← Beranda
Pesan Dokter Kanker: 3 Hal Sederhana yang Wajib Dilakukan untuk Menurunkan Risiko Kanker
Cicilia MargaretthaJumat, 21 Agustus 2026 | 01.05 WIB
Deteksi dini risiko kanker. (Pexels)

 

 

JawaPos.com – Risiko seseorang dapat terkena penyakit kanker tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

Faktor usia, genetik, lingkungan, hingga kondisi biologis tertentu tetap dapat mempengaruhi kemungkinan seseorang mengalami penyakit tersebut.

Namun, sejumlah faktor risiko dapat dimodifikasi melalui kebiasaan sehari-hari. Mulai dari pola makan, paparan lingkungan, hingga pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan berbasis bukti.

Melansir dari laman YourTango pada Kamis (20/08), menyebutkan tiga hal sederhana yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terkena kanker.

Tiga langkah sederhana yang menurutnya penting dilakukan untuk membantu menurunkan risiko kanker.

Pesan utamanya bukan mencari pola hidup yang sempurna, melainkan membangun kebiasaan kecil yang dapat dilakukan secara konsisten.

Penelitian dan analisis global terbaru dari organisasi kesehatan dunia (WHO) dan International Agency for Research on Cancer (IARC) juga menunjukkan besarnya peran faktor yang sebenarnya dapat dicegah.

Analisis yang dirilis pada Februari 2026 memperkirakan sekitar 37 persen kasus kanker baru secara global pada 2022 berkaitan dengan penyebab yang dapat dicegah.

Faktor tersebut mencakup penggunaan tembakau, alkohol, indeks massa tubuh tinggi, kurang aktivitas fisik, infeksi tertentu, polusi, hingga paparan ultraviolet.

Berikut tiga hal sederhana yang disarankan untuk menurunkan risiko Anda terkena kanker:

1. Jangan terpaku pada satu makanan, perhatikan pola makan secara keseluruhan

Seorang ahli onkologi mengingatkan bahwa banyak orang terlalu fokus mempertanyakan satu jenis makanan yang dianggap dapat menyebabkan kanker.

Padahal, yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan dan kebiasaan yang dilakukan dalam jangka panjang.

Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, daging olahan, serta makanan ultra proses secara terus-menerus perlu menjadi perhatian.

Sebaliknya, perubahan sederhana seperti mengganti minuman manis dengan air putih, menambahkan sayuran ke dalam menu, atau memilih buah sebagai camilan dapat menjadi langkah awal yang lebih realistis.

WHO merekomendasikan pola makan sehat, menjaga berat badan, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin sebagai bagian dari strategi menurunkan risiko kanker.

National Cancer Institute (NCI) juga mencatat bahwa berat badan berlebih, pola makan, dan aktivitas fisik merupakan faktor yang terus diteliti dalam kaitannya dengan risiko sejumlah jenis kanker.

2. Periksa paparan radon dan risiko lingkungan di rumah

Hal kedua yang disoroti adalah radon, yaitu gas radioaktif alami yang dapat masuk dan terkumpul di dalam bangunan. Gas ini tidak dapat dilihat, dicium, atau dirasakan.

Meski pengujian dan penanganan radon lebih umum menjadi perhatian di sejumlah negara tertentu.

Pentingnya memperhatikan kualitas lingkungan tempat tinggal dan potensi paparan karsinogen yang tidak selalu terlihat.

3. Lakukan skrining meski tubuh terasa sehat

Skrining kanker bukan pemeriksaan yang sebaiknya ditunggu hingga seseorang mengalami keluhan.

Tujuan skrining adalah mendeteksi kanker atau perubahan pra kanker sedini mungkin, bahkan sebelum muncul gejala.

Jenis skrining yang dianjurkan dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, faktor risiko, dan pedoman kesehatan yang berlaku.

Pemeriksaan seperti skrining kanker payudara, serviks, kolorektal, dan paru bagi kelompok yang memenuhi kriteria.

WHO menegaskan bahwa pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat dapat membantu mengurangi beban kanker.

Secara keseluruhan, tiga pesan sederhana tersebut adalah memperbaiki pola hidup secara konsisten, memperhatikan risiko lingkungan, dan tidak menunda pemeriksaan yang direkomendasikan.

Tidak ada satu langkah yang dapat menjamin seseorang bebas dari kanker, tetapi pencegahan berbasis bukti dapat membantu menurunkan risiko.

Untuk keputusan terkait skrining atau faktor risiko pribadi, masyarakat sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sesuai kondisi dan riwayat masing-masing.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti