← Beranda
Berkeinginan Memulai Berolahraga Secara Konsisten? Cobalah 7 Tips yang Terbukti Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 21.38 WIB
seseorang yang berolahraga secara konsisten./Magnific/user25451090

JawaPos.com - Memulai olahraga mungkin terdengar sederhana. Anda hanya perlu memilih jenis olahraga, menentukan waktu, lalu melakukannya secara rutin. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Banyak orang bersemangat pada minggu pertama. Mereka membeli pakaian olahraga, membuat jadwal latihan, bahkan menetapkan target yang cukup tinggi.

Sayangnya, setelah beberapa minggu, motivasi mulai menurun. Kesibukan meningkat, rasa malas muncul, tubuh terasa lelah, dan olahraga akhirnya kembali ditinggalkan.

Jika Anda pernah mengalami hal tersebut, Anda tidak sendirian.

Masalahnya sering kali bukan karena seseorang tidak memiliki kemauan. Justru, salah satu tantangan terbesar dalam membangun kebiasaan olahraga adalah terlalu bergantung pada motivasi. Motivasi dapat naik dan turun. Sementara itu, kebiasaan yang bertahan lama membutuhkan sistem yang tetap berjalan bahkan ketika motivasi sedang rendah.

Dalam psikologi perilaku, kebiasaan terbentuk melalui pengulangan perilaku dalam konteks yang konsisten. Karena itu, daripada terus memaksa diri untuk “lebih disiplin”, pendekatan yang lebih efektif adalah membuat olahraga menjadi semakin mudah untuk dilakukan.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), terdapat tujuh tips yang dapat membantu Anda mulai berolahraga secara konsisten.

1. Jangan Memulai dengan Target yang Terlalu Besar

Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah menetapkan target yang terlalu ambisius.

Misalnya, seseorang yang selama berbulan-bulan tidak berolahraga tiba-tiba membuat rencana untuk pergi ke gym enam hari seminggu selama satu jam setiap sesi.

Di atas kertas, rencana tersebut terlihat bagus. Masalahnya adalah rencana itu mungkin terlalu berat untuk dipertahankan.

Ketika target terlalu besar, Anda membutuhkan energi fisik, waktu, dan motivasi yang lebih tinggi. Begitu ada satu hari yang sibuk atau kondisi tubuh sedang tidak prima, jadwal mudah terganggu. Setelah melewatkan satu atau dua sesi, seseorang dapat merasa gagal dan akhirnya berhenti sama sekali.

Karena itu, mulailah dengan sesuatu yang terasa sangat mudah.

Anda bisa berjalan kaki selama 10–15 menit, melakukan beberapa gerakan sederhana di rumah, melakukan peregangan, atau berolahraga ringan beberapa kali seminggu.

Tujuan awalnya bukan membuat tubuh langsung berubah secara drastis.

Tujuan pertama adalah membangun identitas dan kebiasaan: “Saya adalah orang yang rutin bergerak.”

Setelah kebiasaan mulai terbentuk, durasi dan intensitas olahraga dapat ditingkatkan secara bertahap.

Prinsip sederhananya adalah:

Mulailah dari sesuatu yang cukup mudah sehingga Anda tidak memiliki banyak alasan untuk melewatkannya.

2. Tentukan Waktu Olahraga yang Spesifik

“Besok saya akan olahraga” adalah niat yang terlalu umum.

Kapan tepatnya?

Pagi? Siang? Setelah bekerja? Sebelum makan malam?

Semakin samar rencana Anda, semakin besar kemungkinan olahraga ditunda. Dalam psikologi perilaku, salah satu cara membantu mengubah niat menjadi tindakan adalah membuat rencana yang spesifik mengenai kapan dan di mana perilaku akan dilakukan.

Daripada mengatakan:

“Saya akan olahraga lebih sering.”

Cobalah mengatakan:

“Setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 18.00, saya akan berjalan kaki selama 20 menit di sekitar rumah.”

Rencana tersebut jauh lebih konkret.

Anda juga dapat menghubungkan olahraga dengan aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan.

Contohnya:

Setelah bangun tidur → melakukan peregangan selama 5 menit.
Setelah pulang kerja → berjalan kaki selama 20 menit.
Setelah selesai minum kopi pagi → melakukan latihan ringan.
Setelah makan malam → berjalan santai selama 15 menit.

Dengan cara ini, olahraga tidak perlu selalu diingat dari awal. Anda menggunakan rutinitas yang sudah ada sebagai “pemicu” untuk melakukan kebiasaan baru.

3. Buat Olahraga Semudah Mungkin untuk Dimulai

Sering kali bagian tersulit dari olahraga bukan latihannya, melainkan memulainya.

Anda mungkin sudah berniat berolahraga, tetapi kemudian harus mencari pakaian, menyiapkan sepatu, mencari video latihan, pergi ke tempat olahraga, dan sebagainya.

Semakin banyak hambatan sebelum olahraga dimulai, semakin besar peluang Anda untuk menundanya.

Karena itu, kurangi hambatan tersebut.

Siapkan pakaian olahraga sejak malam sebelumnya. Letakkan sepatu di tempat yang mudah terlihat. Jika ingin berolahraga di rumah, tentukan terlebih dahulu video atau latihan yang akan dilakukan.

Tujuannya adalah membuat jarak antara “saya ingin olahraga” dan “saya mulai bergerak” menjadi sesingkat mungkin.

Bahkan aturan sederhana seperti “hanya memakai sepatu olahraga terlebih dahulu” dapat membantu.

Setelah sepatu terpasang, kemungkinan Anda untuk benar-benar berjalan atau berolahraga menjadi lebih besar.

Ini juga berkaitan dengan konsep activation energy dalam perubahan perilaku: semakin mudah langkah pertama dilakukan, semakin kecil hambatan psikologis untuk memulainya.

4. Pilih Jenis Olahraga yang Anda Nikmati

Jika Anda membenci aktivitas tertentu, memaksakan diri melakukannya berulang kali tentu bukan strategi yang ideal untuk membangun kebiasaan jangka panjang.

Olahraga tidak harus selalu berupa gym.

Anda dapat memilih:

berjalan kaki,
bersepeda,
berenang,
jogging,
bermain bulu tangkis,
menari,
mengikuti kelas olahraga,
latihan kekuatan di rumah,
hiking,
atau aktivitas fisik lainnya.

Yang terpenting adalah menemukan aktivitas yang cukup menyenangkan sehingga Anda bersedia melakukannya lagi.

Dalam psikologi, pengalaman yang menyenangkan dapat memperkuat kemungkinan suatu perilaku diulangi. Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Olahraga apa yang paling efektif?”

Pertanyaan yang juga penting adalah:

“Olahraga apa yang sanggup saya lakukan secara konsisten?”

Olahraga yang sedikit kurang ideal tetapi Anda lakukan secara rutin jauh lebih bermanfaat bagi kebiasaan Anda dibandingkan program latihan sempurna yang hanya dilakukan selama dua minggu.

5. Jangan Mengandalkan Motivasi Saja

Motivasi memang berguna, tetapi motivasi tidak selalu dapat diandalkan.

Ada hari ketika Anda merasa sangat bersemangat. Ada pula hari ketika pekerjaan menumpuk, tubuh lelah, cuaca tidak mendukung, atau Anda hanya ingin beristirahat.

Jika olahraga hanya dilakukan ketika Anda merasa termotivasi, konsistensinya akan sulit dipertahankan.

Karena itu, bangun sistem yang membuat Anda tetap bergerak meskipun motivasi sedang rendah.

Misalnya, buat aturan:

“Kalau saya tidak sanggup melakukan latihan 30 menit, saya tetap akan bergerak selama 5–10 menit.”

Dengan aturan tersebut, Anda tidak perlu memilih antara “latihan sempurna” atau “tidak melakukan apa-apa”.

Ada pilihan ketiga: melakukan versi minimum dari kebiasaan tersebut.

Hal ini penting karena mempertahankan kesinambungan perilaku sering kali lebih penting daripada memaksakan performa maksimal setiap saat.

Pada hari yang sangat sibuk, berjalan selama 10 menit tetap dapat menjadi kemenangan kecil.

6. Gunakan Prinsip “Jangan Lewatkan Dua Kali”

Tidak realistis mengharapkan diri Anda tidak pernah melewatkan olahraga.

Akan ada hari ketika Anda sakit, terlalu sibuk, bepergian, atau benar-benar membutuhkan istirahat.

Yang berbahaya bukan satu kali melewatkan olahraga.

Yang berbahaya adalah ketika satu kali terlewat berubah menjadi kebiasaan baru untuk berhenti.

Karena itu, gunakan aturan sederhana:

Boleh melewatkan sekali, tetapi usahakan jangan melewatkan dua kali berturut-turut.

Misalnya Anda biasanya berolahraga Senin, Rabu, dan Jumat, tetapi pada hari Senin pekerjaan membuat Anda tidak sempat berolahraga.

Jangan menyimpulkan:

“Minggu ini sudah gagal.”

Sebaliknya, anggap itu hanya satu sesi yang terlewat.

Kemudian kembali ke jadwal berikutnya.

Cara berpikir ini membantu mencegah pola “semua atau tidak sama sekali”. Anda tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi konsisten.

Konsistensi bukan berarti tidak pernah gagal.

Konsistensi berarti kembali melakukan kebiasaan setelah Anda berhenti sementara.

7. Lacak Kemajuan dan Berikan Penghargaan pada Diri Sendiri

Otak manusia merespons umpan balik.

Ketika Anda dapat melihat bahwa Anda telah melakukan sesuatu secara berulang, perilaku tersebut terasa lebih nyata dan memuaskan.

Karena itu, Anda dapat mencatat olahraga secara sederhana.

Misalnya:

Hari Aktivitas Durasi
Senin Jalan kaki 20 menit
Rabu Latihan kekuatan 15 menit
Jumat Jalan kaki 25 menit
Minggu Bersepeda 30 menit

Anda tidak harus menggunakan aplikasi yang rumit.

Kalender sederhana, catatan di ponsel, atau buku kecil juga sudah cukup.

Yang penting, Anda dapat melihat bukti bahwa Anda benar-benar melakukan apa yang telah direncanakan.

Namun, jangan hanya mengukur kemajuan berdasarkan berat badan atau bentuk tubuh.

Ada banyak indikator kemajuan lain:

Anda lebih jarang melewatkan latihan.
Durasi olahraga semakin panjang.
Anda merasa lebih bugar.
Aktivitas sehari-hari terasa lebih mudah.
Anda memiliki lebih banyak energi.
Anda mulai menikmati olahraga.
Anda semakin percaya diri dengan kemampuan fisik Anda.

Kemajuan seperti ini penting karena perubahan tubuh tidak selalu terjadi dengan cepat.

Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan

Salah satu perubahan pola pikir paling penting ketika mulai berolahraga adalah berhenti mengejar kesempurnaan.

Anda tidak harus berolahraga satu jam setiap hari.

Anda tidak harus selalu melakukan latihan dengan intensitas tinggi.

Anda juga tidak perlu menunggu sampai memiliki motivasi yang sempurna.

Yang Anda perlukan adalah sebuah kebiasaan yang cukup sederhana untuk dilakukan berulang kali.

Bayangkan dua orang.

Orang pertama berolahraga sangat keras selama dua minggu, kemudian berhenti karena merasa terlalu berat.

Orang kedua hanya berjalan kaki 20 menit tiga kali seminggu, tetapi mempertahankan kebiasaan tersebut selama berbulan-bulan.

Dalam jangka panjang, orang kedua kemungkinan memiliki fondasi kebiasaan yang jauh lebih kuat.

Inilah alasan mengapa memulai dari kecil bukan berarti Anda tidak serius.

Memulai dari kecil adalah strategi untuk membuat kebiasaan bertahan.

Contoh Rencana Sederhana untuk Pemula

Jika Anda benar-benar baru ingin mulai berolahraga, Anda bisa mencoba pola sederhana berikut:

Minggu pertama:

Senin: jalan kaki 10–15 menit.
Rabu: latihan ringan 10–15 menit.
Jumat: jalan kaki 15 menit.
Minggu: aktivitas santai yang Anda sukai.

Minggu kedua:

Senin: jalan kaki 15–20 menit.
Rabu: latihan kekuatan ringan 15 menit.
Jumat: jalan kaki 20 menit.
Minggu: bersepeda, berenang, atau aktivitas fisik lainnya.

Setelah tubuh dan rutinitas mulai terbiasa, durasi maupun intensitas dapat dinaikkan secara perlahan sesuai kemampuan.

Namun, bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, cedera, atau sudah lama tidak aktif dan ingin memulai latihan berat, sebaiknya pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional olahraga terlebih dahulu.

Penutup

Memulai olahraga secara konsisten bukan hanya persoalan memiliki kemauan yang kuat.

Ini juga merupakan persoalan bagaimana Anda merancang lingkungan, rutinitas, dan target sehingga perilaku tersebut mudah diulang.

Mulailah dengan target kecil. Tentukan waktu yang jelas. Kurangi hambatan untuk memulai. Pilih aktivitas yang Anda sukai. Jangan terlalu bergantung pada motivasi. Jika terlewat satu hari, segera kembali. Dan jangan lupa mencatat kemajuan Anda.

Pada akhirnya, tujuan terbesar bukanlah melakukan olahraga sebanyak mungkin dalam satu minggu.

Tujuan sebenarnya adalah membangun hubungan baru dengan aktivitas fisik sehingga olahraga menjadi bagian normal dari kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu menunggu hari Senin. Tidak perlu menunggu motivasi datang. Tidak perlu menunggu kondisi sempurna.

Mulailah dengan sesuatu yang kecil hari ini.

Sepuluh menit berjalan kaki tetap lebih baik daripada rencana olahraga satu jam yang tidak pernah dimulai.

EDITOR: Hanny Suwindari