JawaPos.com - Psikolog Universitas Indonesia (UI) Dian Wisnuwardhani membeberkan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk meredakan emosi sebelum seseorang mengambil tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Hal itu berkaca pada kasus pegawai outsourcing Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang membakar ruang rapat kantor karena kesal mukanya sering dijadikan sebagai stiker WhatsApp sebagai bahan olokan.
Menurut Dian, setiap orang seharusnya memiliki keterampilan untuk merespons kemarahan dengan cara yang lebih sehat. Kemampuan tersebut penting agar emosi negatif tidak dilampiaskan melalui tindakan yang dapat membahayakan.
Baca Juga: Strategi DFSK E5 Plus di Indonesia: SUV PHEV Rp400 Jutaan untuk Atasi Range Anxiety
"Orang itu harusnya punya keterampilan untuk bisa mengeluarkan emosi negatif yang dia miliki dengan cara-cara yang membuat dia juga memiliki hormon, yaitu hormon yang bisa dibilang buat bikin happy," kata Dian saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (13/8).
Berikut lima langkah yang dapat dilakukan untuk membantu meregulasi emosi saat marah:
1. Diam dan jangan langsung bereaksi
Dian menyarankan seseorang untuk mengambil jeda ketika ada situasi yang memicu kemarahan. Jangan langsung membalas perkataan atau melakukan tindakan ketika emosi sedang memuncak.
"Salah satu cara meregulasi emosi adalah satu, ketika orang membuat kita marah, kita diam dulu. Hitung 1 sampai 10, lalu mengambil napas teratur," tutur Dian.
Jeda tersebut dapat memberikan waktu bagi seseorang untuk menenangkan diri sebelum menentukan respons terhadap situasi yang membuatnya tersulut.
2. Lakukan teknik pernapasan 4-7-8
Setelah mengambil jeda, seseorang dapat melakukan teknik pernapasan 4-7-8. Caranya dengan menarik napas melalui hidung selama empat hitungan, menahannya selama tujuh hitungan, kemudian mengembuskan napas melalui mulut selama delapan hitungan.
Dian menyarankan teknik tersebut dilakukan sebanyak delapan kali repetisi. Selain pernapasan 4-7-8, teknik pernapasan yoga dengan suara hum juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menenangkan diri.
3. Alihkan emosi melalui aktivitas fisik
Kemarahan juga dapat dikelola dengan menyalurkannya melalui kegiatan fisik. Dian menyebut pilates dan yoga sebagai contoh aktivitas yang dapat dilakukan.
Aktivitas fisik dapat menjadi cara untuk mengeluarkan energi dan emosi negatif secara lebih konstruktif. Dengan demikian, seseorang tidak melampiaskan kemarahan melalui tindakan agresif atau impulsif.
4. Minum air putih dan ambil waktu untuk menenangkan diri
Dian juga menyarankan untuk minum air putih dalam posisi duduk ketika emosi sedang tinggi. Setelah itu, seseorang dapat memejamkan mata untuk memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran kembali tenang.
"Lebih baik lagi adalah minum air putih dalam posisi duduk, kemudian memejamkan mata dan ingat kebaikan yang dilakukan di hari itu adalah apa, dan ingat hal-hal baik yang kita punya dalam hidup ini adalah apa," jelasnya.
Menurut Dian, mengingat berbagai hal positif dalam kehidupan dapat membantu mengurangi kondisi negatif yang sedang dirasakan.
5. Belajar mengenali dan mengontrol emosi
Kemampuan regulasi emosi, kata Dian, seharusnya menjadi keterampilan yang dimiliki seseorang ketika sudah dewasa. Bukan berarti seseorang tidak boleh marah, tetapi harus mampu mengenali kemunculan emosi dan mengetahui cara meresponsnya.
"Orang harusnya sudah tahu ketika sudah dewasa bagaimana cara dia untuk mengontrol emosinya. Atau kalau emosi itu muncul, dia tahu bagaimana caranya merespons," kata Dian.
Dian menegaskan bahwa emosi manusia memang dapat berubah-ubah. Namun, setiap individu memiliki peran untuk mengenali kondisi emosinya dan memilih respons yang lebih baik.
"Pada dasarnya manusia itu sangat mudah berubah-ubah emosi, tapi kita sendiri yang paling tahu cara meregulasi emosi sehingga menjadi lebih baik," pungkasnya.
Sebelumnya, MFA mendatangi kantor sekitar pukul 06.30 WITA dengan membawa bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang dimasukkan ke dalam galon air minum. Kepada penyidik, MFA mengaku telah merencanakan aksi tersebut sejak malam sebelum kejadian.
Aksi tersebut disebut dipicu rasa sakit hati akibat perlakuan rekan-rekan kerjanya yang menurut pengakuan MFA kerap menjadikannya bahan lelucon. Foto dirinya yang diambil tanpa izin disebut kemudian disebarkan di grup percakapan internal kantor dan diubah menjadi stiker.