JawaPos.com - Memilih susu formula anak sebaiknya tidak berhenti pada melihat kandungan nutrisi yang tercantum di bagian depan kemasan. Selain memperhatikan komposisi, orang tua juga perlu mengetahui dari mana sumber susu berasal, bagaimana bahan baku diproses, serta bagaimana kualitas dan keamanannya dikendalikan hingga menjadi produk akhir.
Kebiasaan membaca label memang penting. Kandungan seperti protein, vitamin, mineral, maupun komponen nutrisi lainnya dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum membeli. Namun, informasi tersebut belum selalu memberikan gambaran lengkap mengenai perjalanan bahan baku yang digunakan.
Padahal, kualitas susu sebagai bahan dasar juga dipengaruhi oleh proses yang berlangsung jauh sebelum produk berada di rak toko.
Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, pediatri sosial, mengatakan, orang tua perlu melihat susu formula dari berbagai aspek, bukan hanya klaim yang tertera pada kemasan.
“Saat memilih susu formula anak, orang tua umumnya memperhatikan klaim pada label kemasan dan kandungan yang terdapat di dalam produk. Informasi tersebut tentu penting, tetapi kualitas suatu produk sebaiknya juga dipahami dari transparansi sumber bahan bakunya, bagaimana susu diproses, serta bagaimana kualitasnya dikendalikan pada setiap tahap," ujar dr. Rini melalui keterangannya, Selasa (11/8).
Menurut Rini, pengelolaan bahan baku dan proses produksi yang terintegrasi juga menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas produk secara konsisten.
“Pengelolaan sumber bahan baku dan proses produksi yang terintegrasi juga berperan dalam menjaga kualitas dan keamanan produk secara konsisten sejak dari sumbernya hingga menjadi produk akhir. Dengan informasi yang lebih lengkap, orang tua dapat membuat pilihan secara lebih terinformasi untuk anak,” lanjutnya.
1. Periksa Bahan Utama, Bukan hanya Klaim di Depan Kemasan
Hal pertama yang bisa dilakukan orang tua adalah membaca daftar komposisi secara langsung.
Bagian ini dapat memberikan informasi mengenai bahan yang digunakan dalam produk, termasuk bahan utama, sumber protein, jenis pemanis, serta bahan tambahan lainnya.
Jangan hanya mengandalkan tulisan besar yang ditampilkan pada bagian depan kemasan. Informasi yang lebih rinci biasanya terdapat pada daftar komposisi dan tabel informasi nilai gizi.
Orang tua juga dapat mencermati keberadaan bahan seperti sukrosa, maltodekstrin, sirup jagung, maupun perisa. Dengan begitu, pilihan tidak hanya didasarkan pada satu atau dua klaim nutrisi yang ditonjolkan produsen.
Yang perlu diperhatikan, daftar komposisi bukan berarti harus dibaca dengan mencari satu bahan yang dianggap paling baik. Konteks keseluruhan formulasi dan kebutuhan anak tetap perlu menjadi pertimbangan.
2. Cari Tahu dari Mana Sumber Susunya
Hal berikutnya yang sering luput adalah asal bahan baku susu.
Susu formula pada dasarnya tidak tiba-tiba muncul sebagai bubuk di dalam kemasan. Ada rangkaian proses yang dimulai dari sumber susu, termasuk kondisi peternakan, kesehatan sapi, kualitas pakan, pemerahan, pengumpulan, hingga pengangkutan bahan baku.
Karena itu, informasi mengenai sumber susu dapat membantu orang tua memahami bagaimana bahan dasar tersebut dikelola sebelum masuk ke fasilitas pengolahan.
Sistem produksi yang terintegrasi juga dapat mendukung keterlacakan bahan baku. Artinya, perjalanan bahan dapat lebih mudah ditelusuri dari sumber hingga proses produksi.
Bagi konsumen, transparansi semacam ini penting karena memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai bagaimana kualitas bahan baku dijaga sebelum menjadi produk akhir.
3. Perhatikan Bagaimana Susu Diproses
Sumber bahan baku yang baik tetap perlu diikuti dengan proses pengolahan dan pengendalian mutu yang tepat.
Setelah diperah, susu harus melewati sejumlah tahapan sebelum dapat digunakan dalam produk formula. Proses tersebut mencakup penerimaan bahan baku, pengolahan, pengujian, hingga pengemasan.
Salah satu tahapan penting adalah pemanasan. Proses ini diperlukan untuk membantu memastikan keamanan mikrobiologis produk. Namun, pengelolaannya juga perlu dilakukan secara tepat karena intensitas pemanasan dapat memengaruhi karakteristik sejumlah komponen dalam susu.
Pemanasan juga berkaitan dengan reaksi Maillard, yakni reaksi antara gula alami dalam susu dengan protein atau asam amino.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Food Science menunjukkan bahwa peningkatan intensitas pemanasan awal dapat meningkatkan sejumlah indikator reaksi Maillard pada susu bubuk dan susu yang telah direkonstitusi.
Artinya, pembicaraan mengenai proses produksi tidak sesederhana apakah sebuah produk menggunakan pemanasan atau tidak. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana setiap tahapan tersebut dikendalikan agar keamanan dan kualitas produk tetap terjaga.
“Proses pemanasan tetap diperlukan untuk menjaga keamanan produk. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar ada atau tidaknya proses pemanasan, tetapi bagaimana proses tersebut, bersama tahapan produksi lainnya, dikelola dan dikendalikan secara konsisten," tegas dr. Rini.
Ia juga menilai transparansi dapat membantu orang tua mendapatkan gambaran yang lebih utuh sebelum menentukan pilihan.
“Transparansi mengenai bahan dan proses produksi dapat membantu orang tua membuat pilihan berdasarkan informasi yang lebih utuh,” tambahnya.
Mengapa Perjalanan Susu Perlu Diketahui Orang Tua?
Memahami perjalanan susu dari sumber hingga menjadi produk akhir bukan berarti orang tua harus mengetahui seluruh detail teknis produksi.
Namun, informasi tersebut dapat membantu menjawab pertanyaan mendasar: apa bahan utamanya, dari mana asalnya, dan bagaimana kualitasnya dijaga?
Ketiga pertanyaan tersebut melengkapi kebiasaan membaca label yang selama ini lebih banyak berfokus pada kandungan nutrisi.
Dengan cara ini, orang tua tidak hanya melihat apa yang ada di dalam kemasan, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai proses di baliknya.
Terlebih, kualitas dan keamanan produk pangan tidak hanya ditentukan oleh satu tahapan. Pengelolaan bahan baku, proses produksi, pengujian, pengemasan, serta sistem pengendalian mutu merupakan rangkaian yang saling berkaitan.
Pada akhirnya, tidak ada satu informasi pada kemasan yang seharusnya menjadi satu-satunya dasar orang tua dalam memilih susu formula.
Klaim nutrisi tetap perlu diperhatikan, tetapi sebaiknya dibaca bersama daftar komposisi, informasi sumber bahan baku, serta keterangan mengenai proses produksi dan pengendalian kualitas.
Orang tua juga perlu menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak. Jika memiliki pertanyaan mengenai kebutuhan nutrisi atau jenis susu yang sesuai, konsultasi dengan dokter anak dapat menjadi langkah yang lebih tepat dibandingkan hanya mengandalkan klaim produk.
Terkait isu tersebut, AceKid mengajak orang tua memperluas kebiasaan mengecek komposisi dengan melihat sumber susu, perjalanan bahan baku, proses pengolahan, dan sistem pengendalian kualitas.
Produk tersebut disebut menggunakan susu segar sebagai komposisi utama melalui pendekatan One-Step Fresh Process, yakni pengolahan susu segar secara langsung menjadi formula dalam satu rangkaian proses produksi.
Terlepas dari merek yang dipilih, prinsip yang dapat diterapkan orang tua tetap sama: jangan hanya melihat bagian depan kemasan. Baca komposisinya, cari tahu sumber bahan bakunya, dan pahami bagaimana produk tersebut diproses serta dikendalikan kualitasnya.
Dengan informasi yang lebih lengkap, keputusan memilih susu formula dapat dilakukan secara lebih rasional dan sesuai kebutuhan anak.