi Cegah Anemia dan Stunting) di UPTD Puskesmas Kampung Sawah, Tangerang Selatan, Banten, Senin (29/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan empat jurus kunci untuk mencegah stunting sekaligus menekan angka kematian ibu dan bayi melalui program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Upaya tersebut mencakup intervensi sejak sebelum kehamilan hingga anak berusia di bawah dua tahun (baduta), serta penguatan layanan kesehatan.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, keberhasilan program 1.000 HPK tidak hanya ditentukan oleh layanan kesehatan, tetapi juga kesiapan keluarga. Karena itu, Kemenkes turut mendorong keterlibatan ayah melalui Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan yang diwujudkan dalam konsep Ayah Siaga.

"Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (29/8).

Dante menjelaskan, periode 1.000 HPK merupakan fase penting dalam kehidupan anak yang dimulai sejak 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah kelahiran atau saat anak berusia di bawah dua tahun.

Pada periode tersebut, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat sehingga pemenuhan kesehatan dan gizi perlu menjadi perhatian utama. Program 1.000 HPK ditujukan untuk mencegah stunting, menurunkan kematian ibu dan bayi, serta memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.

Menurut Dante, intervensi tidak dapat dimulai ketika seorang perempuan sudah hamil. Persiapan harus dilakukan sejak masa remaja, calon pengantin, hingga pasangan usia subur (PUS).

 

Empat Intervensi Kunci 1.000 HPK

Dante memaparkan, pemerintah menetapkan empat target intervensi utama dalam program 1.000 HPK.

Pertama, fase sebelum hamil. Pemerintah menargetkan kesehatan remaja putri serta melakukan skrining bagi calon pengantin agar mereka memiliki kesiapan fisik sebelum memasuki kehamilan.

Kedua, masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir. Pada tahap ini, ibu hamil perlu mendapatkan pemeriksaan kehamilan, termasuk ultrasonografi (USG), serta memastikan proses persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan yang aman.

Ketiga, periode bayi di bawah dua tahun (baduta). Intervensi difokuskan pada pemberian ASI eksklusif, pemenuhan kebutuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Keempat, penguatan layanan kesehatan. Pemerintah memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki kesiapan dari sisi fasilitas maupun pembiayaan sehingga layanan kesehatan bagi ibu dan anak dapat berjalan optimal.

Namun, Dante menegaskan, berbagai intervensi tersebut tidak akan berjalan maksimal tanpa keterlibatan keluarga. Menurutnya, peran ayah dalam pemenuhan kesehatan anak perlu diperkuat, terutama selama periode 1.000 HPK.

Ia berharap konsep Ayah Siaga dapat mendorong para ayah tidak hanya hadir ketika istrinya menjalani persalinan, tetapi juga aktif mendampingi proses pemenuhan kesehatan dan gizi anak sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan.

Senada, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan menilai keberhasilan program pemerintah harus berujung pada penerapan nyata di lingkungan keluarga.

Ia mengibaratkan kolaborasi lintas sektor yang dilakukan pemerintah seperti botol dan tutupnya yang harus klop agar dapat diterapkan secara efektif di tingkat rumah tangga.

"Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time (waktu berkualitas) antara bapak, ibu, dan anak," kata Veronica.

Veronica juga mendorong keluarga kembali membiasakan konsumsi makanan rumahan sebagai bagian dari upaya membangun pola hidup sehat.

"Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat," pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati