JawaPos.com - Stroke merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat dan setepat mungkin. Semakin lama aliran darah ke otak terganggu, semakin besar risiko kerusakan jaringan otak.
Karena itu, mengenali gejala dan segera membawa pasien ke rumah sakit menjadi langkah penting. Namun, penanganan stroke juga tidak cukup hanya dengan mengetahui gejalanya. Dokter perlu memastikan apakah stroke disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah atau perdarahan di otak.
Pemeriksaan seperti CT Scan atau MRI dapat digunakan untuk membantu memastikan kondisi tersebut dan menentukan penanganan yang sesuai.
Baca Juga: 4 Travel Bandung-Tasikmalaya yang Bisa Jadi Pilihan, Cek Harga dan Titik Jemput
Pada pasien stroke, Dokter Spesialis Radiologi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Thio Ananda Steven, Sp.Rad, mengatakan bahwa dokter biasanya akan menilai kondisi secara menyeluruh, mulai dari gejala yang muncul, pemeriksaan fisik, hingga hasil pencitraan otak.
Pemeriksaan tersebut membantu tim medis mengetahui bagian otak yang terdampak serta menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien.
“Pada kasus stroke, ketepatan dan kecepatan diagnosis sangat penting. MRI 3 Tesla dapat memberikan gambaran otak yang lebih detail, sehingga membantu kami melihat area yang terdampak dengan lebih jelas,” ujar dr. Thio, Jumat (21/8).
Namun, hasil pemeriksaan radiologi bukan satu-satunya dasar dalam menentukan penanganan. Pasien tetap membutuhkan evaluasi dokter spesialis saraf dan, pada kondisi tertentu, dokter bedah saraf.
Dokter Spesialis Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Muhammad Ichsan Fachrudin Firdaus, Sp.BS, FIS menerangkan bahwa dalam kasus stroke, setiap pasien memiliki kondisi klinis yang berbeda.
"Ada pasien yang cukup ditangani dengan terapi medis dan observasi ketat, namun ada juga yang membutuhkan evaluasi bedah saraf, terutama bila terdapat perdarahan, pembengkakan otak, atau peningkatan tekanan di dalam kepala,” tuturnya.
Karena bersifat darurat, penanganan stroke membutuhkan koordinasi berbagai tim medis. Kesediaan Stroke Response Unit selama 24 jam yang terintegrasi dengan layanan emergency, ambulans, laboratorium, radiologi, kamar operasi, dan ruang perawatan intensif cukup penting.
Menurut dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, penanganan stroke akut membutuhkan kolaborasi cepat antara tim emergency, radiologi, dokter spesialis saraf, serta tim medis lainnya. Termasuk dukungan teknologi radiologi modern seperti MRI 3 Tesla berbasis AI yang membantu menghasilkan gambaran otak lebih jelas dan detail.
"Dukungan teknologi ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam menghadirkan penanganan stroke yang cepat, tepat, dan komprehensif sejak awal kedatangan pasien,” pungkasnya.
Dengan penanganan yang terintegrasi, pasien dapat segera menjalani evaluasi untuk menentukan jenis stroke dan mendapatkan terapi sesuai kondisi. Hal ini menegaskan pentingnya tidak menunda membawa pasien ke fasilitas kesehatan ketika muncul tanda-tanda stroke.